Surga Hitam

Surga Hitam
Negatif!


__ADS_3

Tiga tahun kemudian ....


"Kok negatif lagi sih!" keluh Intan tatkala melihat satu garis merah di tespek yang ada di genggamannya saat ini.


Intan menghela napasnya panjang, hatinya kecewa setelah melihat hasil tesnya pagi ini. Ia duduk di atas closet dengan kepala yang tertunduk. Harapan yang sempat memenuhi kepalanya kini kembali sirna. Sejak tadi malam ia sudah membayangkan betapa bahagianya pagi ini karena sudah dua bulan ia telat menstruasi.


Ini adalah tahun ketiga Intan dan Aji membina rumah tangga. Mereka selalu hidup bahagia meskipun belum di izinkan Allah untuk mempunyai keturunan. Aji sendiri tidak mempermasalahkan hal itu, ia biasa saja meskipun belum dikarunia momongan. Hal itu berbeda sekali dengan Intan, ia resah karena tak kunjung hamil, apalagi ketika ia pulang ke Jombang, pasti saudara ipar Aji selalu bertanya tentang kondisi rahimnya.


Segala upaya sudah dilakukan Aji dan Intan, mereka sudah pergi ke dokter kandungan untuk konsultasi bagaimana kondisi rahim Intan. Rahim Intan baik-baik saja, tidak ada kista ataupun miom. Hal yang menghambat proses pembuahannya adalah karena hormon Intan tidak stabil, semua itu adalah efek dari alkohol dan rokok yang dulu pernah dikonsumsi Intan. Dulu di awal menikah, siklus mentruasi Intan lancar tapi akhir-akhir ini siklus menstruasinya mulai berantakan, kadang dua bulan sekali atau bisa lebih.


"Sayang ... Sayang!!" Intan terkesiap tatkala mendengar suara Aji diluar kamar mandi, ia segera membereskan gelas dan tespek yang ada di kamar mandi, ia tidak mau jika Aji melihatnya melakukan tes HCG setiap satu bulan sekali.


"iya Mas, ada apa?" tanya Intan setelah membuka pintu kamar mandi. Ia menatap Aji yang sedang bersedekap dengan pandangan yang tak lepas darinya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Aji setelah mengamati ekspresi wajah sang istri.


"Tentu saja! saya baru selesai BAB, Mas!" ucap Intan dengan di iringi senyum manisnya. Ia tidak mau Aji tau jika dirinya baru saja menangis karena hasil tes yang negatif.


Intan segera keluar dari kamar mandi, ia mengambil air wudhu di kran air tempat ia mencuci pakaian yang ada di samping kamar mandi. Intan bergegas menuju ruang ibadah dan menunggu Aji di sana, karena saat ini adalah waktu untuk menunaikan kewajiban dua rakaat.


Seperti biasa, mereka berdua selalu sholat berjamaah di rumah. Mereka jarang sekali ke masjid karena lebih baik mereka sholat berjamaah dirumah daripada Intan harus sakit hati jika bertemu dengan salah satu geng bu RT yang julid. Akhir-akhir ini Intan menjadi sensitif jika ada yang membahas seputar kehamilan dan anak. Ia menjadi sedih karena teringat bahwa dirinya belum tau bagaimana rasanya hamil.


Kewajiban rua rakaat telah selesai, Intan menengadahkan kedua tangannya ketika Aji mulai membaca doa-doa setelah sholat. Intan menitikkan air matanya karena terharu mendengar ayat-ayat yang dilantunkan suaminya.


"Ya Allah ... berilah hamba petunjuk, di mana kesalahan hamba sehingga Engkau belum percaya untuk menitipkan cikal bakal cucu Adam dalam rahim hamba,"

__ADS_1


"Hamba tau, jika semua ini adalah hukuman yang harus hamba dapatkan atas semua perbuatan yang pernah hamba lakukan dulu. Hamba tau jika hamba telah melakukan kedzaliman terhadap tubuh yang Engkau ciptakan ini. Hamba memohon ampun atas semua dosa-dosa itu, Ya Allah,"


"Hukumlah lah hamba dengan hukuman yang lain, karena suami hamba tidak bersalah. Hamba sedih Ya Allah, ketika melihat sorot matanya yang tak bisa di sembunyikan ketika melihat anak kecil, dia pasti menginginkan kehadiran buah cinta kami berdua,"


Intan membuka kelopak matanya setelah melepaskan semua beban yang menyesakkan dada. Intan terkejut ketika melihat Aji sedang menatapnya dengan sorot mata yang menyiratkan kesedihan.


"Kemarilah!" Aji merentangkan kedua tangannya, sebuah kode untuk Intan agar ia segera menghambur ke dekapan Aji.


Aji menghujani puncak kepala Intan dengan kecupan. Ia tahu bahwa istrinya itu sedang sedih karena tak kunjung hamil. Aji sendiri tidak mempermasalahkan hal itu karena anak adalah titipan Allah.


"Jangan sedih! bukankah dokter sudah pernah bilang, jika kamu tidak boleh setres dan banyak pikiran?" ucap Aji seraya mengusap kepala yang masih tertutup mukenah.


"Aku hanya sedih saja, Mas. Aku takut ...." Intan harus menghentikan ucapannya karena Aji memotongnya begitu saja.


"Aku tidak akan menikah lagi! aku tidak akan berpoligami seperti abah dan Gus Sholeh!" ujar Aji dengan tegas. "kamu harus sabar seperti yang di sampaikan Allah dalam kitab sucinya," lanjut Aji.


Ya, Intan sangat takut jika Aji sampai mempunyai istri lagi. Ia tidak mau berbagi suami dengan wanita lain, ia tidak rela jika Aji mencintai wanita lain yang bisa memberinya seorang anak. Intan benar-benar takut akan hal itu karena poligami di izinkan oleh agama.


"Kamu pagi ini mau bikin sarapan apa?" tanya Aji dengan tangan yang tak henti untuk mengusap kepala Intan.


"Saya pengen sarapan sambal tomat sama ikan nila," ucap Intan dengan suara yang lirih.


"Hmmm sepertinya enak ya, kamu mau masak sekarang? karena aku sudah lapar," tanya Aji seraya mengurai tubuh Intan dari tubuhnya.


"Tentu saja, di kulkas semua bahannya sudah tersedia," ucap Intan seraya melepas mukenahnya.

__ADS_1


Akhirnya, mereka keluar dari tempat ibadah. Aji menuju kamar untuk mengambil laptop sedangkan Intan ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Ia mengeluarkan semua bahan dari kulkas dan bersiap perang dengan alat tempur ketika ikan nila tersebut masuk ke dalam penggorengan.


Setelah berkutat di dapur selama satu jam, akhirnya menu sarapan siap di ruang keluarga. Intan segera ke ruang tamu untuk memanggil suaminya yang sibuk di hadapan laptop. Akhir-akhir ini Aji sibuk mengurus masalah sertifikasi karena ia berencana untuk daftar PNS. Rencananya, Aji akan pindah mengajar di Jawa timur saja. Ia sudah mendaftarkan diri di salah satu MA Negeri yang ada di Mojokerto. Ia akan menjadi dosen di salah satu universitas yang ada dalam data dapodik.


"Bagaimana Mas, sudah lolos belum?" tanya Intan setelah duduk di samping Aji.


"Belum, doakan saja ya, biar kita bisa pindah ke Jombang," ucap Aji dengan pandangan yang fokus ke laptop.


"Pasti, aku selalu mendoakan yang terbaik untuk rumah tangga kita," ucap Intan sambil menepuk paha Aji.


Aji segera menutup laptopnya setelah menyelesaikan data-data yang di butuhkan. Ia harus menata masa depannya setelah ini, ia tidak mau tinggal di Tangerang, jauh dari keluarga besarnya.


"Wah enak banget nih!" gumam Aji ketika melihat menu yang berjajar rapi di atas karpet.


"Tentu saja! siapa dulu dong yang masak!" Intan membusungkan dadanya. Ia mengembangkan senyumnya—senyum kebanggaan seperti mendapat juara satu lomba tarik tambang.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️


_


_

__ADS_1


♥️♥️♥️♥️


__ADS_2