Surga Hitam

Surga Hitam
Mimpi buruk?


__ADS_3

"Alhamdulillah ya Pak, cafe kita semakin hari semakin bertambah omsetnya," ucap Farhan setelah membaca hasil laporan yang di buat setiap satu minggu sekali.


"Iya Pak, kalau di lihat dari laporannya, setiap hari banyak pengunjung yang datang." Aji mengulas senyum tipis seraya menatap layar laptop yang menampilkan grafik penjualan.


Setelah selesai membaca laporan keuangan cafe, Farhan dan Aji mulai membahas tentang menu makanan yang akan di tambahkan di daftar menu. Dari perbincangan panjang ini, akhirnya mereka berdua sepakat untuk menambahkan Pizza mini di daftar menu nya.


"Oh ya Pak, bagaimana kalau bulan depan kita buat program baru, program berbagi gitu." Farhan menyampaikan ide yang sempat terlintas di kepalanya beberapa hari yang lalu.


"Berbagi?" Aji mulai tertarik dengan pembahasan ini, "Memang kita mau berbagi yang bagaimana, Pak?" tanya Aji karena belum tau kemana Farhan akan membawa pembicaraannya.


"Bagaimana kalau setiap hari jumat kita berbagi minuman gratis, Pak? setiap hari jumat gratis minum boba atau jus buah gitu?" usul Farhan.


"Boleh juga Pak, nanti kita pikirkan lagi bagiamana enaknya agar program berbagi ini bisa berjalan dengan lancar." Aji menutup laptop dan setelah itu menatap Farhan yang sedang menjelaskan program barunya.


Kedua pria muda itu akhirnya membahas masalah lain, bukan lagi soal pekerjaan tapi soal kehidupan. Di ruangan khusus yang ada di lantai dua ini, mereka menghabiskan malam minggu dengan sharing tentang agama, tujuan hidup dan masih banyak lagi topik menarik yang mereka bahas.


"Saya lihat akhir-akhir ini, sepertinya Pak Aji sedang jatuh cinta ya, Pak?" tanya Farhan dengan kedua manik hitam yang tak terlepas dari wajah tampan rekannya itu.


"Pak Farhan bisa saja," elak Aji seraya mengalihkan pandangannya dari Farhan.


"Saya penasaran, gadis mana yang bisa menaklukkan hati putra Kyai Yusuf ini," seloroh Farhan ketika melihat perubahan mimik wajah Aji.


Farhan terus menggoda Aji karena ia sangat penasaran bagaimana kisah cinta seorang anak Kyai. Farhan menatap Aji dengan ekspresi wajah heran, ketika Aji mulai menceritakan siapa gadis yang selalu ia sebut dalam doanya.


"Lalu, di mana gadis itu sekarang?" tanya Farhan.


"Dia tinggal di Ciputat juga, Pak Farhan. Saya tidak pernah menyangka jika Tuhan mempertemukan saya lagi dengan dia di kota ini," ucap Aji sambil menatap Farhan.


"Mungkin ini yang di namakan jodoh ya, Pak," Farhan mengangguk-anggukan kepalanya seraya menatap Aji yang sedang bersandar di kursi nya.


"Mudah-mudahan saja pak, itu harapan saya selama ini," ucap Aji dengan di iringi senyum manisnya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kapan-kapan kita double date, Pak? Nongkrong bersama pasangan masing-masing." Tiba-tiba muncul ide cemerlang di kepala Farhan.


"Boleh, tapi untuk waktunya saya kabari nanti ya Pak," ucap Aji, ia belum tau apa Intan bersedia jika bertemu dengan Farhan.


Obrolan pun terus berlanjut sampai jarum jam berhenti di angka sepuluh malam. Mereka segera keluar dari ruangan karena sebentar lagi cafe akan di tutup. Mereka berdua turun ke lantai satu untuk membantu menutup Cafe.


"Intan kemana ya, kok dari tadi gak balas pesanku," gumam Aji setelah melihat ponselnya.


Aji menyimpan ponselnya kembali di saku celana. Ia akhirnya membantu petugas kasir untuk mengecek transaksi hari ini.


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...


Penunjuk waktu berada di angka dua dini hari. Keheningan alam mulai terasa, suara hewan malam pun masih terdengar di sekitar kontrakan Intan. Gadis itu masih terjaga, rasa kantuk seakan hilang dari matanya bulatnya.


"Lu kok belum tidur, Tan?" tanya Kinar saat terjaga dari tidur nyenyaknya karena di serang rasa ingin buang air kecil.


"Gue gak ngantuk!" jawab Intan setelah menghisap rokoknya.


Apa yang di lakukan Niko saat di studio tadi berhasil membuatnya kesal sampai saat ini. Moodnya mendadak hancur karena tangan jail Niko yang tidak tau sopan santun.


"C-u-k deh!" umpat Intan setelah menghabiskan sebatang rokok yang sejak tadi menemaninya.


"Harusnya tadi lo bilang sama Bang Tommy, biar mampus sekalian itu laki!" sahut Kinar setelah kembali dari kamar mandi. Ia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap Intan yang sedang bersandar di Almari. Kinar sudah tau apa yang sebenarnya terjadi di studio, tapi Kinar harus bungkam karena Intan sudah memperingatkannya, agar tidak menceritakan semua ini kepada Tommy.


"Gue udah males aja kalau ada keributan, entar gue di salahkan nyokap lo lagi," ucap Intan sambil menuang wine ke dalam gelas kecil.


"Terserah lu lah! gue tidur dulu!" Kinar menarik selimutnya lagi dan membiarkan Intan terjaga seorang diri.


Intan meneguk satu gelas wine yang baru saja ia tuang untuk yang kedua kalinya. Ia melampiaskan kekesalannya dengan membiarkan tubuhnya melayang-layang karena pengaruh wine pemberian Tommy. Namun, baru saja ia menuang wine untuk yang ketiga kalinya, ponselnya tiba-tiba berdering.


"untuk apa Gus Aji menelfonku di jam-jam seperti ini," gumam Intan setelah melihat nama Aji di layar ponselnya.

__ADS_1


Intan segera mengangkat telfon itu setelah berdering untuk yang kedua kalinya, "Assalamualaikum, Gus," ucap Intan setelah menggeser icon hijau di layar ponselnya.


"Waalaikumsalam, Tan ... kamu di mana sekarang?" tanya Aji dengan nafas yang terengah-engah.


"Saya di kamar, Gus. Ada apa? sepertinya Gus panik sekali," tanya Intan setelah mendengar suara Aji yang berbeda.


Aji terdiam beberapa saat. Sepertinya ia sedang mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum berbicara dengan Intan. Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan Aji saat ini.


"Baru saja aku mimpi buruk, Tan. Mimpinya seperti nyata," ucap Aji, kali ini napasnya sudah teratur.


"Mimpi hanya bunga tidur, Gus." Intan mencoba untuk menghibur Aji agar tidak memikirkan mimpi buruknya lagi.


"Tidak, Tan!" sergah Aji, akhirnya Aji memutuskan untuk menceritakan mimpinya kepada Intan.


Dalam mimpi itu, Aji dan Intan sedang berjalan menyusuri jembatan bambu yang sudah rapuh. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saja kaki Intan terluka parah. Intan menangis karena melihat darah yang terus mengucur dari kakinya. Bukannya menolong Intan yang sedang kesakitan, di mimpi itu, Aji malah berlari meninggalkan Intan. Ia terus berlari di atas jembatan yang tak berujung itu. Setelah lelah berlari, Tiba-tiba saja Aji mendengar Intan berteriak. Aji berlari kembali karena melihat Intan akan jatuh ke sungai besar yang ada di bawah jembatan. Susah payah Aji menarik tangan Intan agar gadis pujaannya itu tidak tenggelam di sungai yang sangat keruh, tapi pada akhirnya Aji pun ikut jatuh ke dalam sungai itu. Mereka sama-sama hanyut mengikuti arus sungai yang mengalir deras.


"Tan, aku harap kamu saat ini baik-baik saja, kamu tidak terluka 'kan?" tanya Aji setelah selesai menceritakan semua mimpinya.


Intan tertegun mendapat pertanyaan itu dari Aji. Ia hanya diam sambil memikirkan kejadian yang ada di mimpi Aji. Intan menjadi takut karena mimpi itu seperti sebuah simbol tentang bagaimana hubungannya dengan Aji setelah ini.


"Gus, mimpi hanya sebuah bunga tidur. Lebih baik kita tidak terlalu memikirkan mimpi yang datang di saat kita tidur. Kita positif thinking saja Yuk!" Sungguh, apa yang di ucapkan Intan saat ini sangatlah berbeda dengan kata hatinya. Ia sebenarnya sedang gelisah dan sedih.


"Aku tidak akan membiarkanmu terluka ataupun terjatuh, Tan. Aku tetap memperjuangkanmu apapun yang terjadi nanti," ucap Aji yang ada di sebrang sana sesaat sebelum mengakhiri panggilannya.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ๐Ÿ˜โ™ฅ๏ธ


_

__ADS_1


_


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


__ADS_2