Surga Hitam

Surga Hitam
Kerudung terbang!


__ADS_3

Waktu terus berjalan tanpa kenal lelah, hari demi hari berganti mengikuti jalannya waktu. Intan dan Aji pun mulai disibukkan dengan segala persiapan menjelang hari pernikahan mereka. Mulai dari undangan, souvernir, foto prewedding hingga keperluannya lainnya. Semua itu sudah Aji siapkan dari Tangerang bersama Intan.


Pagi ini Aji dan Intan sibuk menata barang-barang yang akan di bawa ke Jombang karena nanti malam mereka akan berangkat ke Jombang. Persiapan di sana hampir selesai, surat-surat pernikahan pun sudah selesai, mereka berdua tinggal rapak dua minggu sebelum akad nikah itu dilaksanakan. Dekorasi, pelaminan dan segala perlengkapan resepsi sudah di handle oleh WO dari Jombang.


"Gus, jangan lupa nanti kita mampir dulu ke Papah sebelum berangkat!" ucap Intan setelah selesai menata barang-barang bawaannya di dalam mobil.


"Iya, nanti sore kita mampir ke Papah," ucap Aji tanpa menatap Intan. Ia sibuk mengecek kondisi mobilnya sebelum dipakai perjalanan jauh.


Intan meninggalkan Aji sendirian diteras rumahnya. Ia masuk ke dalam rumah untuk mengambil bolero karena dari jauh terdengar suara teriakan Kang sayur yang biasa berhenti di depan rumah tetangganya.


"Bang, wortelnya masih ada?" tanya Intan setelah sampai di dekat gerobak Kang Sayur tersebut.


"waduh habis, Neng! ganti sayur lain saja deh," ucap Kang sayur itu.


"Kembang kol ada Bang?" tanya Intan lagi tanpa menatap Kang sayur itu, ia sibuk memilih ikan segar yang ada di dalam box putih itu.


"Ada dong Neng!" ucap Kang Sayur itu seraya mengambilkan sayur yang di maksud Intan.


Intan mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara Bu RT dan gengnya tiba di sana. Intan menghela napasnya karena Bu RT dan geng nya itu pasti ada saja yang di bahas. Mereka seakan tak pernah kehabisan stok bahan untuk dijadikan omongan saat belanja.


"Neng, mau pulang ke kampung ya?" tanya bu Susi, salah satu anggota geng julid Bu RT.


"Iya Bu. Nanti malam," jawab Intan singkat. Ia tidak mau terlalu banyak bicara dengan geng Bu RT itu.


Intan segera membayar barang belanjaannya karena tidak tahan dengan ocehan tetangganya itu. Entah ada saja yang mereka bahas hingga membuat Intan menjadi dongkol.


Beberapa menit kemudian Aji mengernyitkan keningnya tatkala melihat istrinya pulang dengan wajah yang tertekuk. Bibirnya pun mengerucut sempurna. Tatapannya tak lepas dari wanita yang menghempaskan diri di sampingnya itu.


"Saya gak mau masak!" ujar Intan setelah meletakkan barang belanjaannya di lantai.

__ADS_1


"Saya kesel!" ujarnya lagi.


Intan menundukkan kepalanya, ia menangis karena kesal mendengar ocehan para emak-emak julid yang tiada habisnya itu. Tentu saja, apa yang dilakukan Intan saat ini membuat Aji semakin heran.


"Kenapa? pulang belanja kok tiba-tiba begitu?" tanya Aji seraya memalingkan wajah Intan agar menatapnya, "Kol nya kan gak salah? kenapa dibuang?" lanjut Aji setelah melihat Intan membuang sebagian barang belanjaannya.


Intan tak menjawab pertanyaan suaminya itu, ia malah sibuk menangis di dada Aji. Apa yang dilakukan Intan saat ini persis seperti kelakuan bocah SD. Ia kesal setiap geng Bu RT itu menyebut nama Rani di hadapannya.


"Kok nangis? Kang Sayurnya berbuat apa sih?" Aji sangat penasaran dengan apa yang terjadi.


"Itu temennya Bu RT suka bilang kalau saya gak cocok jadi istrinya Gus! mereka selalu menyebut nama Rani dan membandingkan saya dengan gadis itu!" Intan meluapkan kekesalannya kepada Aji, "mereka selalu nyindir saya 'kerudung terbang' setiap ketemu!" ujar Intan di sela-sela isak tangisnya.


Aji mengulum senyumnya ketika mendengar aduan Intan. Ia mengusap rambut hitam itu untuk menenangkan jiwa yang dilanda rasa tidak tenang. Setelah isak tangis itu berhenti, Aji mengurai tubuh Intan, ia mengusap sisa air mata yang membasahi pipi mulus itu.


"Kenapa sekarang kamu menjadi cengeng hemm?" tanya Aji seraya menatap mata sembab itu, "bukankah dulu sudah aku katakan—kamu bebas memilih apapun yang kamu suka, kamu mau berkerudung atau tidak aku tidak masalah, asal kamu bisa bertanggung jawab dengan pilihanmu sendiri," ucap Aji, ia mencoba menenangkan istrinya itu agar tidak bersedih.


"Kamu pasti tau 'kan bagaimana maksudku?" tanya Aji dengan tatapan penuh arti


"Kalau tidak siap mendengar ocehan ibu-ibu komplek, kamu bisa berkerudung. Itupun harus pakai niat—semua yang kamu lakukan itu karena Allah, bukan karena menghindari sindiran ibu-ibu komplek!" ucap Aji sambil menepuk pundak istrinya itu.


"Sekarang cuci muka dulu gih! setelah itu kita cari sarapan di luar saja, naik itu!" ucap Aji sambil menunjuk sepeda keranjang yang ada di samping mobil.


Binar bahagia mulai terlihat dari sorot mata belo itu, Intan bergegas masuk ke dalam rumah untuk bersiap sebelum berburu sarapan di luar komplek bersama suami tercinta.


Lima belas menit telah berlalu, Intan keluar dari kontrakan dengan pakaian yang rapi. Ia menghampiri Aji yang sedang memompa ban sepeda berwarna hitam itu.


"pintunya sudah dikunci?" tanya Aji sebelum memposisikan dirinya di atas jok sepedanya.


"sudah, Gus!" ucap Intan seraya naik di boncengan sepeda keranjang itu.

__ADS_1


Aji segera mengayun sepedahnya, memutari komplek perumahan yang selama ini ia tinggali itu. Keduanya terlihat bahagia karena menikmati udara pagi yang terasa menyegarkan itu. Intan melingkarkan kedua tangannya di perut Aji. Sungguh, mereka terlihat sangat romantis.


"kita sarapan di situ yuk!" ucap Intan ketika mereka melewati kedai soto daging.


"jangan yang itu, kurang enak! mending yang di depan SD aja!" tolak Aji.


Aji semakin cepat mengayun sepedahnya. Cacing-cacing di perutnya sudah protes sejak subuh, tapi ia harus menahannya karena drama emak-emak julid yang membuat istrinya mogok masak.


"Gus, mau soto daging atau ayam?" tanya Intan setelah mereka sampai di depan kedai soto itu.


"Soto daging saja," ucap Aji seraya turun dari sepedahnya.


Aji segera menyusul Intan yang sudah berada di dalam. Ia memilih tempat duduk di dekat pintu masuk karena di dalam sudah dipenuhi orang-orang yang sedang sarapan.


"tumben gak pesan kopi?" tanya Aji ketika melihat Intan membawa air mineral botol.


"lagi gak mood kopi," ucap Intan setelah duduk di samping Aji.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya dua porsi soto yang di pesan Intan telah tersaji di atas meja. Intan mulai meracik perlengkapan soto yang tersedia di atas meja—mulai dari irisan jeruk nipis, kecap manis dan sambal. Aroma soto daging itu benar-benar menggoda, membuat cacing-cacing mereka berdua menjerit karena lapar.


"Hmmm, Gus Aji gak salah pilih tempat nih! enak banget, Gus!" ucap Intan setelah mencicipi satu sendok soto hasil racikannya.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️


_

__ADS_1


_


🌷🌷🌷🌷


__ADS_2