Surga Hitam

Surga Hitam
Berduka,


__ADS_3

Detik demi detik terus berlalu mengikuti arus waktu yang tidak pernah berhenti. Dua hari lagi umur Ghaly genap tiga puluh enam hari dan rencananya akan ada syukuran selapan dino untuk Ghaly. Rambut bayinya akan di cukur setelah acara tersebut selesai dilaksanakan.


Intan terlelap di sisi Ghaly setelah memberikan ASI kepada putranya itu. Seperti biasa, di saat Ghaly terlelap di siang hari, Intan pun akan terlelap. Setiap malam ia begadang menemani Ghaly yang terjaga sepanjang malam. Menjelang subuh bayi menggemaskan itu terlelap lagi.


Penunjuk waktu berada di angka satu siang, Aji membuka pintu kamarnya setelah pulang dari masjid—menunaikan sholat jumat. Raut wajahnya terlihat sedih ketika menatap wajah pulas sang istri. Aji terlihat berpikir sebelum berjalan menuju tempat sang istri terbaring.


"Sayang ... Sayang!" ucap Aji dengan suara yang lirih. Setelah diam di sisi Intan selama beberapa menit akhirnya Aji memutuskan untuk membangunkan sang istri. Ada hal penting yang harus ia sampaikan saat ini.


Intan mengerjapkan mata setelah mendengar suara pria yang sangat familiar di telinga nya. Ia menatap Aji yang hanya diam seraya menatapnya sendu, "ada apa, Mas?" tanya Intan dengan suara yang lirih.


Melihat kegelisahan yang ditunjukkan sang suami, membuat Intan segera duduk bersandar di ranjang. Ia penasaran apa kiranya yang membuat Aji sedih, "katakan sesuatu, Mas!" ucap Intan, ia sangat penasaran karena Aji tak mengeluarkan suaranya.


Intan tertegun ketika Aji menyampaikan kegundahan hatinya. Mata belo itu terlihat berembun karena semua ucapan yang disampaikan oleh Aji. Intan segera berdiri dan meraih gendongan Ghaly.


"kalau begitu kita ke rumah Ning Firda sekarang, Mas!" ucap Intan saat meraih tubuh putranya yang terlelap.


"kenapa sejak pagi tidak ada yang memberitahu saya, Mas?" protes Intan karena ia lah orang paling akhir yang mengetahui keadaan Firda saat ini.


"Aku juga baru tahu saat di masjid tadi, aku diberitahu Mas Aslam!" ucap Aji seraya membantu Intan membenarkan gendongannya, "kamu yakin membawa Ghaly kesana?" Aji meyakinkan keputusan Intan.


"Yakin lah, Mas! lagian di rumah tidak ada orang. Ummi pasti ada di sana 'kan?" tanya Intan seraya menatap Aji.


Aji mengangguk pelan lalu ia melangkah di belakang Intan. Mereka berdua berjalan sampai di teras samping, tak lupa Aji membuka payung untuk dipakai Intan agar Ghaly tidak kepanasan. Sepasang suami istri itu berjalan beriringan di bawah teriknya matahari ke rumah Sholeh yang ada di samping rumah kyai Yusuf.


Firda sudah tidak sadarkan diri sejak tadi subuh. Ibu empat anak itu sudah dua hari tidak makan dan minum, tubuhnya hanya mendapat asupan dari infus yang terpasang di tangannya. Sudah lima hari ini Firda dirawat di rumah. Dokter Nanang dan seorang perawat yang memantau keadaannya selama di rumah. Awalnya Sholeh ingin membawa Firda ke rumah sakit tapi ummi Sarah melarangnya karena melihat kondisi Firda yang sudah tidak bisa merespon apapun termasuk anak-anaknya.

__ADS_1


Nida—istri kedua Sholeh pun tiba di rumah ini ketika semua orang melaksanakan sholat jumat. Dia sengaja didatangkan ke rumah ini untuk membantu Sholeh merawat anak-anaknya. Ia pun membawa kedua anaknya ke rumah ini.


"Assalamualaikum ...." ucap Intan dan Aji setelah masuk ke dalam rumah Sholeh, mereka langsung masuk ke ruang keluarga, di mana ada beberapa anggota keluarga yang sedang berkumpul di sana.


"Sini, Dik! biar Ghaly sama aku aja!" ucap Isna seraya menepuk pahanya agar Intan menurunkan Ghaly di sana, "masuklah ke kamar Ning Firda, di sana ada ummi sama ning Nida," lanjut Isna tanpa menatap Intan.


Bulir air mata lolos begitu saja dari pelupuk mata Intan ketika melihat keadaan Firda yang memprihatinkan. Kakak iparnya itu terpejam dengan bibir yang sedikit terbuka. Nida duduk di sisi ranjang sambil membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an sedangkan Sholeh duduk di sisi lain sambil tertunduk.


Intan mendekat ke ranjang yang di tempati Firda, ia duduk di sisi tubuh yang tertutup selimut tebal itu. Intan sedih melihat kondisi kakak iparnya saat ini, rasa benci yang sempat mengisi hatinya kini hilang entah kemana.


"Ning, saya minta maaf atas semua kesalahan yang saya lakukan," bisik Intan di telinga kanan Firda. Ia membungkukkan tubuhnya agar bisa lebih dekat dengan Firda.


"Semua kesalahan Ning Firda sudah saya maafkan! sekarang Ning Firda bangun ya, kasihan anak-anak gak ada yang nemenin bermain!" ucap Intan dengan suara yang lirih.


Suara tangisan Ghaly terdengar sampai di kamar Firda. Hal itu membuat Intan segera beranjak dari sana untuk menenangkan putranya. Ia meninggalkan Aji di dalam kamar bersama ummi Sarah dan yang lainnya.


"Sepertinya anakmu haus, Dik!" ujar Isna saat menyerahkan Ghaly kepada Intan.


"Iya, Ning! dari tadi dia tidur terus sih!" jawab Intan seraya membuka kancing dasternya.


Beberapa menit kemudian, Intan dan Isna terkejut bukan main saat tangisan ummi Sarah pecah di dalam kamar Firda. Tak lama setelah itu Aji keluar dengan ekspresi wajah yang tak bisa ditebak. Ia menghampiri sang istri.


"Sayang! Ning Firda baru saja menghembuskan nafas terakhirnya!" ujar Aji dengan suara yang bergetar.


Tangis semua orang yang ada di ruang keluarga akhirnya pecah ketika mendengar kabar tersebut. Semua sibuk menenangkan kedua anak Firda yang sudah besar ketika mendengar ibunya telah pulang ke pangkuan Tuhan. Tangis mereka terdengar menyayat hati karena kehilangan ibu tercinta.

__ADS_1


Duka mendalam sedang dirasakan keluarga kyai Yusuf saat ini. Orang-orang terdekat berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga besar itu. Suara tangisan seakan tak bisa berhenti di rumah duka. Firda akhirnya menyerah melawan penyakitnya, ia telah kembali ke hadapan Sang Pencipta di usianya yang ke empat puluh tahun.


Menjelang sore semua persiapan pemakaman Firda telah selesai. Kini semua orang berdiri di teras rumah untuk menyaksikan keberangkatan Firda ke makam. Suara isak tangis semua orang semakin pecah kala seorang tokoh agama berpidato sebelum kereta berselimut kain hijau tersebut berangkat menuju makan.


Tubuh Nida terasa lemas, ia berada di antara keenam anak Sholeh yang ikut menangis ketika melihat semua orang menangis. Nida sangat terpukul karena Firda pulang ke pangkuan Sang Pencipta. Nida pun masih mengingat betul pesan-pesan yang disampaikan Firda dulu saat di rumah sakit Surabaya.


"Kamu harus tinggal di Jombang ... di rumahku dengan Mas Sholeh ketika aku benar-benar pergi dari dunia ini."


"Jangan pernah merasa bosan mendengar permintaanku—jadilah ibu kandung keempat anakku, mereka pasti membutuhkanmu!"


Ya, itulah permintaan Firda sebelum Nida pamit pulang saat menjenguknya di Surabaya. Kini Firda telah pergi meninggalkan semua keluarganya. Ia melepaskan semua rasa sakit dan beban yang ia tanggung selama ini.


Selamat jalan Firdausya Rosa, semoga semua amal ibadahmu di terima di sisi Allah ....


“Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah : 8).


🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍🌹


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


Hallo guys👋👋 aku datang membawa karya keren untuk kalian, yuk kepoin biar gk penasaran 😎



🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2