
"Bang, lebih cepat Bang!" ujar Kinar yang duduk jok belakang. Ia duduk tepat di belakang kursi kemudi.
"Jangan berisik! mending lu telfon terus si Intan!" perintah Tommy yang sedang fokus mengemudi.
Ketiga orang yang ada di dalam mobil Jeep itu sedang dilanda rasa panik. Semalam, Jack menghubungi Tommy untuk memberikan informasi tentang Intan. Tentu saja, hal itu membuat Tommy tak bisa tidur semalaman. Kabar itu pun di sampaikan kepada Pak Gatot dan Kinar. Semua panik karena takut terjadi hal buruk kepada Intan.
"Kira-kira apa yang membuat Intan jadi seperti itu?" tanya Pak Gatot kepada Kinar.
"Kinar tidak tau, Pah. Padahal dia kemarin tuh lagi bahagia karena double date bersama Mas Ustad dan temannya," jawab Kinar dengan pandangan yang fokus pada ponselnya.
Tommy hanya diam sambil menerka apa kiranya yang sedang terjadi kepada Intan. Ia teringat akan cerita yang di sampaikan oleh Jack tadi malam, jika Intan membeli tiga botol Whisky JD untuk di minum sendiri.
"Sepertinya kita nanti harus beli air kelapa, Pah," ucap Tommy setelah beberapa menit terdiam.
"Iya, Intan kalau setres berbahaya, dia bisa menghabiskan tiga botol sekaligus!" jawab Pak Gatot.
Mereka bertiga kembali ke Ciputat tanpa Bu Leni, karena masih ada acara yang berlangsung nanti malam di rumah orangtua Bu Leni. Pak Gatot terpaksa membohongi Bu Leni, agar bisa pulang ke Serang setelah mendapat kabar dari Tommy.
"Bang, ponselnya Intan malah gak aktif nih!" Kinar semakin panik, ia sangat khawatir kepada Intan. Pikiran buruk terus menghantuinya.
Kejadian seperti ini pernah di alami Intan beberapa tahun yang lalu. Ia selalu minum alkohol untuk menghilangkan segala beban pikiran yang sedang menyerang isi kepalanya. Maka dari itu, Tommy selalu menyediakan wine untuk kedua adiknya itu, agar mereka tidak minum alkohol yang asal-asalan.
Perjalanan dari Serang ke Ciputat menghabiskan waktu selama satu jam tiga puluh menit. Mobil Jeep yang di kendarai Tommy, akhirnya sampai di halaman rumah Intan tepat pukul sepuluh pagi. Tommy segera keluar dari mobilnya, ketika melihat pintu kontrakan Intan masih tertutup rapat, lampu teras pun masih menyala.
"Tan! Intan!" teriak Kinar seraya menempelkan wajahnya di jendela kaca yang ada di samping pintu.
Kinar dan Tommy terus menggedor pintu kontrakan itu, Kinar pun sudah mencari jalan, tapi semua di tutup rapat oleh Intan. Jendela yang biasa ia lewati pun tidak bisa di buka.
"Minggir!" perintah Pak Gatot setelah kedua anaknya tidak menemukan cara untuk membuka pintu kontrakan itu.
Pak Gatot membuka pintu kontrakan Intan dengan alat yang beliau temukan di mobil. Pak Gatot memasukkan alat itu di lubang kunci. Setelah beberapa menit, akhirnya pintu itu berhasil di buka. Mereka bertiga bergegas masuk untuk mencari keberadaan Intan.
"Tan! lo di mana?" teriak Kinar ketika melihat kamar Intan kosong. Kinar tertegun setelah melihat kondisi kamar Intan yang berantakan.
__ADS_1
"Dia tidak ada di kamarnya?" tanya Tommy kepada Kinar.
"Huek ... huek ... huek ...."
Mereka bertiga saling pandang ketika mendengar suara Intan dari arah belakang. Kinar berlari menuju kamar mandi untuk memastikan keadaan sahabatnya itu.
"Intan!" teriak Kinar setelah melihat Intan duduk di lantai kamar mandi dengan kepala yang bersandar di bak kamar mandi.
Pak Gatot menepuk pelipisnya ketika melihat kondisi putri angkatnya itu. Intan tak sadarkan diri di kamar mandi, pakaian nya kotor karena terkena lendir yang baru saja ia muntahkan.
"Ambilkan baju ganti, Bang! biar aku bersihkan dulu, tubuhnya terlalu kotor," ujar Kinar sambil menatap Tommy.
"Tan, Intan! sadar woe!" Kinar menepuk pipi Intan berkali-kali agar gadis itu segera sadar dari pengaruh alkohol.
"Ini bajunya! Setelah selesai panggil gue lagi, biar gue yang mengangkat Intan ke kamar," ucap Tommy sebelum berlalu dari kamar mandi.
Tommy menyiapkan air kelapa yang di belinya saat dalam perjalanan menuju kontrakan Intan, lalu ia membantu Pak Gatot membereskan kamar Intan yang sangat berantakan itu.
"Jadi dia menghabiskan satu botol Wine dan dua botol Whisky dalam satu malam," gumam Tommy setelah menemukan tiga botol kosong yang berserakan di lantai.
"Tan, Intan! sadar, Nak!" Pak Gatot menggerakkan kepala Intan ke kanan dan ke kiri ketika Intan sudah di baringkan di atas ranjang dengan pakaian yang bersih.
"Tom, masukkan air kelapanya pelan-pelan!" perintah Pak Gatot ketika melihat kondisi Intan yang belum bisa merespon siapapun.
"Uhuk ... uhuk ... uhuk ...."
Kinar segera mendekatkan tubuhnya setelah melihat Intan tersedak. Kinar mengembangkan senyumnya ketika Intan mulai membuka kelopak matanya.
"Tan, sadar woe! gue dah pulang!" ujar Kinar sambil menepuk pipi Intan.
"Kenapa gue masih hidup? harusnya gue udah nyusul ayah sama ibu gue 'kan?" Intan menatap Kinar dengan tatapan yang sendu. Entah dia masih sadar atau masih terkena pengaruh alkohol.
Tatapan mata Tommy dan Pak Gatot bersirobok, mereka heran melihat keadaan Intan saat ini. Baru kali ini Intan tak memiliki semangat hidup. Pak Gatot semakin terenyuh ketika melihat Intan menangis tanpa suara. Hanya air mata yang turun tanpa permisi.
__ADS_1
Tommy membantu Intan agar bisa duduk bersandar di ranjangnya. Tumpukan bantal tertata rapi di balik punggungnya. Tommy membantu Intan, minum air kelapa yang sudah ia siapkan, untuk menetralisir efek alkohol yang masih bersarang di tubuh Intan.
Kinar menatap Tommy dan Papahnya secara bergantian, memberikan sebuah isyarat agar kedua pria itu keluar dari kamar. Mungkin Intan butuh waktu berdua dengannya, begitu pikir Kinar.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Kinar setelah Tommy dan Pak Gatot keluar dari kamar.
Intan menatap Kinar dengan tatapan sendunya. Ia menghambur ke pelukan sahabatnya itu dan menangis sejadi-jadi nya. Ya, Intan butuh teman untuk meringankan beban berat yang menghujam hatinya.
"Gus Aji sudah tau kalau gue udah gak perawan lagi," ucap Intan dengan suara yang lirih.
"Lalu?" Kinar mengusap punggung Intan dengan kasihnya sebagai seorang saudara dan sahabat.
"Gue kira dia mau nerima keadaan gue, nyatanya dia malah pergi ninggalin gue, Kin." Intan semakin terisak setelah mengatakan hal itu.
Kinar ikut prihatin setelah mendengar penjelasan Intan. Kinar pun semakin sedih karena selama ini ia tahu, bahwa Intan sangat mengharapkan cinta kasih dari pria pujaannya itu. Intan selalu meyakinkan hatinya bahwa Aji tetap akan menerimanya meskipun dia bukan gadis yang suci lagi.
"Apa dia gak tanya alasannya ke elu?" tanya Kinar.
"Enggak! dia pergi begitu saja setelah meluapkan kekecewaannya," ucap Intan yang masih betah berada di pelukan Kinar.
Mata Kinar ikut berembun, ketika mendengar Intan menceritakan bagiamana tanggapan Aji setelah tahu bahwa dirinya hanyalah gadis yang kotor. Kinar terenyuh ketika melihat Intan kehilangan harapan yang selama ini di nantinya.
"Lu pasti akan menyesal setelah tahu kebenarannya, Ji." gumam Kinar dalam hatinya.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
_
_
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷