Surga Hitam

Surga Hitam
Pertemuan Pak Gatot dan Aji


__ADS_3

Tiga hari kemudian ....


Cuaca panas tengah melanda kota Ciputat. Rupanya, sang raja sinar sedang menampakkan kekuasaannya, hal itu membuat angin semilir enggan untuk ikut campur hari ini.


Penunjuk waktu masih berada di angka sebelas siang. Aji baru saja keluar dari kelas, ia berjalan menyusuri lorong kampus, menuju ruangan dosen yang ada di bagaian depan kampus ini.


Raut wajah datar terlukis jelas di wajah dosen muda itu. Masalah beberapa hari yang lalu bersama Intan, berhasil membuat mood Aji menjadi berantakan. Ia seperti kehilangan semangat hidup karena pengakuan mengejutkan gadis pujaannya itu.


Aji menampilkan senyumnya yang palsu ketika dirinya sampai di ruangan dosen. Ia tersenyum manis kepada semua rekan dosen yang menyapanya. Kini, Aji telah sampai di mejanya yang ada di sudut ruangan, ia mengeluarkan laptopnya dari dalam tas untuk menilai tugas yang sudah di kumpulkan siswanya.


Mata Aji terus fokus pada layar laptop itu, di mana banyak file masuk yang harus ia nilai. Sesekali Aji melirik ponselnya, ia sebenarnya ingin menelfon Intan, hanya sekedar untuk mengetahui bagaimana kabar gadis itu.


Terkadang, Aji masih bingung dengan perasaannya sendiri. Ada rasa rindu, benci, kecewa dan cinta yang bercampur aduk dalam hatinya. Ego yang besar masih mendominasi hati dan pikiran Aji saat ini, hal itulah yang membuat Aji sulit menerima kenyataan bagaimana keadaan Intan yang sebenarnya.


"Astagfirullahaladzim ...." Aji menutup laptopnya karena pikirannya melayang-layang entah kemana. Bayangan wajah Intan yang sendu membuatnya susah untuk menfokuskan diri.


Aji memijat pelipisnya karena kesal pada dirinya sendiri. Ia menundukkan wajahnya karena bayangan wajah Intan terus menari-nari di kepalanya.


"Ya Allah—berilah hamba petunjuk agar tidak salah memilih jalan menuju surga," gumam Aji dalam hatinya.


Pandangan Aji beralih pada sosok yang sedang berdiri di hadapannya. Ia mengulas senyumnya kepada salah satu satpam kampus yang sedang berdiri di depan mejanya.


"Pak, di depan ada dua pria yang mencari Pak Aji, katanya sangat penting," ucap Satpam tersebut.


Tentu saja, hal itu membaut Aji menaikkan satu alisnya, ia menerka siapa pria yang mencarinya sampai harus datang ke kampus, "Terima kasih, Pak. Tolong katakan pada mereka agar menunggu saya sebentar lagi," ucap Aji sebelum Satpam itu berlalu dari ruangan dosen.


Aji bergegas menutup laptopnya, ia meraih ponsel yang ada di meja sebelum melangkahkan kakinya keluar. Di sepanjang perjalanan menuju pos satpam, Aji terus berpikir siapakah sosok yang sedang mencarinya.


"Selamat Siang ...." ucap Aji setelah sampai di depan pos satpam. Ia menatap punggung kedua pria yang sedang membelakanginya.

__ADS_1


Aji mengernyitkan keningnya setelah melihat wajah kedua tamunya itu, ia seperti tidak asing dengan pria muda yang sedang menatap tajam ke arahnya.


"Apakah anda pria yang bernama Ajisaka Pangestu?" tanya pria paruh baya yang tak lain adalah Pak Gatot.


"Iya, benar Pak. Saya Aji," ucap Aji sambil menatap mata Pak Gatot.


"Perkenalkan, saya Gatot. Ayah angkatnya Intan, dan ini putra saya, Tommy." Pak Gatot mengulurkan tangannya kepada Aji.


Aji menyambut uluran tangan Pak Gatot, ia pun melakukan hal yang sama kepada Tommy. Rasa penasaran semakin menguasai pikirannya tatkala Pak Gatot menyebut nama Intan.


"Maaf, kalau boleh tau, ada apa bapak menemui saya?" tanya Aji karena rasa penasaran itu semakin mendesaknya untuk bertanya.


"Sebaiknya kita cari tempat yang cocok untuk ngobrol Pak, karena ada hal penting yang ingin kami sampaikan," jawab Tommy sambil menatap Aji.


"Baiklah, kita ke cafe yang ada di sebrang jalan saja, kendaraan bapak biarkan terparkir di sini," ucap Aji sambil menunjuk cafe yang ia maksud.


Akhirnya, ketiga pria itu berjalan kaki menuju cafe, mereka masuk dan mencari tempat duduk yang jauh dari para pengunjung cafe.


"Apa anda tidak ingin tahu, bagaimana kondisi gadis yang Anda tinggalkan beberapa hari yang lalu?" tanya Tommy seraya menatap Aji dengan intens.


"Apakah yang Abang maksud adalah Intan?" Aji pun menatap Tommy dengan tatapan tajamnya.


"Iya," ucap Tommy seraya menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Memangnya Intan kenapa saat ini?" pikiran buruk tiba-tiba terlintas dalam pikiran Aji.


"Dia kacau, dia hancur! Kemarin Intan terpaksa kami bawa ke rumah sakit karena tubuhnya lemas dan terus muntah akibat alkohol yang di konsumsi berlebihan." ucap Pak Gatot yang sejak tadi mengamati wajah dosen muda itu.


Aji tertegun setelah mendengar kabar tentang kondisi Intan saat ini. Rasa bersalah tiba-tiba saja hadir dalam hatinya, setelah Pak Gatot menceritakan semua yang terjadi kepada Intan selepas dirinya pulang dari kontrakan.

__ADS_1


"Harusnya anda tidak melakukan semua itu! anda sudah menyakiti Intan dengan memberikan harapan yang palsu!" ucap Tommy dengan rahang yang terlihat mengeras karena menahan perasaan yang tak karuan ketika melihat wajah Aji.


Aji menundukkan pandangannya, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja yang ada di hadapannya. Ia sedang bertarung dengan perasaannya sendiri, mencari kemurnian yang sebenarnya ia rasakan saat ini.


"Apakah yang saya lakukan salah, Pak? Apakah saya salah jika menginginkan seorang istri yang belum pernah tersentuh pria lain?" tanya Aji kepada Pak Gatot.


"Saya tidak menyalahkan anda atas apa yang terjadi saat ini, saya hanya menyayangkan saja, kenapa anda tidak bertanya terlebih dahulu kepada Intan tentang apa yang sudah terjadi," Pak Gatot menatap dalam manik hitam Aji.


"Untuk apa pak saya tahu bagaimana dia melepas mahkotanya, itu terlalu menyakitkan untuk saya, Pak." Aji memalingkan wajahnya ke arah lain karena tidak sanggup membayangkan bagaimana Intan menikmati belaian pria lain.


Tommy semakin geram setelah mendengar jawaban dari Aji. Bagaimana bisa orang berpendidikan tinggi seperti Aji, pemikirannya hanya sebatas ini saja. Tommy sangat menyayangkan sikap yang di tunjukkan oleh Aji.


"Intan itu hanya kehilangan darah perawannya, bukan de-sa-hannya!" sarkas Tommy sambil menatap Aji penuh amarah.


Aji kembali tertegun setelah mendengar kalimat menohok yang di ucapkan oleh Tommy, "apa maksudnya? tolong katakan dengan jelas, Bang!" Aji tak melepaskan pandangannya dari wajah muram yang ada di hadapannya.


"Jika anda ingin tahu maksud ucapan saya, lebih baik Anda bertanya sendiri kepada Intan! Kami tidak punya hak untuk menceritakan semua yang terjadi kepada anda!" ucap Pak Gatot setelah menikmati cappucino late yang tadi beliau pesan.


Tommy dan Pak Gatot membiarkan Aji berdiam diri dalam kemelut di hatinya. Hampir dua puluh menit, mereka bertiga terdiam, pada akhirnya Tommy dan Pak Gatot pamit pulang kepada Aji.


"Semua yang terjadi kepada Intan, ada hubungannya dengan pria bangsat yang ada di rumah Anda," ujar Tommy sebelum berlalu hari hadapan Aji.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️ 😍


_

__ADS_1


_


🌷🌷🌷🙁🙁


__ADS_2