
"Selamat pagi, Mas ...." sambut Intan dengan senyum yang manis tatkala Aji membuka kelopak matanya.
Aji hanya diam saat menatap wajah sang istri yang berseri. Aji heran melihat perubahan sikap Intan dalam kurun waktu semalam. Beberapa kali ia menepuk pipinya sendiri untuk memastikan jika semua ini bukanlah mimpi semata.
"kok bengong sih, Mas?" protes Intan tatkala melihat respon yang ditunjukkan Aji.
"aku takut semua ini hanya mimpi," gumam Aji dengan suara yang lirih.
Intan tersenyum lagi, ia beranjak dari sisi ranjang, lalu ia berjalan mendekati jendela kamar untuk menyibak tirai berwarna hijau toska itu, "lihatlah, Mas! matahari sudah menampakkan diri! Mas melewatkan sholat subuh!" ucap Intan seiring dengan cahaya sang surya yang menerobos masuk ke dalam kamar.
Aji menutup mata dengan telapak tangan karena matanya belum siap untuk menerima silau sang surya. Jiwanya belum kembali sepenuhnya, ia harus berdiam diri di atas kasur empuk tersebut.
"Mas, hari ini tidak ke sekolah kah? ini sudah siang loh!" tanya Intan seraya bersedekap. Ia masih berdiri di sisi jendela sambil menatap sang suami.
"Nanti berangkat jam sembilan, ada rapat kenaikan kelas," ucap Aji setelah duduk bersandar di headboard ranjang. Pandangannya tak lepas dari objek yang terlihat sangat manis pagi ini. Ia terus mengamati Intan yang sedang membuka pintu balkon dan keluar.
Aji buru-buru turun dari ranjang, tanpa membersihkan diri ia mengikuti sang istri keluar dari kamar. Ia mendekap tubuh yang sedang berdiri di dekat pagar pembatas itu, aroma tubuh Intan yang harum pun berhasil menyeruak ke dalam indera penciuman Aji.
"aku sangat bahagia pagi ini," gumam Aji setelah puas mengendus aroma tubuh sang istri.
"iya kah? apa yang membuat Mas bahagia?" tanya Intan tanpa mengubah posisinya.
"Kamu! aku sangat bahagia karena kehangatan sikapmu telah mengalahkan hangatnya mentari pagi ini," ucap Aji dengan deru napas yang berhembus mesra di balik telinga Intan.
Intan tersenyum tipis setelah mendengar ucapan sang suami. Setelah tadi malam berpikir panjang, akhirnya Intan memilih untuk memaafkan Aji, ia ingin mengakhiri sikap beku yang ia tunjukkan beberapa hari ini.
"Saya harap ini terakhir kalinya kita berseteru karena masalah poligami. Sampai mati pun saya tidak rela ada wanita lain masuk ke dalam rumah tangga kita." peringatan Intan untuk Aji.
"Ingat, Mas! saya tidak mau ada orang ketiga sampai kapanpun! lebih baik saya pergi meninggalkan Mas daripada harus berbagi suami dengan wanita lain, entah itu secara sembunyi-sembunyi ataupun dengan cara terang-terangan!" ujar Intan setelah membalikkan tubuhnya agar bisa menatap Aji.
__ADS_1
Hati Aji bergetar mendengar peringatan yang dilayangkan oleh Intan. Tubuhnya meremang tatkala membayangkan Intan pergi dari hidupnya. Tak sanggup, mungkin itulah jawaban dari Aji.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi dari hidupku! tolong jangan ucapan kata-kata itu lagi, karena setelah ini aku akan menjaga sikap dan berusaha untuk menjadi suami yang lebih bijak untukmu," ucap Aji dengan pandangan yang tak lepas dari Intan.
Tatapan keduanya saling bersirobok, saling menyelami telaga bening yang berbeda untuk mencari ketulusan yang tersimpan di sana. Senyum yang sangat manis seakan tak bisa hilang dari wajah Intan. Entah mengapa Ia terlihat sangat bahagia pagi ini. Pagi yang cerah karena cinta kasih yang besar kembali menyelimuti rumah tangganya.
Intan memejamkan matanya ketika merasakan tangan Aji mulai bergerilya kemana-mana, ia hanya diam—menikmati sentuhan-sentuhan yang menggelitik di tubuhnya.
"Kita harus memproduksi saka junior pagi ini," ucap Aji dengan suara yang lirih.
Intan hanya diam saja, ia hanya pasrah ketika Aji menuntunnya masuk ke dalam kamar. Sudah bisa dipastikan jika kali ini gencatan senjata akan terjadi di atas medan perang—ranjang.
Aji mulai menguasai tubuh sang istri. Ia bermain-main di sana tanpa banyak bicara. Namun, tangannya tiba-tiba di cekal Intan tatkala tangan itu berusaha melepas celana piyama yang dipakai Intan.
"jangan, Mas!" cegah Intan dengan wajah yang memerah karena menahan tawa.
Intan mendorong tubuh Aji agar ia bisa bangkit dari ranjang. Intan pun mulai mengusap rahang Aji dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Ia terus berusaha menahan tawanya yang siap meledak sebentar lagi.
"Mas pasti kena tilang jika menerobos lampu merah," ucap Intan yang membuat ekspresi Aji berubah seketika, senyum yang tadinya bermekar indah kini hilang sudah bersama semangat yang sempat bekobar.
"Sayang!!" teriak Aji seraya mencengkram kepalanya. Ia sangat kesal melihat sang istri yang berhasil membuat hasratnya harus meredup karena peringatan lampu merah yang terlambat.
Intan tak menghentikan tawanya seraya berdiri dari sisi ranjang. Ia membiarkan Aji terlentang seorang diri di atas ranjang dengan napas yang tak beraturan.
"Maaf ya, Mas! saya harus menyiapkan sarapan untuk Mas dulu!" pamit Intan sebelum berlalu pergi dari hadapan Aji.
"Sayang! kamu harus tanggung jawab!" teriak Aji ketika melihat Intan menarik handle pintu dan menghilang begitu saja.
***
__ADS_1
Waktu terus berjalan tanpa kenal lelah. Setelah melewati drama lampu merah, akhirnya Aji harus segera berangkat ke sekolah. Wajahnya terlihat tertekuk karena sesuatu yang belum dituntaskan.
"mau berangkat kerja kok cemberut gitu sih!" ucap Intan setelah mengecup punggung tangan Aji. Sepasang suami istri itu sedang berada di halaman samping, atau lebih tepatnya di samping mobil putih Aji.
"Senyum, dong!!" ucap Intan seraya menarik kedua sudut bibir Aji.
Helaian napas berat mulai terdengar di sana. Aji benar-benar kesal pagi ini karena Intan berhasil mengerjainya. Ia harus membiarkan si ucok tidur dengan sendirinya karena takut ditilang polisi di lampu merah.
"Aku akan menghajarmu setelah lampu merah itu hilang!" ancam Aji setelah masuk ke dalam mobil.
"Oke, saya tunggu! hajar saja kalau bisa!" Intan semakin menantang Aji. Ia menjulurkan lidahnya sebelum Aji menutup kaca mobil.
Intan melambaikan tangannya tatkala mobil yang dikendarai sang suami mulai bergerak meninggalkan halaman rumah. Senyum yang sangat indah mengantarkan keberangkatan Aji ke sekolah.
Setelah mobil putih sang suami tak terlihat, Intan mengayun langkah menuju rumah. Ia ingin menemui ummi Sarah yang berada di ruang keluarga. Seperti biasa, Intan akan menemani ibu mertuanya itu menghabiskan waktu di rumah jika semua kegiatan telah selesai dilakukan.
"Nak, setelah ini tolong pergilah ke pondok putri! sampaikan pesan ummi kepada semua pengurus agar berkumpul di ndalem setelah sholat ashar, ada yang harus ummi sampaikan kepada mereka," ucap ummi Sarah setelah Intan sampai di ruang keluarga.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
aku punya rekomendasi untuk kalian nih😍karya keren dari temen othor yang gemoy ini🤣 kepoin yuk😀
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1