Surga Hitam

Surga Hitam
Ke Rumah Sakit,


__ADS_3

Sebuah mobil Avanza putih melaju dengan kencang di bawah teriknya matahari. Mobil yang di kendarai Aji itu berhasil membelah padatnya lalu lintas yang ada di daerah Ciputat. Pikiran Aji menjadi semakin kacau setelah bertemu dengan Pak Gatot dan juga Tommy. Seluruh kalimat yang di ucapkan Pak Gatot sebelum pergi dari cafe, berhasil membuat Aji merasa bersalah kepada Intan.


"Jika anda menyalahkan Intan dalam hal ini, berarti sama saja Anda menyalahkan Tuhan, karena semua yang terjadi di hidup Intan adalah takdir dari Tuhan."


"Saya tahu anda kecewa, tapi saya tidak terima jika anak angkat saya di hakimi karena kesalahan yang tidak pernah ia lakukan!"


Aji meremas setir mobilnya karena tak sanggup membayangkan apa yang sebenarnya terjadi. Pak Gatot tidak mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Intan. Hal itu semakin membuat kepala Aji menjadi pening.


"Apa yang sebenarnya terjadi? lalu siapa orang rumah yang dimaksud oleh Pak Gatot?" Aji bermonolog.


"Aku harus menemui Intan, aku harus memastikan apa yang sebenarnya terjadi," gumam Aji seraya mengarahkan setir mobilnya ke arah rumah sakit yang tadi di sebutkan oleh Tommy.


Mobil yang di kendarai Aji berhenti di tempat parkir rumah sakit setelah menghabiskan waktu selama dua puluh menit. Ia segera keluar dari mobilnya dan mengayun langkah menuju meja resepsionis yang ada di lobby rumah sakit.


"Permisi, saya mau tanya—di mana kamar inap pasien yang bernama Intan Rahma Ayunda?" tanya Aji kepada seorang perawat yang sedang berjaga.


"Ruang melati nomor 12, Pak," ucap perawat itu setelah mencari data Intan di komputernya, "silahkan Bapak masuk lewat pintu itu, nanti lurus saja terus belok kiri, pintu masuk ruangan melati ada di dekat taman ya, Pak." perawat itu menjelaskan di mana letak ruangan yang di cari oleh Aji.


"Terima kasih," ucap Aji sebelum berlalu dari hadapan perawat tersebut.


***


Sementara itu, Kinar mondar-mandir di depan pintu ruangan Intan. Ia resah karena memikirkan Papah dan Kakanya yang tak kunjung kembali, ia takut jika Tommy akan melakukan kekerasan kepada Aji.


"Duh! kenapa mereka belom balik sih!" gumam Kinar dengan raut wajah yang resah.


"Semoga aja mereka berhasil membawa si Aji kemari, kasian gue liat keadaan Intan." Kinar menatap Intan yang sedang terlelap di atas bednya.


Intan belum pulih sepenuhnya, terkadang ia masih muntah, efek dari naiknya asam lambung. Tentu saja, karena alkohol yang berlebihan lah yang membuat kondisinya seperti saat ini.

__ADS_1


Binar bahagia telah hilang dari sorot matanya. Kini sorot mata itu hanya menunjukkan kerapuhan yang ada dalam dirinya. Hatinya telah layu karena cintanya telah pergi begitu saja, harapan menjadi menantu Ummi Sarah pun telah hanyut terbawa air mata yang mengalir deras.


Kinar tak mengeluh sedikitpun meski harus merawat Intan beberapa hari ini. Pikirannya pun sedikit tenang karena Bu Leni masih berada di Serang sampai hari ini, beliau masih menunggu sang ibu yang sedang sakit.


Tok ... tok ... tok ....


Kinar terkesiap ketika mendengar pintu yang ada di sampingnya di ketuk dari luar. Ia segera membuka pintu itu untuk melihat siapa yang datang. Ada binar kebahagiaan yang terpancar dari sorot matanya tatkala melihat kehadiran Aji di sana.


"Silahkan masuk, Bang!" Kinar memberikan jalan kepada Aji agar pria itu segera masuk.


"Terima kasih," ucap Aji sebelum masuk kedalam ruangan.


Aji berdiri di sisi ranjang, di mana Intan sedang terbaring lemah, wajahnya terlihat pucat dan sedikit tirus. Aji merasa bersalah ketika melihat wajah tanpa make-up yang sedang terlelap itu.


"Apa Intan sudah makan siang?" tanya Aji saat mengalihkan pandangannya ke Kinar.


"Sudah, Bang. Tiga sendok aja, dia tidak bisa makan terlalu banyak," ucap Kinar.


"Hay," sapa Aji seraya menatap Intan.


Sekilas Intan menatap mata teduh yang selalu membuatnya berdebar itu, tapi tak lama setelah itu, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, tidak ada senyum manis untuk menyambut Aji seperti biasanya.


"Kinar ... untuk saat ini aku tidak mau menemui siapapun, tolong jangan izinkan siapapun masuk ke dalam ruangan ini kecuali Papah dan Bang Tommy." Intan mengubah posisinya. Ia memiringkan tubuhnya dan membelakangi Aji yang masih berada di sisi ranjangnya.


Aji tertegun setelah melihat respon Intan setelah melihat kehadirannya. Jujur saja Aji kecewa setelah Intan mengacuhkan kehadirannya. Aji hanya ingin minta maaf atas semua ucapan menyakitkan yang keluar dari bibirnya beberapa hari yang lalu.


"Aku datang kesini ingin bicara denganmu, Tan. Aku ingin minta maaf karena telah menyakiti hatimu," ucap Aji sambil menatap punggung Intan.


"Kinar ... aku ingin istirahat, aku tidak mau di ganggu!" ucap Intan dengan posisi tubuh yang tak berubah.

__ADS_1


Akhirnya Kinar memberikan sebuah kode kepada Aji, agar pria itu segera keluar dari kamar itu. Kinar mengantar Aji keluar ruangan, "jika masih ingin melihat Intan, Abang lihat dari sini saja," Kinar berjalan ke jendela kaca yang ada di dekat pintu.


"Apa kamu mengetahui sesuatu tentang Intan?" tanya Aji sambil menatap Kinar.


Kinar mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia tidak tahan untuk melihat sorot mata teduh yang menurutnya menakutkan itu, "Meskipun saya tahu, saya tidak mau mengatakan apapun sebelum Intan memberikan izin," ucap Kinar seraya mengalihkan pandangannya ke jendela untuk melihat keadaan Intan.


"Lihatlah, dia menangis lagi! itulah yang dia lakukan beberapa hari ini," ujar Kinar setelah melihat bahu Intan yang bergetar.


Sepeninggalan Aji dan Kinar, Intan tergugu karena harus melihat wajah pria yang menghantui pikirannya beberapa hari ini. Rasa sesak yang sempat memudar kini kembali hadir, membuat Intan kembali teringat masa lalunya yang pahit.


Tak ada lagi yang bisa Intan lakukan selain menumpahkan semua lukanya dalam tangis. Minum alkohol pun tidak bisa ia lakukan lagi karena tubuhnya sedang tidak baik-baik saja. Kondisinya belum pulih sepenuhnya.


Kinar kembali masuk ke ruangan setelah berbincang dengan Aji. Ia ikut frustasi melihat keadaannya Intan saat ini, ia bingung harus melakukan apalagi untuk mengembalikan senyum manis sahabatnya itu.


"Tan, udah dong—jangan nangis terus ya," ucap Kinar seraya duduk di atas bed Intan.


"Harusnya elu cerita aja ke dia, biar dia juga tahu apa yang sebenarnya terjadi," ucap Kinar sambil menatap tubuh Intan yang tidak bergetar lagi.


Intan hanya diam, ia tidak tahu harus berbuat apa. Jangankan untuk bicara, menatap Aji saja rasanya ia tak sanggup. Air mata itu terus menetes jika kedua manik hitamnya menatap mata teduh Aji.


"Kenapa dia datang lagi, Kin? aku masih sakit hati ketika mengingat semua ucapannya. Rasanya, dia bukan Aji yang aku kenal dulu," ucap Intan dengan suara yang bergetar.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️


_

__ADS_1


_


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2