
Satu bulan kemudian ....
"Alhamdulillah ... kalau begitu saya mau prepare pindah ke Jombang, Mas. Terima kasih atas bantuannya," ucap Aji setelah panggilan telfonnya dengan Rudi—suami Ninis berakhir.
Senyum merekah terbit dari bibir Aji setelah mendengar kabar yang disampaikan Rudi. Ia diterima di salah satu MA Negeri Mojokerto, lalu Ia pun diterima untuk mengisi jam di kampus yang di naungi Rudi, karena suaminya Ninis itu sekarang menjadi Rektor di salah satu perguruan tinggi favorit yang ada di Jombang. Aji segera keluar dari kamar untuk menyampaikan kabar baik ini kepada Intan yang sedang berkutat di dapur.
"Sayang!" ucap Aji setelah melingkarkan kedua tangannya di perut Intan dari belakang, hal itu membuat Intan terkejut bukan main.
"Astagfirullah Mas!!" teriak Intan seraya mengalihkan pandangannya ke samping.
"Maaf, Sayang! kamu tahu, pagi ini aku sangat bahagia!" ujar Aji sambil meletakkan kepalanya di atas bahu Intan.
"Oh ya? kenapa?" tanya Intan tanpa menatap sang suami, ia sibuk memotong bawang untuk bumbu tumis.
"Satu bulan lagi kita akan kembali ke Jombang," ucap Aji yang membuat Intan menghentikan aktivitasnya. Ia mengubah posisinya untuk menghadap Aji.
"Aku di terima di dua tempat sekaligus!" ucap Aji seraya menangkup kedua pipi Intan, "Aku di terima di MA Negeri Mojokerto sama di kampus Mas Rudi," ucap Aji dengan ekspresi wajah yang terlihat bahagia.
Intan mengembangkan senyumnya. Ia mendaratkan kecupan di bibir sang suami, ia ikut bahagia melihat pencapaian Aji saat ini, "Selamat ya Mas, akhirnya cita-cita Mas selama ini terwujud," ucap Intan seraya mengusap rahang Aji.
"Semua ini berkat doa darimu, Sayang! terima kasih ya kamu sudah mendukungku," ucap Aji sebelum mendaratkan sebuah kecupan di kening intan.
Ya, memang begitulah adanya. Intan selalu mendukung keputusan dan keinginan Aji dalam hal pekerjaan. Ia sendiri berat jika harus meninggalkan kota yang menjadi saksi bagaimana perjalanan hidupnya. Intan sebenarnya tidak mau berjauhan dengan keluarga angkatnya, karena bagaimanapun mereka lah yang menolongnya bangkit dari keterpurukan akibat kenangan pahit. Setelah ini Intan harus menata hati karena akan tinggal di Jombang—bersama orangtua Aji dan dikelilingi para ipar yang tinggal dekat dengan ndalem.
"Sebelum berkemas kita harus pamit ke Papah ya," ucap Intan seraya mengembangkan senyumnya.
"Nanti malam kita ke rumah Papah, kasih kabar ke Kinar biar bisa kumpul," ucap Aji dengan pandangan yang tak lepas dari Intan.
__ADS_1
Intan menganggukkan kepalanya, lalu ia melanjutkan aktifitasnya agar masakannya segera matang dan mereka berdua bisa sarapan pagi ini. Aji sendiri harus segera berangkat ke kampus untuk melakukan kewajibannya sebagai tenaga pendidik.
"Mas mandi dulu gih! setelah itu kita sarapan," ucap Intan seraya memasukkan bumbu iris ke dalam penggorengan.
"Astagfirullah!! dasar m-e-s-u-m!" ujar Intan tatkala merasakan bokongnya di-re-ma-s Aji sebelum ia berlari masuk ke kamar mandi.
Aji terkekeh setelah mendengar teriakan sang istri, sudah menjadi hobinya untuk mengganggu Intan di saat ia sibuk memasak. Aji segera masuk ke kamar mandi sebelum istrinya itu mengeluarkan suara lima oktafnya.
Brak!! pintu kamar mandi akhirnya tertutup rapat.
...🌹🌹🌹🌹...
Bulan mulai menampakkan sinarnya untuk menggantikan mentari yang sedang istirahat di tempatnya saat ini. Para bintang enggan menampakkan diri karena takut dengan bentuk sempurna sang bulan.
Rumah Pak Gatot terlihat ramai malam ini, karena mereka sedang berkumpul diruang tamu. Ada Tommy dan calon istrinya, Kinar dan Farhan, Intan dan Aji. Meraka ngobrol santai dengan sesekali candaan yang membuat mereka tergelak.
Pak Gatot bahagia melihat anak-anaknya bisa tertawa lepas. Kedekatan dan kerukunan yang selalu mereka tunjukkan berhasil membuat hati Pak Gatot menjadi tentram.
Semua orang yang ada di ruang tamu pindah ke ruang makan. Mereka menikmati sajian yang sudah berjajar rapi di atas meja makan. Tak ada yang bersuara selama makan malam itu berlangsung, hanya ada suara sendok dan garpu yang saling bersahutan.
Detik demi detik telah berlalu, kini makan malam telah selesai. Mereka kembali ke ruang keluarga untuk kembali bercengkrama seperti tadi. Intan dan Kinar duduk bersanding sambil menikmati kripik singkong yang ada dalam toples.
"Emmb, saya punya kabar baik untuk Papah dan semuanya," ucap Aji setelah obrolan Farhan dan Tommy selesai.
"Oh ya? kabar apa itu, Nak?" tanya Pak Gatot seraya mengubah posisi duduknya.
Aji menceritakan rezeki yang ia dapatkan tadi pagi. Farhan sangat antusias setelah mendengar kabar membahagiakan yang disampaikan oleh Aji. Ia bahagia karena pada akhirnya satu persatu keinginan Aji selama ini terpenuhi.
__ADS_1
"Papah bahagia mendengar kabar ini, Nak!" ucap Pak Gatot dengan diiringi senyum tipis.
"Gue bahagia sekaligus sedih nih!" sahut Kinar dengan wajah yang tertekuk. Ia menatap Intan dengan sorot mata yang terlihat sedih.
"Kok begitu?" Bu Leni terlihat heran melihat respon putrinya itu.
"Kalau Mas ustad ngajar di Jawa timur, berarti kalian menetap disana kan?" tanya Kinar seraya menatap Aji dan Intan bergantian.
Semua mata tertuju kepada sepasang suami istri yang menampakkan senyum tipis. Rasanya berat sekali ketika ingin menyampaikan perihal pindahan mereka ke Jombang.
"Pah, Intan akan ikut Mas Aji pulang ke Jombang Pah, Intan mohon restunya ya Pah," ucap Intan seraya menatap Pak Gatot dengan ekspresi yang terlihat sedih.
Pak Gatot hanya bergeming setelah mendengar ucapan Intan. Rasanya, beliau berat sekali melepaskan Intan untuk ikut Aji ke Jombang. Beliau hanya tidak mau Intan tersakiti lagi di sana. Namun, Pak Gatot juga tidak bisa menahan Intan untuk tetap di sini karena ia wajib patuh kepada Aji. Bukankah seorang istri harus patuh kepada suaminya?
"Papah sebenarnya berat melepaskan kamu, Tan! Papah takut kamu tersakiti lagi jika jauh dari kami," keluh pak Gatot seraya menatap Intan.
Deg. Rasanya, irama jantung Aji berhenti begitu saja ketika mendengar ucapan pak Gatot. Pikirannya mulai melayang-layang setelah mendengar kalimat tersebut. Ia mencoba menerka kemana arah pembicaraan Papah mertuanya itu. Aji masih diam dengan tatapan yang tak lepas dari Intan, ia mencari alasan yang membuat pak Gatot meragukan kebahagiaan Intan jika ikut bersamanya ke Jombang.
"Papah tidak usah khawatir. Saya akan menjaga Intan agar tidak ada yang menyakiti dia lagi. Tidak akan ada yang bisa menyentuh Intan lagi apalagi sampai membuatnya terluka. Tolong percaya sama saya Pah!" ucap Aji setelah menemukan sesuatu yang membuat pak Gatot khawatir.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
_
__ADS_1
_
🌷🌷🌷🌷🌷