
"Haciuw!"
Debu-debu yang berterbangan membuat Intan beberapa kali bersin. Saat ini ia sedang membersihkan kontrakannya seorang diri karena Kinar sudah pulang beberapa menit yang lalu, gadis itu harus segera pulang karena ada janji dengan Bu Leni.
Intan berkacak pinggang di depan pintu kamarnya, nafasnya terengah-engah karena lelah setelah beberapa kali menyapu lantai yang tak kunjung bersih. Ia menggosok hidungnya beberapa kali akibat debu yang berterbangan.
Setelah istirahat beberapa menit, Intan melanjutkan kembali aktivitasnya. Sapu dan tongkat pel lah yang menjadi senjatanya pagi ini. Penampilannya sedikit berantakan karena rambutnya di kuncir asal-asalan. Kaos hitamnya pun terlihat kotor.
"Ehem!"
Intan membalikkan tubuhnya setelah mendengar suara yang sangat familiar di indera pendengarannya. Ia tersenyum hangat untuk menyambut kedatangan pria yang sejak tadi malam memenuhi pikirannya itu.
"Gus, Duduk di luar dulu ya, di dalam masih kotor!" ucap Intan seraya berjalan menemui Aji yang bersandar di bingkai pintu.
Aji menghela napasnya ketika melihat penampilan Intan pagi ini. Seperti biasa, istrinya itu memakai hotpans setengah paha yang di padukan dengan kaos oversize tanpa lengan berwarna hitam.
"Ya Allah ... boleh 'kan kalau saya menyentuh istri saya sendiri, dia menggoda sekali pagi ini." batin Aji.
Bagaimana pun juga Aji adalah pria yang normal, melihat pemandangan indah seperti itu membuat jiwa lelakinya muncul, apalagi yang ia lihat saat ini adalah wanita yang di halalkan untuknya.
"Gus!" Intan menepuk lengan Aji karena ia tak melihat pergerakan sang suami, "ada apa?" tanya Intan tanpa rasa bersalah sedikitpun, ia bersikap biasa saja di hadapan Aji, ia tidak sadar dengan apa yang ia tampilkan saat ini.
"Tidak ada apa-apa," ucap Aji setelah mengusap wajahnya, "aku akan membantumu, agar cepat selesai dan kita bisa sarapan," ucap Aji setelah meletakkan kantong kresek yang ia bawa di atas meja.
Keduanya bekerja sama membersihkan rumah tersebut. Intan lebih banyak duduk daripada bekerja, karena Aji melarangnya untuk melakukan aktivitas berat, ia khawatir dengan kondisi kepala Intan yang masih rentan itu.
"Ayo sarapan!" ucap Aji setelah semua pekerjaan rumah selesai. Kondisi rumah itu pun jauh lebih bersih daripada sebelumnya.
__ADS_1
Intan menyiapkan makanan yang dibawakan oleh suaminya itu. Mereka sarapan bersama di ruang tamu. Beberapa kali Intan menyuapkan makanannya kepada Aji—sarapan sederhana dengan menu seadanya.
"Sayang," ucap Aji setelah menyelesaikan sarapannya, "setelah ini kita harus menemui Papah untuk membicarakan pernikahan kita," ucap Aji setelah mengubah posisinya menghadap Intan.
Lagi dan lagi Intan mengembangkan senyumnya, setelah mendengar kata 'Sayang' yang terucap dari bibir sang suami, "siap!" Intan mengacungkan jempolnya kepada Aji. Ia melanjutkan kembali sarapannya yang masih ada di piringnya.
Aji mengamati wanita yang sangat dekat dengannya itu, kedua manik hitamnya bergerak ke atas dan ke bawah untuk mengamati penampilan seksi istrinya saat ini.
"Oh ya, tadi aku udah telfon Abah, katanya kita tidak masalah tinggal satu rumah asal harus laporan dulu ke pak RT," ucap Aji setelah Intan meletakkan piringnya di atas meja, "jadi, setelah dari Papah, kamu harus ikut aku menemui pak RT, ya!" lanjut Aji dengan tatapan penuh harap.
Intan hanya diam dengan pandangan lurus ke depan, ia sedang memikirkan permintaan suaminya itu. Rasanya, berat sekali jika kontrakan ini harus ia tinggalkan, "Tapi, kontrakan ini masih lama loh, apa gak sayang jika harus pindah sekarang?" tanya Intan.
"Kita bisa nginep di sini ataupun di kontrakanku, nanti kita menemui pak RT di sini juga, yang penting kita bisa tinggal satu rumah," jawab Aji tanpa berpikir panjang.
Setelah membahas tentang izin tinggal bersama, Intan segera mandi dan bersiap menemui Pak Gatot di rumahnya, tak lupa ia memberi kabar kepada Kinar jika dirinya dan Aji akan berkunjung ke rumah.
"Gus, Papah dan Mamah masih keluar, nanti siang baru pulang," ucap Intan setelah membaca balasan pesan dari Kinar.
"Kalau begitu setelah ini kita izin ke pak RT sini dan setelah itu kita ke pak RT yang di kontrakanku. Ke rumah Papah sore saja," ucap Aji dengan pandangan yang tak lepas dari Intan.
Intan hanya menganggukkan kepalanya pelan karena saat ini ia sedang sibuk memakai lipstik. Satu persatu peralatan make-up itu pun telah ia pakai, kini wajahnya terlihat lebih segar dan manis.
"Gus masih mengizinkan saya bekerja 'kan?" tanya Intan seraya menatap wajah tampan yang ada di hadapannya.
"Tidak! aku ingin kamu di rumah saja, biarkan aku yang bekerja," ucap Aji tanpa berpikir panjang.
Intan kecewa setelah mendengar dari suaminya itu, bagaimana pun ia tetap harus bekerja, ia membutuhkan banyak biaya untuk menghapus tato-tato di tubuhnya. Intan harus bisa mendapatkan izin dari Aji agar semua rencananya berjalan lancar.
__ADS_1
"Tolong izinkan saya bekerja, Gus. Saya butuh biaya yang banyak untuk menghapus tato-tato ini," ucap Intan dengan suara yang sangat lembut.
"Aku masih bisa membiayai mu! aku tidak rela jika kamu harus menyentuh kulit pria lain," ujar Aji dengan pandangan yang tak lepas dari Intan.
"Tolong kali ini saja, Izinkan saya bekerja, Gus. Setelah kita menikah sah saya akan berhenti bekerja, tapi tolong kali ini saja berikan Izin, Gus." Intan meraih telapak tangan Aji, ia menggenggam erat tangan itu.
Aji menjadi bingung, ia tidak tega setelah melihat wajah penuh harap yang ada di hadapannya itu. Tapi ia sendiri tidak rela jika Intan harus berdekatan dengan pelanggan yang datang ke studio.
"Dulu saya sendiri yang menyakiti tubuh ini dengan jarum tato, jadi sekarang tolong izinkan saya bertanggung jawab atas apa yang sudah saya lakukan, Gus. Saya sangat berharap Gus memberikan izin untuk saya." Intan menatap wajah tampan yang sedang termangu itu.
Intan terus mengeluarkan rayuannya, ia harus bisa meluluhkan hati Aji kali ini. Biar bagaimana pun, Intan tetaplah seorang istri yang wajib taat kepada suami, setiap langkahnya harus mendapat ridho dari Aji. Bukankah seperti itu adalah salah satu ciri istri shalihah?
Aji berpikir keras saat ini. Ia pun harus bersikap bijak dalam hal ini, ia tidak bisa memaksa Intan begitu saja, istrinya itu mempunyai hak atas pilihan hidupnya. Aji menghela napasnya panjang setelah memikirkan hal ini beberapa menit.
"Baiklah, aku mengizinkan kamu bekerja, tapi aku tidak mau kamu pulang malam. Bisa?" Aji menatap Intan dengan dengan intens.
"bisa, Gus! nanti saya minta Bang Tommy mengatur jam kerja saya," ucap Intan dengan diiringi senyum manis setelahnya.
"Terima kasih Gus atas kepercayaannya," ucap Intan seraya meraih tangan Aji untuk di genggamnya,
_
_
terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
_
__ADS_1
_
🌷🌷🌷🌷🌷🌷