Surga Hitam

Surga Hitam
Saya belum siap, Gus!


__ADS_3

"Kamu terlihat lebih cantik malam ini," ucap Aji setelah berdiri di hadapan Intan.


Intan memberanikan diri untuk menatap wajah tampan di hadapannya. Kedua manik hitam itu bersirobok, saling menyelami untuk mencari sebuah rasa yang menggetarkan jiwa. Perlahan Aji mengulurkan tangannya untuk menyusuri wajah tanpa polesan make-up itu. Jari jemarinya bermain-main di pipi mulus itu hingga membuat si empu menutup kelopak matanya, menikmati sentuhan lembut dari sang suami.


Aji mendaratkan kecupan mesra di kening Intan, ia mengusap rambut hitam itu dengan lembut dan penuh kasih. Tangan Aji mulai bermain-main dengan kancing piyaman Intan hingga semua kancing itu lolos dari lubangnya. Untuk pertama kalinya Aji melihat tato mawar yang ada di dada Intan. Jari-jarinya mulai menari-nari di atas gambar mawar itu.


Semua yang di lakukan Aji saat ini berhasil membuat Intan bergetar. Rasanya ia belum siap untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Ia menundukkan kepala karena tiba-tiba saja kenangan pahit itu terlintas di kepalanya.


Tubuh Intan semakin meremang tatkala tangan Aji berpindah ke celana piyamanya. Setetes air mata turun begitu saja tanpa permisi, entah apa sebenanrnya yang membuat Intan harus menangis di saat-saat seperti ini.


"Ada apa?" tanya Aji seraya mengangkat dagu Intan agar ia bisa melihat wajah yang sedang bersedih itu.


Intan menggelengkan kepalanya pelan, ia tak sanggup jika harus mengatakan semua rasa yang sedang berkecamuk di dada. Semakin lama air mata itu semakin turun dengan derasnya, Intan pun tidak bisa menghentikan derai air matanya.


Aji segera mendekap tubuh yang bergetar itu, ia menghujani puncak rambut Intan dengan kecupan. Hilang sudah h-a-s-r-a-t yang sempat menyerang jiwa, kini yang ada hanya rasa bersalah karena membuat istrinya menangis.


"Sudah ya, jangan menangis lagi," ucap Aji setelah menghujani Intan dengan kecupan, "maafkan aku," ucap Aji dengan suara yang lirih.


Aji terus mendekap tubuh itu hingga berhenti bergetar, suara isak tangis pun tak terdengar lagi. Intan semakin membenamkan wajahnya di dada Aji, ia pun semakin mengeratkan pelukannya.


"Maaf, Gus. Saya belum siap melakukannya," ucap Intan dengan nada penuh sesal.


Aji memejamkan mata, ia harus bisa melawan rasa kecewa yang menggelitik hatinya. Aji mengurai tubuh Intan lalu di tatapnya wajah yang di penuhi air mata itu.


"Tidak masalah, aku bisa menunggumu sampai kamu benar-benar siap melakukannya," ucap Aji seraya mengusap pipi Intan yang basah karena air mata.


Intan kembali membenamkan wajahnya di dada itu. Rasa bersalah yang besar mulai datang menghampirinya. Ia sendiri tidak tahu bagaimana caranya menghapus memori buruk itu dari pikirannya. Setiap Aji mulai menyentuh area-area sensitifnya, tubuhnya bergetar karena merasakan takut—ia seperti kembali ke masa itu, di mana peristiwa menyakitkan itu terjadi.


Aji mengurai tubuh Intan lalu ia menuntun Intan ke sisi ranjangnya. Perlahan ia mendudukkan tubuh Intan di atas ranjang dan ia pun berlutut di hadapan istrinya itu.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita ke Psikiater?" tanya Aji seraya menatap wajah Intan. Tangannya kembali mengaitkan kancing piyama itu agar tertutup kembali. Aji hanya tersenyum tipis tatkala kedua bola matanya menatap dua bongkahan indah di hadapannya.


Intan hanya diam, ia sedang memikirkan tawaran dari Aji. Ia sendiri bingung harus bagaimana menghilangkan rasa takut itu dari pikirannya, "tidak perlu, Gus. Beri saya waktu untuk melawan semua rasa takut yang membelenggu jiwa," ucap Intan dengan pandangan yang tak lepas dari wajah yang ada di hadapannya.


"Terus kamu mau nya bagaimana?" tanya Aji saat bangkit dari hadapan Intan, ia mendaratkan tubuhnya di samping istrinya itu.


"Kita melakukannya bertahap saja, Gus. Kita cari bersama jalan keluarnya agar tubuh saya bisa terbebas dari rasa itu," ucap Intan seraya menatap Aji dengan sorot mata penuh harap.


Aji mengembangkan senyumnya, ia mencoba memahami apa yang di inginkan istrinya itu. Ia pun harus mencari cara agar bisa menyingkirkan semua ketakutan yang membelenggu jiwa sang istri.


Setelah beberapa menit membahas masalah yang sedang terjadi, akhirnya mereka berdua merebahkan tubuh di atas ranjang itu. Rasa kantuk mulai menyerang keduanya hingga membuat kelopak mata itu tertutup rapat.


***


Rasa hangat perlahan menjalar di sekujur tubuh Intan, ia menelusupkan wajahnya di guling yang sedang ada dalam dekapannya saat ini. Tidur nyenyak itu pun harus terusik karena tiba-tiba saja Intan mendengar suara dengkuran halus di atas kepalanya.


"loh!" Intan terkejut setelah membuka kelopak matanya, ternyata yang ia peluk bukanlah guling melainkan Aji.


Perlahan, Intan mulai mengurai tubuhnya. Ia duduk di sisi Aji sambil menepuk pelan kedua pipi Aji. Mereka harus segera bangun karena saat ini sudah memasuki waktu subuh.


"Gus! bangun yuk!" ucap Intan seraya menarik tangan Aji hingga membuat si empu membuka kelopak matanya.


Setelah meregangkan otot-otot tubuh, keduanya bergegas keluar kamar menuju kamar mandi. Mereka membersihkan diri di kamar mandi berganti dan setelah itu mereka segera menunaikan kewajiban dua rakaatnya.


"Gus, nanti kita sarapan apa?" tanya Intan setelah melepas mukenahnya.


"Terserah kamu saja, aku nurut mau di masakin apapun," ucap Aji seraya menatap Intan.


Tak lama setelah itu Intan keluar dari kontrakan, langit pun masih terlihat gelap karena sang mentari masih terlelap dalam tidurnya. Intan berjalan ke sisi jalan, ia mengedarkan pandangan untuk mencari warung yang menjual sayur di komplek ini.

__ADS_1


"Ini masih gelap, ngapain di luar?" tanya Aji yang sedang berdiri di bingkai pintu.


"Saya mencari warung, Gus. Memang di sini kalau belanja sayur di mana?" tanya Intan


"Biasanya ada Kang sayur yang lewat tapi nanti jam enam. Kalau masih pagi buta seperti ini adanya di sana, di ujung pertigaan," ucap Aji seraya menunjuk jalan yang ada di depan halaman kontrakannya.


Intan pun mengajak Aji untuk berjalan kaki mencari sayur yang ada di ujung pertigaan. Aji tak keberatan akan hal itu dan mereka akhirnya berjalan beriringan menuju tempat yang di maksud Aji.


"Aku tunggu di sini ya, aku malu kalau ikut ke dalam," ucap Aji setelah mereka sampai di depan warung.


Intan menganggukkan kepalanya lalu ia masuk ke dalam warung yang lumayan ramai itu. Di sana ia bertemu dengan Bu RT yang kemarin ia kunjungi bersama Aji.


"Loh istrinya Pak Aji," ucap Bu RT setelah melihat Intan memilih sayuran.


"Bu ...." sapa Intan dengan di iringi senyum manisnya.


Tentu saja, suara bu RT itu pun membuat ibu-ibu yang lain mengalihkan pandangannya ke arah Intan. Mereka terkejut setelah melihat tato yang ada di tangan Intan. Mereka tidak percaya jika Aji memilih istri dengan penampilan seperti itu.


"Eh, Pak Aji nemu di mana ya istri seperti itu!" bisik salah satu ibu-ibu komplek kepada temannya.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️ 😍 maap ya upnya telat😝


_


_

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2