Surga Hitam

Surga Hitam
Lancang!


__ADS_3

"Obatnya jangan lupa diminum rutin ya Bu, jangan terlalu banyak pikiran yang bisa membuat ibu stres, karena semua itu bisa mengakibatkan tekanan darah Ibu naik seperti saat ini. Hipertensi adalah salah satu penyebab orang terkena stroke, Bu," ucap dokter Nanang setelah memeriksa kondisi ummi Sarah.


Dokter Nanang adalah dokter langganan keluarga kyai Yusuf, beliau sering dipanggil ke rumah jika ada anggota keluarga yang sakit. Seperti pagi ini, dokter Nanang langsung datang begitu mendapat telfon dari Aji meskipun penunjuk waktu masih berada di angka enam pagi.


"saya pamit dulu ya Bu, semoga Ibu Sarah cepat sembuh," pamit dokter Nanang, tak lupa ia membungkukkan tubuh sebelum berlalu dari hadapan ummi Sarah.


"Terima kasih, dok!" ucap kyai Yusuf setelah menjabat tangan dokter Nanang.


Kyai Yusuf mengantarkan dokter Nanang keluar kamar, meninggalkan Aji dan ummi Sarah di kamar. Aji tak henti memijat kaki ummi Sarah, ia hanya diam dengan pandangan fokus di kaki berkulit putih tersebut.


"Ji, ini sudah siang. Kamu tidak siap-siap ngajar?" tanya ummi Sarah dengan suara yang lirih.


"Sebentar lagi, Mi," jawab Aji tanpa menatap ummi Sarah.


"Maafkan Ummi ya, Nak!" sesal ummi Sarah dengan mata yang berembun.


"tidak ada yang perlu dimaafkan, Mi. Ummi tidak boleh banyak pikiran seperti yang dikatakan dokter Nanang," ucap Aji seraya menatap ummi Sarah.


Aji beranjak dari sisi ranjang. Ia mengembangkan senyumnya sebelum pamit keluar dari kamar orang tuanya. Ia mengayun langkah menuju dapur untuk mencari Intan, mungkin saat ini istrinya itu tengah menyiapkan sarapan untuknya.


"Sayang, baju kerja ku sudah siap kah?" tanya Aji ketika berada di samping Intan yang sedang memindah masakannya ke piring.


"sudah dong! Mas ganti baju dulu gih! setelah ini kita sarapan," ucap Intan tanpa menatap Aji.


Aji segera berlalu dari dapur, ia harus rapi dalam waktu sepuluh menit karena penunjuk waktu terus berjalan tanpa kenal lelah. Pakaian kerja telah selesai dipakai, tinggal memakai sepatu dan merapikan rambut.


Tatapan mata Aji tak sengaja menangkap kotak kado yang ada di atas nakas. Ia lupa belum membuka kado dari istrinya tadi malam. Setelah penampilannya rapi, Aji duduk di sisi ranjang untuk membuka kado tersebut.


Sebuah arloji berwarna silver dengan merk terkenal berhasil membuat Aji membelalakkan mata. Aji mengeluarkan arloji tersebut, arloji yang selama ini diidamkannya itu akhirnya bisa melingkar di pergelangan tangannya.


Aji bergegas keluar dari kamar untuk menemui Intan di ruang makan. Ia harus berterima kasih kepada istrinya itu. Aji terus mengembangkan senyumnya saat mengayun langkah menuju ruang makan.


"Mas!" Intan terkesiap ketika tiba-tiba merasakan kecupan mesra di tengkuknya.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang! aku suka kadonya," ucap Aji dengan suara yang lirih. Ia mengurung Intan dalam dekapannya.


"Sekarang sarapan dulu, Mas! nanti saja mesra-mesranya," gumam Intan seraya menggerakkan tubuhnya agar terlepas dari Aji.


Sarapan bersama akhirnya berlangsung tanpa obrolan apapun. Keduanya sama-sama menikmati menu yang tersaji di meja makan. Sesekali Aji menatap Intan saat mengunyah makanannya.


Beberapa menit kemudian, sarapan telah selesai. Aji langsung berangkat ke sekolah setelah menghabiskan sarapannya. Tak lupa ia mengecup kening sang istri sebelum masuk ke dalam mobil.


Setelah kepergian Aji, Intan segera masuk ke rumah. Ia harus menyiapkan sarapan untuk ummi Sarah. Intan sudah membuat bubur beras, tak lupa ia membuat teh hangat sebagai pelengkapnya.


"Selamat pagi, Mi," ucap Intan setelah masuk ke dalam kamar. Ia tidak melihat abah Yusuf di dalam kamar tersebut.


Ummi Sarah mengembangkan senyumnya ketika melihat kehadiran Intan. Beliau duduk bersandar di headboard ranjang ketika Intan mendaratkan tubuhnya di sisi ranjang.


"Intan suapin ya, Mi," ucap Intan saat menatap ummi Sarah. Intan segera melakukan tugasnya ketika ummi Sarah bersedia untuk di suapi.


Tatapan mata ummi Sarah tak lepas dari Intan. Tak bisa dipungkiri, di antara ketiga menantu wanitanya memang Intan lah yang terbaik. Beliau bisa merasakan tulusnya kasih sayang Intan.


Beberapa menit kemudian, ummi Sarah telah selesai sarapan dan minum obat. Beliau masih bersandar di headboard ranjang sambil ngobrol dengan Intan. Namun, obrolan itu harus terhenti ketika ada yang mengetuk pintu.


"Assalamualaikum," ucap Firda setelah ia membuka pintu kamar.


"Waalaikumsalam ...." jawab ummi Sarah dan Intan.


Firda masuk ke dalam kamar ummi Sarah, ia menemui ummi Sarah tanpa membawa anak-anaknya. Firda duduk di samping Intan setelah meletakkan kantong kresek berwarna putih di atas nakas.


"Bagaimana keadaan ummi?" tanya Firda dengan pandangan yang tak lepas dari ummi Sarah.


"masih pusing. Tapi sudah lebih baik kok, Nak!" ucap ummi Sarah dengan suara yang lirih.


"Alhamdulillah ...." gumam Firda dengan senyum yang mengembang dengan indah, "ummi masih memikirkan masalah yang kemarin? apa Aji tidak bersedia mengikuti saran Ummi?" tanya Firda dengan pandangan yang tak lepas dari ibu mertuanya itu.


Intan mengernyitkan keningnya ketika mendengar pertanyaan Firda, apalagi ketika melihat ummi Sarah terkejut dengan mata yang melebar sempurna. Wajahnya terlihat memerah ketika menatap Intan.

__ADS_1


"Memangnya ada apa, Mi? apa Mas Aji membuat masalah?" tanya Intan, ia sangat penasaran dengan maksud pertanyaan Firda.


Ummi Sarah menggelengkan kepalanya pelan. Beliau rasanya tidak sanggup untuk mengucapkan apapun lagi. Ummi Sarah hanya memberikan kode kepada Firda agar tidak membahas masalah ini di depan Intan.


"loh kamu belum tau ya, Dik?" Firda membalikkan tubuhnya agar bisa menatap Intan.


"Firda!" ujar ummi Sarah seraya menegakkan tubuhnya, "ummi tidak akan menyuruh Aji untuk melakukan hal yang kamu sarankan!" lanjut ummi Sarah.


Intan semakin bingung menyikapi obrolan mertua dan iparnya itu. Ia sangat penasaran apa kiranya yang sudah mereka rencanakan. Dadanya bergemuruh karena hal ini.


"Mi, tolong beritahu Intan, apa sebenarnya yang terjadi?" Tanya Intan seraya menatap ummi Sarah.


"Mi ... izinkan Firda yang mengatakan semuanya jika ummi tidak sanggup," Firda berdiri dari tempatnya atau lebih tepatnya di hadapan Intan.


Ummi Sarah hanya menggelengkan kepalanya pelan. Beliau benar-benar tak sanggup untuk mengeluarkan suaranya, kepalanya semakin pusing dan semua menjadi berputar, apalagi ketika Firda mengungkap rencana beberapa hari yang lalu di hadapan Intan.


"Ummi berencana menjodohkan Aji dengan Rahma. Ummi ingin Aji menikah lagi agar segera memiliki keturunan. Rahma pun sudah bersedia untuk menjadi istri kedua Aji." kali ini Firda benar-benar lancang, ia berani melanggar larangan ummi Sarah.


Intan terhenyak dari sisi ranjang. Jantungnya seakan berhenti berdetak tatkala mendengar kalimat panjang yang diucapkan oleh Firda. Ekspresi wajahnya pun menjadi penuh amarah, bola matanya seakan ingin melompat dari sarangnya karena hal ini.


"Semua itu tidak akan mungkin terjadi!" ujar Intan dengan penuh penekanan.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍


_


_


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2