Surga Hitam

Surga Hitam
Siapa Niko?


__ADS_3

Cinta yang besar telah tumbuh di hati. Rasa yang dulu pernah ada kini semakin berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Warna-warna cinta mulai menghiasi hati yang pernah membeku karena hilang harapan.


Sejak bertemu Aji di Cafe Joox satu minggu yang lalu, Intan mulai menata hidupnya. Ia mulai berjalan menuju setitik sinar yang hadir dalam hidupnya yang gelap. Warna hitam perlahan pudar karena curahan cinta yang besar dari Ajisaka.


Setiap hari Intan berangkat ke studio dengan semangat yang tinggi. Wajahnya selalu berseri karena gemuruh cinta di hati. Terkadang, hal itu membuat Tommy dan Kinar menjadi heran karena perubahan sikap gadis bertato itu.


Kebiasaan minum wine setiap dua hari sekali pun mulai hilang. Terkadang ia hanya menemani Kinar sebagai bentuk solidaritas, mencicipi satu gelas kecil agar Kinar tidak tersinggung dengan sikapnya.


"Eh, kita besok mau nyanyi lagu apa ya?" tanya Intan setelah menyulut sebatang rokok. Ia duduk di depan studio bersama Kinar untuk mencari udara segar.


"Gue sih terserah lu, gue dah hapal semua chord lagu pop Indonesia," ujar Kinar sambil membersihkan gitar kesayangannya.


Intan hanya diam sambil memikirkan lagu apa yang akan di nyanyikan besok siang. Ia berpikir sambil bermain-main dengan kepulan asap rokok hasil hisapannya.


"Udah ah! jangan terlalu di pikirin! kita nyanyi sesuai request aja lah," ucap Kinar setelah melihat Intan hanya diam saja. Ia sendiri tidak punya bayangan ataupun rencana di hari esok.


Jalan raya di depan studio masih di penuhi lalu lalang kendaraan bermotor karena malam ini adalah malam minggu. Malam di mana sebagian orang menghabiskan waktu bersama keluarga ataupun pasangannya.


"Tan, itu ada yang minta di tato sama lu!" ucap Tommy yang sedang berdiri di pintu studio, "dia minta di tato tulisan arab tuh!" lanjut Tommy sebelum masuk ke dalam studio.


Intan menghela napasnya, ia harus membuang rokok yang baru saja di nikmatinya itu. Ia meninggalkan Kinar sendirian di depan studio dan menyusul Tommy masuk ke dalam studio.


"hay Bang, mau di tato di mana nih?" tanya Intan setelah duduk di hadapan seorang pria berambut klimis dengan postur tubuh yang kekar. Intan selalu bersikap ramah kepada para pengunjung yang datang.


"Sekarang gue pengen di tatto di sini dulu," ucap pria itu sambil menunjuk da-danya yang sebelah kiri.


"Udah request desain ke Bang Tommy kan?" tanya Intan setelah membersihkan bagian da-da yang akan di jelajahi tangannya dengan mesin tato.


"Udah, gue mau hurufnya ditulis pakai huruf arab," ucap pria itu sambil mengamati wajah manis Intan.

__ADS_1


Persiapan telah selesai, kini Intan mulai mengukir tulisan arab di dada pria bertubuh kekar itu. Tangannya begitu luwes melakukan hal ini karena pada dasarnya, Intan memang mahir menggambar kaligrafi saat di pesantren dulu.


"Siapa nama lo?" tanya pria itu dengan raut wajah yang memerah karena menahan sakit.


"Intan, Bang. Kalau abang siapa?" tanya Intan tanpa mengalihkan pandangannya dari titik fokusnya saat ini.


"Gue Niko, lu ada acara gak setelah pulang dari sini?" Niko terus memandang wajah imut yang sangat dekat dengannya.


"Ada, Bang." Intan mulai merasa risih karena sekilas pandangannya tak sengaja bersirobok dengan Niko, terlihat jelas jika pria itu mempunyai maksud tidak baik kepadanya. Intan bisa menjamin jika Niko bukanlah pria baik-baik.


Tidak ada lagi obrolan diantar Intan dan Niko. Hanya ada suara mesin tato dan suara semua orang yang ada di dalam studio. Sejenak Intan menghentikan tangannya ketika merasakan tangan Niko menyentuh paha nya.


"Lu mau cari mati?" tanya Intan kepada Niko dengan suara yang lirih ketika merasakan sentuhan tangan Niko untuk yang kedua kalinya.


Intan mengeratkan rahangnya ketika mendapat perlakuan tidak sopan dari Niko, "gue peringatkan sama lu! jangan ulangi lagi atau lu gak bisa keluar dari studio ini!" Intan mengancam Niko dengan tatapan mengintimidasi.


"Sorry, gue pikir lu bisa di pakek di luar jam kerja," ucap Niko dengan raut wajah penuh sesal karena salah menilai Intan.


Tommy terus mengamati interaksi antara Intan dan pria yang sedang di tanganinya. Tommy bisa menebak jika ada sesuatu yang tidak beres di antara mereka berdua. Hal itu terlihat jelas dari raut wajah Intan yang masam.


"Tan, kalau sudah selesai pulang aja sama Kinar, nanti biar di antar Panjul!" ujar Tommy yang sedang duduk di meja kasir.


"Iya, Bang! lima belas menit lagi tulisan ini akan selesai," ucap Intan tanpa mengalihkan pandangannya.


Sekilas Niko mengalihkan pandangannya ke arah Tommy. Ia bisa melihat jika Tommy sedang mengincarnya. Ada rasa takut yang menjalar dalam dirinya karena Niko sendiri sudah mengetahui seluk-beluk Tommy dan keluarganya.


"Gue minta maaf karena gue udah kurang ajar sama lu," ucap Niko sambil menatap Intan yang sedang fokus dengan mesin tatonya.


"Harusnya tangan lu perlu di kasih pelajaran biar tau kenal sopan santun!" sungut Intan masih dengan suara yang lirih.

__ADS_1


"Jangan! gue benar-benar menyesal! tolong maafin gue." Niko meringis kesakitan ketika Intan menekan mesinnya lebih dalam.


"Cih! bilang aja kalau lu gak punya nyali liat wajah Bang Tommy." Intan tersenyum sinis sambil menatap wajah Niko yang gelagapan.


Intan geram melihat pria seperti Niko. Menurutnya, pria seperti Niko ini perlu di beri pelajaran agar tidak merendahkan harga diri wanita, "Setelah ini jangan menampakkan wajahmu di hadapanku selain di studio ini," ujar Intan setelah menyelesaikan hasil karyanya di da-da pria bernama Niko.


Intan beranjak dari hadapan Niko menuju tempat sterilisasi. Setitik air mata turun dari pelupuk matanya karena gemuruh amarah yang ada di dalam hatinya. Ia benci berada di situasi saat ini, berada di dekat pria kurang ajar seperti Niko.


"Ba-jingan!" geram Intan sambil mencengkram mesin tato yang ada dalam genggamannya.


Bulir air mata terus mengalir dari pelupuk matanya, entah apa yang membuat Intan menjadi melankolis malam ini. Persekian detik kemudian, ia segera menghapus sisa air matanya yang ada di pipi karena Kinar datang menghampirinya.


"Pulang Yuk! gue nginep di kontrakan lu aja! Mamah sama Papah pergi ke Serang," ucap Kinar ketika berada di samping Intan, "Lu kenape?" tanya Kinar saat melihat raut sedih di wajah Intan.


Intan memberikan isyarat kepada Kinar agar tidak berisik. Ia tidak mau jika terjadi keributan di studio ini gara-gara dirinya. Sudah bisa di pastikan jika Tommy pasti bertindak ketika melihatnya menangis.


"Jangan lupa bawa Wine," ucap Intan dengan suara yang lirih.


Kinar mengacungkan jempolnya sebelum berlalu untuk menemui Tommy. Ia mencoba merayu Tommy agar memberinya sebotol wine seperti biasanya.


"Ingat! selalu kunci semua pintu saat kalian minum!" Tommy mewanti-wanti Kinar agar selalu waspada di manapun ia berada.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka โ™ฅ๏ธ๐Ÿ˜


...๐ŸŽ‰๐ŸŽŠSelamat Tahun Baru ya guys๐Ÿ˜๐ŸŽŠ๐ŸŽ‰...

__ADS_1


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


__ADS_2