
Tok ... tok ... tok ... tok ... tok ....
Aji geragapan setelah mendengar pintu kamarnya diketuk berkali-kali. Ia mengerjapkan mata sebelum turun dari ranjang. Sekilas ia menatap penunjuk waktu yang ada di kamarnya, ternyata jarum jam sudah berada di angka tujuh pagi.
Sebelum turun dari ranjang, Aji terlebih dahulu mengusap kening Intan, ternyata istrinya itu masih demam walau tidak se panas tadi malam. Aji bergegas turun dari ranjang untuk melihat siapa yang ada di balik pintu.
"Loh ... Ning Ninis!" gumam Aji ketika melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
"di bawah ada dokter Nanang! siapa yang sakit?" tanya Ninis.
"Intan, Ning. Sejak kapan Ning datang?" tanya Aji seraya bersandar di bingkai pintu.
"Setengah jam yang lalu. Ya sudah buruan turun!" perintah Ninis.
"Aku mau cuci muka sebentar, Ning! tolong temui dokter Nanang dulu ya Ning," ucap Aji sebelum berlalu begitu saja dari hadapan Ninis.
Setelah bersiap selama sepuluh menit, akhirnya Aji menemui dokter Nanang di ruang tamu. Ia menceritakan bagaimana kondisi sang istri kepada dokter berusia empat puluh tahun tersebut. Lalu beberapa menit kemudian, mereka berdua berjalan menuju lantai dua untuk melihat kondisi Intan di kamar.
Intan membuka kelopak matanya ketika mendengar suara pria asing di kamar. Tubuhnya seperti kehilangan tenaga hingga membuatnya tidak bisa menyapa kedatangan dokter tersebut.
Dokter Nanang memeriksa kondisi Intan saat ini. Mulai dari suhu tubuh, detak jantung dan keadaan perut. Beliau memeriksa dengan teliti agar nanti tidak salah saat memberi obat.
"Kondisi istri pak Aji baik-baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Saya sarankan agar makan bubur terlebih dahulu karena ada kemungkinan istri Pak Aji kena gejala typus," ucap dokter Nanang setelah selesai memeriksa keadaan Intan.
"Apa istri saya perlu opname, dok?" tanya Aji.
"Tidak perlu, Pak. Nanti saya kasih obat yang bagus. Jika obatnya habis dan istri bapak belum ada perubahan, tolong segera di bawa ke rumah sakit ya Pak," ucap dokter Nanang.
__ADS_1
Setelah tugasnya selesai, dokter Nanang segera pamit pulang karena pagi ini harus dinas ke rumah sakit. Aji pun mengantar dokter Nanang sampai keluar dari rumah, ia menganggukkan kepala setelah dokter Nanang masuk ke dalam mobil.
"Dik! istrimu kenapa?" tanya Ninis setelah Aji membalikkan tubuhnya. Ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi kepada iparnya.
Aji menggaruk kepalanya seraya berjalan ke ruang keluarga, ia menghempaskan diri di sofa diikuti dengan Ninis, "aku telah membuat kesalahan besar, Ning," ucap Aji dengan nada penuh sesal.
"Cepat ceritakan!! aku sangat penasaran!" Ninis semakin mendekat ke tempat Aji berada.
Akhirnya, Aji menceritakan semua kejadian yang terjadi dirumah ini. Mulai dari masalah poligami hingga masalah Intan dengan Firda. Semua itu membuat Ninis menepuk keningnya karena gemas melihat sikap yang ditunjukkan Aji.
"B-o-d-o-h!! kenapa otakmu eror begini sih!" umpat Ninis, ia tidak sadar jika sudah mengucapkan umpatan kasar kepada adiknya.
"Ning! jangan diperjelas dong!! aku sudah tahu kalau aku sudah melakukan kebodohan yang teramat sangat! tapi Ning juga harus tau kenapa aku bisa berpikir seperti itu!" ucap Aji seraya menatap Ninis.
"Saat itu otakku benar-benar buntu, Ning! coba bayangkan jika Ning jadi aku," ucap Aji sambil memijat keningnya, "aku tidak bisa berpikir jernih Ning setelah mendengar kabar bahwa ummi masuk ICU, pikiran buruk terus menghantuiku, aku takut terjadi sesuatu kepada ummi dan aku lah yang menjadi penyebabnya! Ning paham 'kan bagaimana maksudku?" tanya Aji dengan sorot mata penuh arti.
"Terus sekarang kamu mau menuruti perintah ummi?" Ninis memastikan jawaban adiknya.
"Tidak lah! aku tidak akan mengulang kesalahan yang bisa membuat Intan semakin hancur!" jawab Aji dengan tegas.
"Syukurlah jika otakmu tidak tumpul lagi!" Ninis mengangguk-anggukkan kepalanya setelah mendengar jawaban Aji.
Aji mendengus kesal setelah mendengar jawaban Ninis. Ingin sekali ia mencengkram lengan kakaknya itu tapi Aji tidak tega, "Terus Ning Firda dan Intan ini gimana Ning? setelah ini mereka berdua pasti saling bermusuhan," tanya Aji setelah teringat masalah Firda dan istrinya.
Ninis memijat keningnya, ia jadi pusing jika memikirkan tentang Firda, karena ia sendiri sedikit risih dengan ipar tertuanya itu, "kita pikirkan nanti saja! aku sekarang mau ke rumah sakit dulu," ucap Ninis seraya berdiri dari tempat duduknya.
"Sampaikan kepada ummi ya Ning jika aku tidak bisa ikut menjaga di sana," ucap Aji seraya menatap Ninis.
__ADS_1
"Heem, pasti aku sampaikan!'' Ninis mulai berjalan ke arah pintu samping.
Setelah Ninis berangkat ke rumah sakit, Aji bergegas pergi ke dapur. Ia akan mengambil bubur yang sudah disiapkan mbok Sumi. Hari ini ia tidak ke sekolah, Aji tepaksa harus cuti untuk merawat istrinya terlebih dahulu.
Satu persatu anak tangga telah dilalui Aji, kini ia berada di depan pintu dengan mmembawa semangkuk bubur untuk Intan, "selamat pagi, Sayang ...." ucap Aji setelah masuk ke dalam kamar.
Intan hanya diam sambil menatap pergerakan sang suami. Entah mengapa, bibirnya seakan terkunci ketika diajak bicara oleh Aji. Entah karena tenaganya belum pulih sepenuhnya atau masih marah karena masalah tadi malam.
"aku suapin ya, Sayang! setelah itu kamu harus minum obat," ucap Aji seraya menyendok bubur yang ada di dalam mangkuk.
Intan menggelengkan kepalanya ketika Aji mengarahkan sendok berisi bubur tersebut ke dekat mulutnya. Bibirnya tertutup rapat agar Aji tidak bisa memaksanya makan.
"Kamu boleh marah kepadaku nanti, tapi kamu harus makan. Jangan menyiksa lambungmu dengan cara seperti ini!" Aji mencoba membujuk Intan agar istrinya itu bersedia membuka mulut.
Intan membalikkan tubuhnya agar bisa membelakangi Aji. Hal itu semakin membuat Aji berpikir keras bagaimana caranya agar Intan mau makan. Tidak sampai dua menit, ia menemukan ide agar Intan kembali menghadap ke arahnya.
"Sayang, kamu harus makan jika ingin melampiaskan kemarahanmu kepadaku, karena marah dan bertarung itu butuh energi yang besar, jadi menghadaplah kesini dan habiskan bubur ini!" ucap Aji dengan suara yang bariton yang terdengar menenangkan itu.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
hay aku punya rekomendasi nih untuk kalian😍 yuk kepoin😉
__ADS_1