
"Sayang, aku ingin menagih janjimu malam ini!" ujar Aji seraya menatap Intan yang sedang membongkar isi kopernya.
Intan mengehentikan aktifitasnya, ia menatap suaminya yang sedang tidur miring dengan kepala yang disangga tangan. Mata teduh itu terlihat berbeda dari biasanya, Intan pun paham apa yang diinginkan suaminya saat ini.
"Kado dari Kinar ketinggalan di kontrakan, Mas!" ucap Intan seraya melepas jilbabnya. Ia sengaja menggoda Aji dengan memasang wajah yang tertekuk.
"Yaaah!!" sesal Aji seraya merebahkan kepalanya di atas bantal.
Intan terkekeh melihat kelakuan suaminya, apalagi ketika Aji mulai membelakanginya. Tanpa banyak bicara Intan mengambil sesuatu di dalam koper, ia segera masuk ke kamar mandi sambil menggenggam kain tipis berwarna merah tanpa sepengetahuan Aji.
"Dulu gue pakai baju terbuka gak malu, tapi kenapa ya sekarang mau pakai baju seperti ini rasanya malu banget! duh kacau!" Intan menepuk jidatnya.
Setelah termenung di depan wastafel beberapa menit, akhirnya Intan memutuskan untuk memakai pakaian kurang bahan pemberian dari Kinar. Intan bergidik ketika melihat penampilannya di depan cermin.
"Duh!! gimana keluarnya nih!" gumam Intan sambil menggenggam handle pintu kamar mandi.
Intan mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum menemui suaminya di kamar. Ia merapikan rambutnya dan tak lupa mengendus aroma tubuhnya sendiri.
"Harum kok!" gumam Intan setelah mengendus lengannya beberapa kali.
Pintu kamar mandi sedikit terbuka, kepala Intan menyembul untuk melihat keberadaan suaminya saat ini. Intan mengembangkan senyumnya ketika melihat Aji tidur tengkurap sambil bermain ponsel. Intan mengendap-endap menuju ranjang itu lalu ia duduk begitu saja di sisi ranjang. Tangannya mulai menyusuri punggung yang masih terbalut kaos polo, tangan itu pun mulai menari-nari hingga membuat sang empu membalikkan tubuhnya.
"Wow!" teriak Aji ketika melihat penampilan Intan yang begitu menggoda. Ia duduk bersandar di headboard ranjang dengan pandangan yang tak lepas dari Intan.
"Come to me, Honey!" ucap Aji sambil menepuk pahanya, sorot matanya pun menunjukkan h-a-s-r-a-t yang sudah berkobar.
__ADS_1
Aji semakin melebarkan senyumnya ketika Intan berdiri di hadapannya. Ia semakin gemas dan tak sabar ingin menerkam apa yang ada di hadapannya saat ini. Sepertinya permainan malam ini lebih seru dari malam-malam sebelumnya karena kain berenda warna merah nyala itu. Kado dari Kinar benar-benar bermanfaat untuk penambah semangat proses pengadukan adonan Saka junior.
Rasa lelah seakan musnah begitu saja. Malam yang panjang akan dilalui Aji dengan memanjat bukit dan menggali gua. Curahan nafkah batin seakan tak ada habisnya untuk wanita yang mengerang manja di bawah kungkungannya saat ini. Mereka tak perduli lagi meski suara manja itu terdengar keras dan berisik di dalam kamar ini.
...🌹🌹🌹🌹...
Langit gelap telah berganti terang. Sang raja sinar mulai menampakkan kuasanya—memberikan kehangatan kepada semua makhluk yang ada di Bali. Burung-burung terbang kesana-kemari karena bahagia bisa merasakan kehangatan alam saat ini.
Suara gelak tawa Intan terdengar nyaring di tepi kolam renang. Sepasang pengantin baru itu sedang bermain air di saat cuaca masih terasa dingin. Beberapa kali mereka ber-cum-bu mesra di tepi kolam renang.
"Rasanya saya gak mau pulang dari sini, Mas!" gumam Intan saat matanya menatap bangunan minimalis di hadapannya. Ia mengagumi keindahan Villa yang ia tempati bercinta tadi malam.
"Kamu mau rumah seperti ini, Sayang?" tanya Aji seraya merebahkan kepalanya di paha Intan. Ia menatap wajah yang masih basah itu dari bawah.
"Tapi saya tidak suka rumah berlantai dua, capek naik turunnya, Mas!" ucap Intan dengan suara yang manja.
Intan hanya tersenyum mendengar ucapan Aji. Ia mengusap rambut basah milik suaminya itu. Ia hanya bisa berdoa, setelah ini bisa membangun rumah impian bersama Aji.
"Mumpung di kamar mandi ada bathup, kita main-main di sana yuk, Mas! seperti di film-film gitu!" Intan menundukkan wajahnya, ia menatap Aji penuh arti.
"Jangan!" ujar Aji seraya bangkit dari pangkuan Intan, "Kamar mandi adalah salah satu tempat yang disukai jin dan setan. Memang benar, berjima' di kamar mandi tidak dilarang, tapi alangkah baiknya jika kita melakukannya di tempat yang bersih dan layak. Kalau di kamar mandi bagaimana aku bisa membaca doa sebelum mulai menyentuhmu, Sayang!" ucap Aji seraya menatap wajah sang istri. Ia mengusap pipi mulus itu dengan pandangan yang tak lepas dari mata belo Intan.
"Kalau sekedar berendam aja boleh 'kan Mas?" tanya Intan dengan tatapan genitnya.
__ADS_1
Aji berdiri dari tempat duduknya, ia mengulurkan tangannya ke arah Intan, "mari kita coba berendam di bathtub!" ucap Aji sambil menarik pergelangan tangan Intan.
Pagi ini sepasang suami istri itu menghabiskan waktu di dalam villa. Mereka enggan untuk keluar karena matahari sedang menampakkan keangkuhannya. Mungkin nanti sore mereka akan pergi ke pantai untuk melihat sunset dan jalan-jalan di tempat wisata yang buka di malam hari.
Kebahagiaan seakan tak pernah pudar dari sepasang suami istri itu. Cinta yang besar telah menguatkan pondasi rumah tangga yang baru berjalan beberapa bulan. Tak ada rasa ragu dalam hati Aji meskipun ia tidak mendapatkan mahkota sang ratu saat malam pertamanya dulu.
Detik demi detik telah berlalu. Penunjuk waktu sudah berada di angka tiga waktu indonesia bagian tengah. Setelah beristirahat cukup lama, Aji dan Intan siap untuk pergi ke pantai. Mereka menunggu kedatangan tour guide yang akan mengantar mereka ke salah satu pantai di Bali. Beberapa puluh menit kemudian, sosok yang ditunggu Aji dan Intan telah datang.
"Mari berangkat, Pak!" ucap tour guide tersebut setelah membahas rencana sore ini.
***
Setelah menempuh jarak beberapa kilometer, akhirnya Aji dan Intan sampai di salah satu pantai yang ada di Bali. Mereka segera masuk ke area pantai tanpa ditemani tour guide tersebut. Mereka berdua ingin menikmati liburan tanpa ada gangguan dari siapapun.
Intan menyandarkan kepalanya di bahu Aji. Saat ini mereka sedang duduk bersanding di atas pasir yang bersih sambil menatap ombak yang berlarian ke bibir pantai. Suara deburan ombak seakan menjadi musik romantis yang merasuk ke dalam indera pendengaran.
"Sayang, lihatlah itu! betapa indahnya ciptaan Sang Pencipta!" ucap Aji seraya menunjuk bola raksasa berwarna jingga yang mulai turun ke tempat peraduannya.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
_
__ADS_1
_
🌷🌷🌷🌷🌷