
"Assalamualaikum ...."
Semua orang yang ada di ruang keluarga mengalihkan pandangan ke tempat dua pria yang baru saja datang. Kedua pria tersebut tak lain adalah Aslam dan Aga. Kehadiran Aga disana membuat Aji menajamkan pandangannya, Intan pun ikut menatap Aga dengan mata yang membulat sempurna.
"Untuk apa dia datang ke rumah ini?" batin Intan dengan pandangan yang tak lepas dari Aga. Ia fokus pada luka memar yang ada di pipi kiri Aga, sebuah maha karya darinya dua hari yang lalu.
Semuanya semakin bingung tatkala melihat ummi Sarah memberikan kode kepada Aga agar duduk di sisi kiri, jadi ummi Sarah ada di antara Rahma dan Aga. Keduanya sama-sama menundukkan kepalanya.
"Rahma ...." ucap ummi Sarah seraya menatap Rahma, "Berhubung kamu dan Aga sama-sama memiliki perasaan yang sama, maka ummi merestui hubungan kalian," ucap ummi Sarah dengan iringan senyum yang sangat manis.
Rahma terkesiap setelah mendengar ucapan ummi Sarah, kedua matanya melebar sempurna karena belum percaya atas apa yang baru saja di dengarnya. Tentu saja Rahma terkejut bukan main, khayalan indah yang sempat membuatnya terbang, kini hilang sudah entah kemana.
"Tapi Mi ... sa—saya tidak mempunyai perasaan apapun kepada dia!" Rahma masih syok menghadapi situasi saat ini.
"ummi tahu kamu sedang berbohong saat ini. Kali ini ummi tidak mau tertipu lagi, Aga sudah menceritakan semuanya kepada ummi kemarin, jika kalian mempunyai perasaan yang sama," ummi Sarah mengusap lengan Rahma.
Semua yang ada di ruang keluarga pun belum percaya jika Aga dan Rahma saling mencintai. Semua terkejut termasuk salah satunya adalah Firda. Ia kecewa karena ummi Sarah tidak menikahkan Aji dengan Rahma.
Pandangan Aji dan Intan bersirobok, mereka benar-benar terkejut dengan berita ini apalagi Intan ... ia tidak percaya sedikitpun jika Aga memiliki perasaan kepada Rahma. Tapi ia memilih diam sambil menunggu kelanjutan drama yang ada di hadapannya.
"Bude ... saya berniat melamar Rahma satu minggu lagi, saya ingin akad nikah langsung agar kami memiliki ikatan yang sah," ucap Aga dengan suara yang lantang.
"Kalau bude sangat setuju, Ga. Nanti bude akan menelfon orang tuanya Rahma untuk menyampaikan hal baik ini, benar 'kan Ma?" ummi Sarah mengalihkan pandangan ke arah Rahma.
__ADS_1
"Ta ... tapi Mi, saya tidak mau menikah dengan Aga, saya maunya menikah dengan Gus Aji!" ucap Rahma tanpa sadar.
Jelas saja, apa yang diucapkan Rahma berhasil membuat Intan meradang. Menantu termuda ummi Sarah itu langsung terhenyak dari tempat duduknya setelah mendengar ucapan Rahma.
"Dasar tidak tahu malu!" teriak Intan seraya menatap Rahma dengan mata belonya yang melebar sempurna. Darahnya semakin mendidih karena Rahma pun berani menatapnya.
Aji berdiri dari tempat duduknya, ia mencoba menenangkan Intan agar tidak terpancing emosi. Ia membimbing Intan agar duduk kembali. Tatapan mata teduh itu pun berhasil membuat Intan luluh dan kembali ke tempat semula.
"kenapa harus jadi istri kedua, jika kamu bisa menjadi istri pertamanya Aga. Kalian kan memiliki perasaan yang sama, jadi untuk apa menunda pernikahan?" kali ini Sholeh angkat berbicara ketika melihat suasana yang menegangkan.
"Mas, nanti tolong bantu saya melamar ke orangtuanya Rahma ya," ucap Aga seraya menatap Sholeh dengan sorot mata penuh harap.
"Tentu saja, kita semua pasti siap membantumu," ujar Sholeh tanpa berpikir panjang.
"Ummi lega sekali karena akhirnya Rahma telah menemukan jodohnya. Apalagi jodohnya keponakan ummi sendiri," ucap ummi Sarah dengan diiringi ekspresi yang bahagia.
Obrolan terus berlanjut, mereka membahas masalah lamaran dan pernikahan yang akan di langsungkan secara dadakan itu. Sesekali Aga menatap wajah Intan yang terlihat sumringah di sisi suaminya. Aga pun bisa bernapas lega setelah melihat perubahan ekspresi wajah wanita yang selalu menjadi beban di hatinya itu.
"hanya ini yang bisa aku lakukan agar pernikahanmu selamat. Aku rela mengorbankan perasaanku untuk menikahi wanita yang tidak pernah aku cintai sedikitpun demi menebus rasa bersalahku kepadamu, Tan," gumam Aga dalam hatinya saat menatap Intan.
Ya, setelah kejadian malam itu ... Aga terus memikirkan semua yang dikatakan Intan. Ia mencari cara, bagaimana caranya agar bisa menyelamatkan Intan dari kehancuran. Aga benar-benar terbebani saat mengingat betapa hancurnya kondisi Intan malam itu. Keesokan harinya, setelah mendengar kabar bahwa ummi Sarah sudah sadar, Aga segera pergi ke rumah sakit untuk menjenguk bude nya itu. Sejak dari pondok ia sudah menyusun rencana untuk meyakinkan ummi Sarah bahwa dirinya memiliki rasa dengan Rahma. Aga pun sengaja berbohong dengan mengatakan jika Rahma juga memiliki perasaan yang sama.
"Saya hanya ingin menyampaikan bahwa saya mencintai Rahma, De! saya mendengar kabar bahwa bude akan menikahkan Aji dengan Rahma. Jujur saja saya tidak terima, De."
__ADS_1
"Aji sudah memiliki istri, De. Tolong beri saya kesempatan untuk menikah dengan wanita yang saya cintai. Saya belum berani mengatakan hal ini karena saya ingin menyelesaikan hafalan kitab terlebih dahulu, tapi setelah mendengar kabar ini, saya ingin menikahi Rahma sesegera mungkin,"
Seperti itulah permohonan yang disampaikan Aga saat menjenguk ummi Sarah di rumah sakit. Tentu saja berita yang disampaikan Aga seperti angin segar di tengah kemarau yang melanda hati ummi Sarah. Beban mengenai jodoh Rahma pun akhirnya hilang dan membuat kondisi ibu lima anak itu cepat pulih.
"Ga! ada lagi yang ingin kamu sampaikan?" tanya ummi Sarah sambil menepuk paha Aga, hal itu membuat Aga tersadar dari lamunannya yang mengingat kejadian kemarin saat di rumah sakit.
"Tidak ada, De ...." jawab Aga seraya mengalihkan pandangan ke arah ummi Sarah.
Perlahan pandangan Aga tertuju kepada gadis yang sedang menundukkan kepalanya di samping ummi Sarah. Ia sendiri merasa bersalah kepada Rahma, karena menyeret gadis itu ke dalam hidupnya.
"Maafkan aku karena aku sudah membuatmu ada dalam situasi ini," gumam Aga dalam hatinya ketika melihat wajah Rahma dari samping.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
Nih, aku punya rekomendasi karya untuk kalian 😍 mampir kuy♥️
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1