
Gemerlap bintang bertaburan di langit yang gelap, sang rembulan memilih bersembunyi di balik awan gelap karena malu menampakkan cahayanya yang redup. Semilir angin malam mulai menerpa sosok wanita yang sedang mematut diri di depan cermin.
Aji menutup jendela kamarnya setelah merasakan dinginnya angin malam. Penampilannya sudah rapi dan ia pun siap berangkat, tinggal menunggu Intan yang sedang memoles wajahnya dengan make-up.
"Sayang, nanti mampir ke cafe sebentar ya," ucap Aji tanpa menatap Intan, ia sedang membalas pesan yang tertumpuk di ponselnya.
"setelah pulang dari rumah sakit saja ya, Mas. Kalau berangkatnya nanti kita kemalaman," ucap Intan seraya memakai jilbabnya.
Malam ini mereka akan ke rumah sakit untuk menjenguk Kinar karena keguguran. Sudah dua kali ini Kinar keguguran karena kondisi rahimnya yang lemah. Tentu saja, semua itu karena pengaruh alkohol dan rokok yang dulu ia konsumsi sejak SMA.
Kinar dan Farhan menikah satu tahun yang lalu. Mereka harus melewati berbagai macam masalah sebelum memutuskan untuk menikah. Jalan mereka menuju pelaminan tak semulus jalan tol, selama dua tahun mereka melawan keraguan hati untuk menetap pada satu pilihan.
"ayo, Mas!" ajak Intan setelah siap berangkat.
Aji meraih kunci mobil yang ada di nakas dan berjalan di belakang istrinya. Tak lupa ia meraih tas kulitnya yang ada di balik pintu kamar. Malam ini sepasang suami istri itu terlihat sangat serasi dengan pakaian casual nya.
Mobil yang dikendarai Aji membelah jalanan yang dipadati lalu lalang kendaraan bermotor. Setelah menghabiskan waktu selama beberapa puluh menit, akhirnya sepasang suami istri itu sampai di rumah sakit. Mereka segera keluar dari mobil dan berjalan menuju ruangan Kinar.
"Sepi ya Mas," ucap Intan saat mereka melewati lorong panjang menuju ruang rawat inap.
"iya, alhamdulillah, berarti banyak orang sehat," ucap Aji tanpa menatap sang istri.
Ruang rawat Kinar ada di lantai tiga, ia di rawat disalah satu ruang VIP yang ada di sana. Kini, Aji dan Intan sudah sampai di depan ruang rawat Kinar. Mereka segera masuk setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Assalamualaikum ...." ucap Intan dan Aji serempak.
__ADS_1
"Eh!" Intan membalikkan tubuhnya setelah melihat adegan yang biasa ia lakukan bersama Aji.
"Eh Piranha! gue udah ngetuk pintu ya! jadi jangan salahkan gue kalau mengganggu kegiatan lu!" ujar Intan dengan tubuh yang masih membelakangi Kinar.
Aji terkekeh sendiri melihat wajah memerah sahabatnya yang baru saja kepergok. Aji sendiri tak sempat membalikkan tubuhnya seperti Intan, ia masih shock ketika melihat sepasang suami istri yang sedang kissing di rumah sakit.
"Ih! lu tuh ya!" teriak Kinar setelah menetralkan rasa malu yang sempat menerpanya. Ia malu karena kegiatannya di saksikan oleh Aji, ia masa bodo jika yang melihat hanya Intan.
"Selamat datang Pak Aji," sambut Farhan dengan wajah yang sumringah. Ia salah tingkah dihadapan Aji karena kemesumannya yang tak tahu tempat.
Aji duduk di sofa yang ada di ruangan itu, sementara Intan duduk di atas bed perawatan Kinar, lebih tepatnya di sisi kaki Kinar. Entah mengapa setiap Kinar masuk rumah sakit seperti ini, Intan menjadi sedih, apalagi setelah mengetahui penyebab Kinar di rawat di sini.
"Bagaimana keadaan lu?" tanya Intan seraya mengusap kaki Kinar.
"Gue baik-baik aja kok, ini gak sesakit dulu waktu pertama kali keguguran," jawab Kinar dengan diiringi senyum yang sangat manis, ia harus terlihat tegar agar Intan tidak khawatir dengan keadaannya.
Aji dan Farhan hanya diam, mereka membiarkan kedua wanita itu mengungkapkan kerisauan hati masing-masing. Aji sendiri harus menahan perasaannya ketika melihat Intan mengusap air mata yang membasahi pipi mulusnya.
"Sayang, nanti setelah dari sini kita mampir ke supermarket dulu ya, setelah itu kita ke cafe," ucap Aji karena tidak tahan mendengar obrolan kedua wanita itu yang semakin jauh dan menusuk hati.
Intan mengalihkan pandangannya, ia mengembangkan senyumnya sebelum menjawab ucapan sang suami, "kalau begitu sekalian beli lipstik, parfum, bedak dan apa lagi ya," ucap Intan sambil memutar bola matanya ke segala arah untuk mengingat kebutuhannya yang menipis.
"Udah tidak usah mikir! nanti pasti ingat waktu udah di supermarket!" ucap Aji setelah melihat istrinya hanya diam.
Waktu terus berlalu, setelah menemani Kinar selama satu jam akhirnya Intan dan Aji harus pamit pulang karena masih banyak hal yang harus mereka lakukan setelah ini.
__ADS_1
Mobil yang dikendarai Aji mulai keluar dari area rumah sakit. Aji mengendarai mobilnya menuju Supermarket, di mana ia biasa mengantar Intan untuk membeli beberapa kebutuhan yang tidak ada di toko sembako yang ada di dekat komplek.
Setelah berada melewati jalanan Ciputat yang ramai, akhirnya mobil avanza putih itu sampai di tempat parkir supermarket. Mereka segera turun dan berjalan masuk ke dalam supermarket. Aji terus menggenggam tangan Intan selama berjalan masuk ke dalam supermarket.
Seperti biasa, Aji bertugas mendorong troli di saat belanja di supermarket seperti saat ini. Ia mengekor di belakang Intan yang sedang melihat barang-barang yang tersusun rapi di rak. Ia tak pernah mengeluh walau harus menunggu lama. Aji tetap sabar mengikuti kemanapun Intan melangkahkan kakinya.
"Sayang, jangan lupa beli pengharum ruangan!" ucap Aji saat melewati rak display berbagai macam pengharum ruangan.
"Beli yang rasa cokelat saja ya, Mas!" ucap Intan setelah mengambil pengharum kemasan berwarna cokelat.
Setelah barang-barang keperluan rumah terpenuhi, akhirnya mereka berdua masuk ke area counter kosmetik. Aji duduk di sofa yang tersedia di tengah counter sambil menunggu Intan memilih peralatan tempurnya. Ia duduk sambil memperhatikan istrinya yang sedang memilih warna lipstik yang ia inginkan.
"Sabar Ji, sabar! istrimu sedang memilih make-up untuk menyenangkan dirimu!" gumam Aji dalam hatinya ketika Intan tak kunjung selesai.
Kesabaran memang diperlukan dalam membina rumah tangga karena sebuah kebahagiaan, ketentraman dan ketenangan adalah buah dari kesabaran yang sudah kita tanam. Membiarkan Amarah tersimpan di hati sama halnya dengan menyimpan buah yang terbungkus dalam kantung, lama-lama akan busuk dan menumbuhkan akar penyakit.
Sabar itu mudah diucapkan tapi tidak mudah untuk di terapkan. Ada yang mengibaratkan jika sabar itu seperti tanah—meski diinjak, disiram air panas atau perbuatan yang lain, tanah tetap memberi manfaat untuk semua makhluk. Lalu apakah kita sudah menerapkan semua itu? mari kita renungkan!
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
_
__ADS_1
_
🌷🌷🌷🌷🌷