Surga Hitam

Surga Hitam
Sayang?


__ADS_3

Suara isak tangis terdengar memilukan. Aji terus mendekap tubuh lemah sang istri yang sedang duduk bersimpuh di sisi makam yang tidak terawat itu. Aji terus memberikan semangat untuk istrinya yang sedang berduka karena kepergian semua anggota keluarganya.


"Kenapa takdir saya seperti ini, Gus! Allah itu jahat sama saya Gus!" teriak Intan di sela-sela tangisnya. Intan membenamkan wajahnya di dada Aji.


"Tidak boleh ngomong seperti itu! Allah maha penyayang. Mungkin Allah sedang menyiapkan takdir yang indah untuk masa depanmu nanti." Aji terus berusaha untuk menenangkan jiwa yang sedang rapuh itu.


"Sekarang kita baca tahlil saja ya, kita doakan semua keluargamu agar mendapatkan tempat terindah di sisi-Nya." Aji mengurai tubuh Intan, ia menghapus linangan air mata yang membasahi pipi mulus itu.


Lantunan doa mulai terdengar disana, Intan menundukkan kepalanya. Ia semakin tergugu karena teringat keluarganya telah pergi meninggalkan ia seorang diri di dunia ini. Rasa rindu itu begitu menyiksa, apalagi ketika yang di rindukan tak ada lagi di dunia ini.


"Ya Allah ... sekali lagi Engkau memberikan hamba kejutan yang tak terduga. Engkau membiarkan hamba seorang diri di dunia ini, hamba hanya ingin setelah ini Engkau tidak mengambil orang-orang yang ada di dekat hamba, terutama yang saat ini sedang melantunkan ayat-Mu." Intan hanya bisa mengucapkan harapannya dalam hati.


Hampir satu jam meraka berada di makam umum itu. Setelah selesai membersihkan makam, Aji mengajak Intan untuk segera keluar dari area makam karena mereka harus segera berangkat ke Tangerang.


Kini, mobil putih itu mulai melaju di jalan raya. Aji fokus pada kemudinya sedangkan Intan sibuk menyelami pikirannya sendiri. Ia hanya diam dengan pandangan lurus ke depan.


"Ya Allah kuatkan hati istri hamba," gumam Aji dalam hatinya setelah menatap Intan yang sedang termenung.


Beberapa puluh menit kemudian, Aji mulai mengarahkan mobilnya ke arah jalan tol menuju Jakarta, ia harus melalui jalur itu agar cepat sampai di Tangerang. Sesekali Aji menatap Intan yang sedang terlelap, senyum manis pun terbit dari bibirnya ketika melihat wajah manis yang ada di sampingnya itu.


Aji menurunkan kecepatan mobilnya ketika melihat ada rest area di depan. Ia harus istirahat terlebih dahulu untuk makan siang dan meregangkan tubuhnya.


"Tan, Intan!" Aji membangunkan Intan ketika mobilnya berhenti di rest area, "ayo makan siang dulu," ucap Aji setelah kelopak mata Intan terbuka lebar.


"Ini sudah sampai di mana, Gus?" tanya Intan setelah mengamati beberapa ruko yang ada di hadapannya.


"Jawa Tengah. Ayo turun!" jawab Aji seraya melepas sabuk pengamannya.


Aji meraih telapak tangan Intan, di genggamnya telapak tangan yang lembut itu seraya berjalan menuju salah satu resto yang ada di sana. Aji tak melepaskan genggamannya walau hanya sebentar saja.

__ADS_1


"Mau makan apa?" tanya Aji setelah duduk di salah satu meja yang ada di dekat jendela.


Intan meraih buku menu yang ada di hadapannya, ia membaca satu persatu menu yang ada di sana dan pilihannya jatuh pada menu umum yang biasa ia lihat di warung-warung kaki lima—Ayam bakar madu.


"saya mau minum air mineral saja, Gus!" ucap Intan setelah melihat minuman yang tertulis di buku menu itu.


Aji menulis pesanannya lalu ia memberikan buku menu itu kepada salah satu waiters yang ada di meja kasir. Ia segera kembali ke tempat istrinya berada saat ini.


"Bagaimana keadaanmu saat ini?" tanya Aji seraya menatap Intan, "apa kepalamu tidak sakit?" Aji hanya ingin memastikan jika kondisi istrinya baik-baik saja.


"sedikit nyeri, Gus!" ucap Intan seraya menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri.


"Ingat kata dokter! jangan terlalu banyak pikiran yang membuatmu setres, biar cepet sembuh! oke?" Aji mengingatkan Intan tentang pesan dokter sebelum istrinya itu pulang dari rumah sakit.


Intan hanya mengembangkan senyumnya, hari ini semangatnya hilang entah kemana. Rasa duka mendominasi hatinya saat ini. Kenangan indah bersama keluarganya mulai muncul dalam memorinya, ia pun tak tahu harus bagaimana memupus hati yang di selimuti duka nestapa.


"Ayo makan, terus minum obat!" ucap Aji ketika pesanannya telah datang.


Mereka berdua menikmati makan siang bersama dan setelah itu mereka segera sholat dzuhur sebelum melanjutkan perjalanan panjangnya. Setelah berada di rest area hampir satu jam lebih, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju Tangerang.


***


Gemerlap bintang terlihat indah di langit gelap kota Tangerang. Cahayanya mendominasi malam ini hingga sang rembulan malu untuk menampakkan diri. Jalanan kota Tangerang mulai sepi karena jarum jam sudah berada di angka sebelas malam.


Mobil yang dikendarai Aji pun mulai memasuki daerah Ciputat. Gurat-gurat kelelahan terlihat jelas di wajah tampan yang sedang fokus dengan kemudinya itu. Sesekali ia menguap karena rasa kantuk mulai melanda jiwanya.


"Gus, kita pulang ke kontrakan masing-masing saja ya," ucap Intan setelah berpikir panjang.


"kenapa begitu?" Aji mengerutkan keningnya karena belum paham maksud sang istri.

__ADS_1


"Nanti kita digrebek orang komplek, Gus. Di sangka kumpul kebo," ucap Intan seraya mengubah posisi duduknya menghadap Aji.


Kini Aji yang terdiam, ia tengah memikirkan pendapat Intan yang benar adanya. Tapi ia sendiri tidak tega jika membiarkan Intan berada di kontrakannya seorang diri.


"Bagaimana kalau kamu nginep saja di rumahnya Papah?" tanya Aji setelah menemukan sebuah solusi.


"Kenapa harus nginep dirumah Papah? saya kan sudah biasa tinggal sendirian," ucap Intan.


"aku tidak tega jika kamu berada di kontrakan sendirian, kamu belum sepenuhnya pulih, Sayang!" kekhawatiran terlihat jelas di wajah Aji.


Intan tertegun setelah mendengar kata terakhir yang baru saja di ucapkan suaminya itu. Hidungnya kembang kempis karena tersipu, "bisa di ulangi Gus, satu kata terakhir tadi?" ucap Intan dengan binar bahagia yang terlihat dari sorot matanya.


Aji belum sadar jika Intan sedang menggodanya, ia mencoba mengingat kata apa yang sudah ia ucapkan hingga membuat istrinya itu tersipu, "Sayang?" gumam Aji seraya mengalihkan pandangannya ke arah Intan.


Intan mengalihkan pandangannya ke arah lain, entah mengapa rasanya ia sangat malu ketika Aji mengucapkan kata itu. Toh, baru kali ini ada pria yang memanggilnya 'Sayang'.


"Apa kamu suka jika aku memanggilmu 'Sayang'?" tanya Aji setelah sekilas menatap wajah istrinya itu.


"Tentu saja! Panggilan 'Sayang' sepertinya cukup romantis untuk pasangan yang sedang jatuh cinta," ucap Intan seraya menatap Aji dengan sorot penuh makna.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍


_


_

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2