Surga Hitam

Surga Hitam
Gara-gara Klanting!


__ADS_3

Pagi yang hangat tiba-tiba saja terasa panas karena terkontaminasi amarah yang diluapkan oleh Intan. Kedua pria yang duduk bersanding itupun hanya bisa diam sambil mengamati keadaan yang sedang terjadi. Firda tak dapat menyembunyikan rona merah yang terlukis di wajahnya karena malu, akhirnya ia memilih pamit pergi dari tempat ini—membawa anak-anaknya kembali pulang.


"Bi, saya mau buat susu dulu, titip anak-anak ya," pamit Isna kepada suaminya, ia pun terlihat tak nyaman berada di antara Aji dan Aslam. Sebagai menantu kyai Yusuf ia malu sendiri ketika melihat perilaku Firda.


Kedua pria tampan itu masih diam dalam pikiran masing-masing. Mereka sepertinya tidak tahu harus bicara apa, karena keduanya tahu sendiri siapa yang menyulut api. Helaian napas berat pun berhembus dari indera penciuman Aji.


"Aku bingung, Mas! setelah melihat semua yang terjadi, aku merasa gagal mendidik istriku," ucap Aji seraya mengusap wajahnya kasar.


Aslam hanya diam, ia menatap Aji sekilas sambil memikirkan jawaban yang tepat untuk keresahan adiknya itu. Menurutnya semua yang terjadi bukan sepenuhnya salah Intan, ia bisa memahami betapa kesalnya Intan setelah mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Firda.


"Istrimu tidak sepenuhnya salah, Ji." Aslam menghentikan ucapannya sebelum menghisap rokok yang baru saja ia sulut, "dia memang belum bisa mengendalikan emosinya, mungkin semua itu karena dia sedang hamil. Istriku dulu juga begitu saat hamil muda, ia menjadi sensitif dan mudah emosi," ucap Aslam seraya menatap Aji.


"Terkadang aku sendiri merasa heran, Mas ... istriku dulu sangat pemalu dan lemah lembut. Semenjak dia kabur dari pesantren, karakternya pun berubah drastis," keluh Aji seraya mengubah posisi duduknya.


Aslam hanya tersenyum tipis mendengar keluhan adik bungsunya itu, "ya aku juga tau bagaimana istrimu yang dulu, mungkin perubahan dalam hidupnya karena di Tangerang dulu dia pernah merasakan kehidupan yang keras," jawab Aslam.


Aji kembali berkelana dalam ingatannya. Memori tentang pengakuan Intan dan Aga kembali membuatnya merasa geram. Rasa sakit itu kembali merasuk ke dalam hatinya karena lagi dan lagi Aji harus membayangkan betapa hancurnya Intan saat itu.


"Haruskah aku bicara dengan Mas Sholeh tentang Ning Firda dan istriku, Mas? aku merasa tidak enak hati, sebagai yang paling muda, aku merasa tidak menghormati Ning Firda." Aji bimbang menyikapi situasi yang terjadi saat ini.


Tampaknya Aslam sedang berpikir, ia mencoba mencari jalan yang tepat untuk kebimbangan Aji. Keheningan pun mulai menyapa gazebo itu, hanya ada anak-anak Aslam yang sedang asyik bersepedah di halaman luas itu.

__ADS_1


"Sepertinya kamu tidak usah menemui mas Sholeh, Ji ... aku takut mas Sholeh marah setelah mengetahui sikap istrinya selama ini," ucap Aslam dengan pandangan yang tak lepas dari Aji.


"Aku rasa sikap Ning Firda berubah semenjak Mas Sholeh menikah lagi. Menurutku, Ning Firda itu berada dalam fase setres karena tidak bisa meluapkan isi hatinya," lanjut Aslam.


Perbincangan terus berlanjut, Aslam menceritakan tentang istri kedua Sholeh selama ini yang ternyata adalah gadis incarannya saat kuliah. Namun, karena perjodohan yang sudah diatur oleh kyai Yusuf, ia pun akhirnya melupakan gadis itu dan menikah dengan Firda. Aslam pun beropini jika Firda merasa cemburu karena tahu siapa sebenarnya istri kedua suaminya itu.


"Mas Aslam tidak mengikuti jejak mas Sholeh kah?" tanya Aji setelah Aslam bercerita.


Aslam tersenyum kecut setelah mendengar pertanyaan adiknya itu, sesuatu yang tak pernah terbesit dalam hatinya walau hanya seujung kuku, "istri satu aja kadang aku salah terus, apalagi punya istri dua, Ji!" seloroh Aslam dengan mata yang tertuju kepada anak-anaknya, ia mengamati apa yang dilakukan anaknya.


"Pernikahan yang berawal tanpa cinta tidak seburuk itu, Ji. Aku dan Isna akhirnya jatuh cinta seiring berjalannya waktu. Poligami sendiri tidak ada dalam daftar keinginanku selama ini," ucap Aslam.


Aji menjadi lebih tenang saat mendengar petuah dari Aslam. Tak lama setelah itu, terlihat Isna membawa dua botol susu untuk anak-anaknya. Entah sengaja atau tidak, yang pasti Isna meninggalkan kakak beradik itu dengan waktu yang cukup lama.


"loh kenapa semua bajunya dikeluarkan dari almari?" tanya Aji setelah sampai di dalam kamar. Ia heran saja melihat pakaian yang ada di atas ranjang.


Intan hanya terisak, ia mengusap sisa air matanya sebelum menjawab pertanyaan sang suami, "saya mau pulang ke rumahnya Papah saja, saya gak mau di sini!" ujar Intan dengan air mata yang tak bisa berhenti menetes.


Aji terkesiap setelah mendengar ucapan Intan. Ia segera mendekat ke tempat sang istri berada. Semua ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, ia tidak mau kekacauan ini terus berlangsung. Tanpa banyak bicara Aji meraih tubuh sang istri ke dalam dekapannya.


"Sayang, jangan ngomong seperi itu! kamu tidak boleh kemana-mana!" ucap Aji seraya mengusap punggung yang sedang bergetar itu.

__ADS_1


"saya gak mau ketemu si Pirda itu, Mas! kenapa sih ucapannya selalu pedas dan seenaknya sendiri!" Intan sedang meluapkan emosinya di dada sang suami. "padahal sebagai saudara yang paling muda, saya udah ngalah loh sama dia tapi kok ya saya ini salah terus!" keluh Intan di sela-sela isak tangisnya.


Aji menghela napasnya panjang setelah mendengar keluh kesah sang istri. Rasa tenang yang tadi pagi ia rasakan bersama Intan kini hilang begitu saja karena mulut pedas sang ipar.


" Semua ini Gara-gara klanting dengan tambahan rasa pedas hot jeletot dari Ning Firda!" batin Aji.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️ Insyaallah up satu lagi, mungkin entar malem kalau gk ada halangan😎


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


Aku ada rekomendasi novel keren nih😍 kepoin yuk karya author Chika Ssi dengan judul Tentang Bintang dan Galaxy😎 nih ada sedikit blurb nya biar kalian penasaran😍


“Kamu itu nggak pantas ikut lomba! Berkacalah! Lihat wajahmu yang buruk itu! Dipenuhi bercak putih nggak jelas! Aku rasa itu adalah alasan, kenapa kamu dicampakkan sama keluargamu sendiri!" ~ Bulan Purnama


"Jika bisa memilih, aku juga ingin memiliki wajah cantik sepertimu, Bulan. Mengenai lomba ini aku hanya mengikuti lomba baca puisi! Bukan lomba kecantikan! Apa orang sepertiku tidak pantas memiliki prestasi walau hanya secuil?" ~ Bintang Bellatrix


"Kamu itu tidak aneh, tapi unik! Nggak usah dengerin apa kata orang. Pura-pura tuli dan buta, terkadang bisa menjadi alternatif terbaik untuk menjaga hatimu sendiri. Setiap orang dilahirkan spesial, dan kamu adalah salah satunya!" ~ Galaksi Milkyway

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2