Surga Hitam

Surga Hitam
Bidadari Surga,


__ADS_3

Satu bulan kemudian ....


Hari terus berganti mengikuti waktu yang terus berlalu. Kehidupan Intan selama satu bulan ini berjalan normal seperti biasanya, tidak ada sesuatu yang berbahaya terjadi dalam hidupnya. Niko pun tak pernah muncul di hadapannya lagi.


Setiap hari Intan berangkat bekerja seperti biasanya, di hari minggu pun Intan masih bernyanyi di Cafe D'Lilac bersama Kinar. Alkohol jarang sekali di sentuhnya, hanya beberapa gelas saja setiap minggunya. Kinar pun mendukung apa yang saat ini dilakukan oleh Intan, ia ingin sekali Intan bisa bahagia dengan pria bernama Aji itu. Tapi Intan belum bisa berhenti menyentuh rokok. Memang begitulah, perubahan tidak bisa di lakukan secara langsung, akan ada proses panjang yang di butuhkan agar bisa berubah sepenuhnya.


Perhatian dan cinta yang besar telah di curahkan Aji setiap harinya, meskipun semua itu hanya lewat sambungan suara atau video call. Aji pun sering mengirim barang-barang untuk Intan, terkadang ia mengirim buket bunga mawar, sebagai wujud rasa yang ia miliki untuk gadis berambut sebahu itu.


Siluet jingga berpadu dengan langit yang biru, menghasilkan lukisan indah di cakrawala barat. Sang raja sinar mulai bergerak turun menuju singgasananya. Suara kicauan burung yang bersahutan pun mulai terdengar merdu.


Lebih dari satu jam Intan mematut dirinya di depan cermin. Ia sedang bersiap, karena setelah ini Aji akan menjemputnya untuk double date bersama Farhan. Awalnya Intan menolak ajakan Aji, tapi setelah Aji membujuknya, akhirnya Intan bersedia untuk pergi bersamanya.


Intan tersenyum manis, ketika melihat dirinya sendiri dari pantulan cermin yang ada di hadapannya. Sebuah long dress berwarna mocca yang di padukan dengan manset putih, membuat penampilan sempurna sore ini. Seperti biasa, ia akan memakai pakaian tertutup jika bertemu dengan Aji.


Selama satu bulan ini, Aji mengirimkan beberapa baju lengkap dengan kerudung untuk Intan. Ia sangat bahagia jika melihat Intan mau menutup aurat ketika ada di dekatnya.


"Sempurna!" gumam Intan setelah selesai memakai pasmina pemberian dari Aji.


Intan merasa ada yang kurang karena Kinar tidak ada di sisinya saat ini. Tidak ada suara lantang gadis itu ketika melihat penampilan Intan kurang sempurna. Kinar ikut ke Serang bersama Pak Gatot, Bu Leni dan juga Tommy. Di sana ada acara keluarga yang wajib di hadiri oleh mereka semua.


Tin ... tin ....


Intan segera meraih tasnya, ketika mendengar suara klakson mobil yang berhenti di depan kontrakannya. Sudah bisa di pastikan jika itu adalah mobil Aji. Intan tidak bisa melangkahkan kaki seperti biasanya, ia ribet dengan long dress yang di pakainya saat ini.


"Padahal gue dulu selalu pakai rok, tapi sekarang kok ribet banget ya!" gerutu Intan seraya membuka kunci kontrakannya.


Intan tertegun setelah pintu kontrakannya terbuka. Sebuah senyum tipis terbit begitu saja ketika melihat sosok yang berdiri di hadapannya. Sosok pria tampan yang memakai kemeja berwarna milo, rambutnya pun tersisir rapi ke belakang.


"Mau berangkat sekarang?" tanya Aji setelah melihat pemandangan indah di hadapannya.


Intan hanya menganggukkan kepala, entah mengapa, suaranya mendadak hilang karena di landa rasa gugup, apalagi ketika melihat Aji membukakan pintu mobil samping yang ada di depan, Intan semakin salah tingkah di buatnya.

__ADS_1


"Silahkan masuk," titah Aji ketika melihat Intan hanya diam di samping pintu.


"Terima kasih, Gus," ucap Intan sebelum Aji menutup pintu mobilnya.


Intan berusaha menetralkan detak jantungnya yang tak beraturan. Apalagi ketika Aji sudah duduk di kursi kemudi, irama jantungnya pun semakin tak beraturan. Intan tidak habis pikir, mengapa dirinya tidak bisa bersikap normal seperti bersikap kepada Tommy dan teman pria lainnya. Aji benar-benar membuatnya gugup dan tak karuan.


"Kemana temanmu yang biasanya?" Akhirnya Aji memecah keheningan yang terasa di dalam mobilnya.


"Kinar sedang pergi bersama keluarganya ke Serang, Gus." Sekilas Intan menatap Aji yang sedang fokus dengan kemudinya.


"Oh, lalu kenapa hari ini kamu tidak kerja? bukan kah setiap sabtu kamu kerja sampai malam?" tanya Aji seraya menatap Intan sekilas.


"Yang punya studio tato kan papahnya Kinar, jadi ya studio harus tutup kalau Pak Gatot dan Bang Tommy tidak ada di sini," ucap Intan.


Akhirnya, mereka berdua ngobrol santai dengan membahas berbagai topik. Aji pun mulai mencari tahu apa saja yang di lakukan Intan selama ini, karena menurutnya, Intan masih menyimpan banyak rahasia dalam dirinya.


"Apa Gus tidak takut jika jalan berdua dengan saya seperti saat ini?" Intan mengalihkan pembicaraan ketika menyadari jika Aji sedang mengulik informasi tentang dirinya.


"Ya kan seharusnya Gus tidak boleh seperti ini, nanti di marahin Abah sama Ummi loh!" ucap Intan seraya menatap Aji.


"Abah dan Ummi kan gak ada di sini. Jadi aman 'kan?" seloroh Aji dengan di iringi tawa renyah setelahnya.


"Ternyata Gus Aji nakal juga ya!" Intan tergelak setelah melihat Aji yang sedang tertawa lepas.


Kecanggungan diantara mereka sepertinya mulai hilang. Banyak topik yang sudah mereka bahas, selama dalam perjalanan menuju Cafe yang sudah di tentukan oleh Farhan. Setelah menghabiskan waktu selama dua puluh menit, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.


Intan dan Aji segera masuk ke dalam cafe. Mereka memilih tempat di sudut ruangan. Nuansa cafe yang unik, membuat mereka berdua menjadi nyaman.


"Kita pesan minum aja dulu sambil menunggu temanku datang," ucap Aji setelah melambaikan tangannya ke arah waiters.


Suara adzan magrib mulai terdengar di salah satu masjid yang ada di tengah Kota. Aji pamit pergi ke musholla yang ada di bagian belakang cafe, untuk menunaikan kewajiban tiga rakaatnya, tepat setelah minuman yang ia pesan telah datang.

__ADS_1


"Kamu minum dulu ya, aku mau sholat sebentar," ucap Aji sebelum meninggalkan Intan.


"I-iya, Gus," Intan menganggukkan kepalanya.


Sepeninggalan Aji, Intan mengeluarkan ponselnya. Ia ingin memberikan kabar kepada Kinar, jika dirinya saat ini sedang double date bersama Aji dan temannya. Intan senyum-senyum sendiri ketika membaca isi pesan yang di kirim oleh Kinar.


"Eh, lu jangan gila ya! mana mungkin Mas Ustad berani nyulik gue! lo tenang aja, gue pasti aman kalau sama Mas Ustad," ucap Intan saat mengirim pesan suara kepada Kinar.


Intan menyimpan ponselnya ke dalam tas setelah selesai berbalas pesan dengan Kinar. Ia mengedarkan pandangan untuk melihat interior cafe yang tertata rapi itu. Pengunjung yang belum seberapa banyak pun menambah kenyamanan cafe ini.


Setelah selesai menunaikan kewajibannya, Aji segera keluar dari musholla yang ada di belakang Cafe ini, ia tidak ikut dzikir seperti yang biasa di lakukan setiap selesai sholat fardhu, karena hatinya tidak tenang meninggalkan Intan seorang diri di dalam Cafe.


Senyum Aji merekah begitu saja ketika melihat Intan masih ada di tempatnya. Terlihat jelas jika Intan sedang mengulas senyum manisnya sambil menikmati minuman yang ia pesan tadi.


Aji segera mengeluarkan ponselnya untuk mengabadikan potret bidadari surga yang belum menyadari kehadirannya itu, "Sampai kapanpun kamu adalah bidadari surga yang selalu ada di hatiku, Tan," batin Aji seraya melihat hasil jepretannya.



Sumber: Instagram


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️


_


_


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2