
Makan malam bersama telah selesai, semua pindah ke ruang keluarga untuk menghabiskan waktu bersama. Sayangnya, hari ini kyai Yusuf tidak ada di rumah, beliau sedang pulang ke rumah keduanya di kota lain.
Ummi Sarah sedang bermain dengan putrinya Ninis karena Ninis sendiri ada jadwal mengajar di pondok putri saat ini. Aslam dan istrinya pun masih berada di rumah ini karena ada suatu hal yang harus ia selesaikan di pondok putra.
"Mas, mobilku sudah bisa di ambil apa belum ya?" tanya Aji ketika melihat Aslam meletakkan ponselnya
"Katanya sih besok sore sudah bisa di ambil, Ji." Aslam mengalihkan pandangannya ke arah Aji, "memangnya mau balik kapan?" tanya Aslam.
"Lusa Mas!" jawab Aji.
"loh kenapa buru-buru? memangnya Intan sudah kuat perjalanan jauh?" sahut ummi Sarah, wanita paruh baya itu mengalihkan pandangannya dari Izza—putrinya Ninis.
"Iya Dik, kenapa harus buru-buru?" timpal istrinya Aslam.
"Insyaallah saya sudah kuat kok Mi, Ning!" Intan menatap mertua dan kakak iparnya bergantian.
"Aji kan punya tanggung jawab di sana, Mi," ucap Aji seraya menatap ummi Sarah.
Setelah beberapa menit berbicara dengan Aji, kini Aslam dan istrinya pamit untuk keluar mencari keperluan yang di butuhkan untuk acara di pondok putra. Kini, hanya ada ummi Sarah, Aji dan Intan di ruang keluarga. Sepasang pengantin baru itu sedang asyik menggoda Izza, hingga balita itu mulai lelah dan menangis.
"Gus! jangan begitu! kasian atuh!" Intan menarik tangan Aji agar melepaskan mainan Izza yang di rebut Aji.
"Wah ... wah ... wah!" suara Ninis terdengar dari pintu samping. Wanita itu berkacak pinggang di hadapan Aji.
"Izza ... gigit Om Aji, Nak!" ujar Ninis setelah duduk di samping putrinya, ia mengangkat tubuh Izza untuk di letakkan di atas pangkuannya.
Kedatangan Ninis menambah kehangatan di ruang keluarga itu, Aji semakin gencar menggoda keponakannya itu sampai tangisnya pecah. Aji tergelak melihat Izza yang sedang mengamuk di atas pangkuan Ninis.
"Ji!!" teriak Ninis karena kesal melihat adiknya yang usil itu.
__ADS_1
Aji menghentikan tawanya tatkala teringat ada sesuatu yang harus ia sampaikan kepada ibunya itu, "Mi, ada sesuatu hal yang ingin Aji sampaikan, ini penting!" ucap Aji dengan raut wajah yang terlihat serius.
"memangnya ada apa?" tanya ummi Sarah dengan suara yang kalem.
"Jadi begini, Mi ...." Aji mulai menjelaskan apa yang terjadi hari ini. Ia menjelaskan bagaimana perilaku Rahma hari ini, tidak di lebihkan atau di kurangi kebenarannya.
Ummi Sarah dan Ninis terkejut ketika mendengar laporan dari Aji. Ummi Sarah pun kecewa kepada gadis yang sudah beliau percaya itu. Kali ini ummi Sarah harus bertindak tegas kepada Rahma agar tidak ikut campur masalah yang ada di rumah ini. Ummi Sarah memutuskan untuk memanggil Rahma saat ini juga.
"Nis! panggil Rahma ke rumah ini!" perintah ummi Sarah seraya menatap Ninis.
Tanpa banyak bicara, Ninis segera bangkit dari tempat duduknya. Ia harus kembali ke pondok putri untuk mencari keberadaan Rahma. Tak butuh waktu lama Ninis akhirnya menemukan keberadaan Rahma di depan ruang pengurus pondok.
"Ma, ayo ikut ke rumah sebentar! ummi ada perlu sama kamu," ucap Ninis yang berhasil membuat sekujur tubuh Rahma meremang karena membayangkan apa yang terjadi nanti.
"I-iya Ning!" jawab Rahma dengan gugup.
Keduanya berjalan beriringan menuju rumah ummi Sarah. Irama jantung Rahma mulai tak beraturan ketika kakinya mulai menginjak lantai keramik yang dingin itu. Telapak tangannya terasa dingin karena saat ini ia sampai di ruang keluarga—di mana ada orang-orang yang menatap tajam ke arahnya.
"iya Ning," jawab Rahma tanpa menegakkan kepalanya.
Rahma tidak memiliki keberanian untuk menatap keempat orang yang ada di ruang keluarga itu. Ia benar-benar takut karena kesalahan yang ia perbuat hari ini.
"Rahma!" ucap ummi Sarah yang membuat Rahma menegakkan kepalanya.
"Iya Mi," ucap Rahma setelah menatap ummi Sarah sekilas.
"Saya baru saja mendengar laporan dari Aji, jika kamu melakukan perbuatan memalukan di rumah ini! Ummi hanya ingin memastikan, apakah yang dikatakan Aji tentang kejadian hari ini benar-benar kamu lakukan?" tanya ummi Sarah tanpa basa-basi.
Akhirnya, apa yang ditakutkan Rahma hari ini terjadi juga. Ia bingung harus menjawab bagaimana, karena sangat memalukan jika ia harus mengakui perbuatannya sendiri di hadapan Aji dan istrinya.
__ADS_1
"Kenapa hanya diam? jawab Ma!" ujar ummi Sarah.
Rahma memberanikan diri untuk menegakkan kepalanya. Ia menatap wajah ummi Sarah dengan mata yang sudah berembun, rasanya ia ingin menangis saat ini.
"Iya Mi saya melakukan semua itu. Tapi saya tidak bisa mengungkapkan apa alasan saya. Saya mengaku salah, Mi." Akhirnya, Rahma mengakui kesalahannya di hadapan ummi Sarah.
Helaian napas berat terdengar di sana. Ummi Sarah tidak menyangka jika gadis yang beliau bimbing selama ini berbuat seperti itu, "Ummi sangat kecewa denganmu, Ma!" ucap Ummi Sarah dengan nada penuh sesal.
Setetes air mata lolos dari pelupuk mata Rahma setelah mendengar ucapan ummi Sarah. Ia tidak bisa membela diri saat ini, ia hanya bisa menunggu hukuman apa yang akan ia terima setelah ini.
"Rahma mulai besok kamu akan ummi tukar dengan Santi. Jadi, kamu yang akan menjadi pengurus di pondok sedangkan Santi yang akan membantu ummi di sini. Selama kamu belum berubah dan menyesal, kamu tidak akan ummi izinkan masuk ke rumah ummi!" Keputusan ummi Sarah berhasil membuat Rahma membelalakkan matanya.
Hilang sudah kesempatan untuk mendekati satu persatu anggota keluarga ummi Sarah. Kali ini sepertinya ia harus menyerah untuk mendapatkan pria yang sedang duduk bersama istrinya itu. Menjadi pengurus pondok adalah hal yang paling ia hindari, dari dulu ia tidak suka untuk menjadi salah satu pengurus pondok.
"Ummi saya minta maaf Mi. Saya janji, saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Tapi jangan menjadikan saya pengurus pondok, Mi." Rahma mengatupkan kedua tangannya di dada, ia memohon belas kasih istri kyai Yusuf itu.
"Tidak bisa! keputusan ummi tidak bisa di rubah lagi. Kamu harus sering berada di pondok agar bisa menerapkan ilmu yang sudah kamu dapatkan!" ujar ummi Sarah dengan pandangan yang tak lepas dari Rahma.
Intan sangat bahagia mendengar keputusan mertuanya itu. Ia bersorak-sorai dalam hati setelah melihat bagaimana ketegasan ummi Sarah kepada Rahma, sekuat tenaga Intan harus menahan otot-otot di pipinya agar tidak tersenyum di hadapan semua orang.
"Syukurin lu!" ujar Intan dalam hatinya,
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
_
__ADS_1
_
🌷🌷🌷🌷