
Sinar sang surya mulai masuk ke dalam kamar bernuansa putih lewat jendela yang terbuka lebar. Sinarnya mulai menyapa tubuh seorang wanita paruh baya yang sedang duduk bersandar di ranjang dengan beberapa bantal yang tersusun di balik punggungnya.
Tatapan Ummi Sarah lurus ke depan, beliau termenung, hati dan pikirannya sedang berkecamuk saat ini karena rasa sesal yang membelenggu jiwa. Ummi Sarah berkali-kali merutuki dirinya sendiri, karena tidak bisa mengendalikan perasaan ketika mengetahui sosok Intan yang sebenarnya.
"Ummi tidak sarapan?" tanya kyai Yusuf setelah masuk ke dalam kamar, beliau duduk di tepi ranjang seraya menatap istrinya.
"Abah duluan saja, Ummi belum lapar, Bah." Ummi Sarah menatap wajah suaminya itu dengan sorot mata penuh sesal.
Abah Yusuf menatap wajah istrinya, beliau beberapa kali menepuk paha ummi Sarah yang tertutup selimut itu, "jangan terlalu di pikirkan, Mi. Mungkin semua ini sudah kehendak Allah." Abah Yusuf berusaha menenangkan ummi Sarah yang terlihat resah itu.
"Bah, Ummi menyesal, Bah. Ya Allah!" ucap ummi Sarah dengan nada penuh sesal.
"Mi, semua sudah terjadi. Sekarang yang terpenting bagaimana sikap Ummi setelah ini," ucap Abah Yusuf dengan pandangan yang tak lepas dari Ummi Sarah, "Apa Ummi tetap membenci Intan karena tato yang ada di tubuhnya? apa Ummi tidak ingin mempertimbangkan lagi?" tanya Abah Yusuf dengan raut wajah yang serius.
"Tidak Bah, Ummi tidak membencinya. Mereka berdua saling mencintai, Bah. Apalagi setelah melihat kejadian kemarin malam, bahkan Intan saja merelakan hidupnya untuk keselamatan Aji." Ummi Sarah mulai terisak saat mengingat kejadian tadi malam.
"Setelah Ummi pikir, akan lebih baik jika hari ini Aji dan Intan kita nikahkan siri saja, Bah," ucap Ummi Sarah yang berhasil membuat Abah Yusuf menaikkan satu alisnya karena tak percaya dengan keputusan istrinya itu.
"Nikah siri?" Abah Yusuf menatap Ummi Sarah untuk memastikan pernyataan yang baru saja di ucapkan istrinya itu.
Ummi Sarah menceritakan apa yang di lihatnya kemarin saat di ambulance. Beliau hanya ingin Aji terbebas dari dosa zina, apalagi mereka nanti berada di satu kota tanpa pengawasan keluarga.
"Bagaimana, Bah? apa keputusan Ummi sudah benar?" tanya ummi Sarah saat menatap suaminya yang sedang termenung.
"Abah setuju saja jika memang keduanya tidak keberatan, karena semua itu jauh lebih baik, mereka memiliki hubungan yang sah di mata agama." Abah Yusuf pun menyetujui ide Ummi Sarah itu.
Suara ketukan pintu membuyarkan keduanya. Abah Yusuf segera beranjak dari tempat duduknya untuk melihat siapa yang datang.
"Bah, Ninis bawa sarapan untuk Ummi," ucap Ninis ketika pintu kamar terbuka lebar.
Ninis segera masuk ketika abah Yusuf memberinya jalan. Ia duduk di tepi ranjang seraya memberikan piring berisi nasi lodeh kepada ummi Sarah, "Ummi sarapan dulu, setelah ini kita ke rumah sakit ya Mi, tadi Aji telfon Ninis, katanya Intan sudah keluar dari ruang ICU," ucap Ninis.
__ADS_1
"Berarti dia sudah melewati masa kritisnya?" tanya ummi Sarah setelah menerima piring dari Ninis.
"Iya Mi, nanti kita kesana ya, sekarang Ninis mau mandiin Izza dulu," ucap Ninis sebelum pergi dari kamar orang tua nya.
Ummi Sarah menatap abah Yusuf dengan penuh harap, berharap agar abah Yusuf mau menikahkan Aji secara siri terlebih dahulu, karena hanya ini yang bisa ummi Sarah lakukan untuk kebaikan sang putra.
"Nanti Abah harus ikut ya," ucap ummi Sarah.
...💠💠💠💠...
Aji mengerjapkan matanya tatkala mendengar suara pintu ruangan di buka. Aji segera bangun dari tempatnya tatkala melihat seorang dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan untuk melihat kondisi Intan.
Intan sudah di pindahkan dari ruang ICU ke ruang inap ketika penunjuk waktu berada di angka lima pagi. Ia sudah berhasil melewati masa kritisnya, meski saat ini ia belum sepenuhnya sadar karena masih ada sisa pengaruh bius.
"Kondisi pasien pasca operasi sudah membaik, Pak, tidak ada komplikasi. Pasien memang belum sepenuhnya sadar, itu terjadi karena pengaruh bius total," ucap dokter spesialis yang menangani Intan, "kalau sampai jam dua belas siang pasien belum sadar sepenuhnya, Bapak bisa laporan ke Perawat ya, Pak," ucap dokter itu setelah memeriksa kondisi Intan.
"Baik dok, terima kasih," ucap Aji sebelum dokter tersebut keluar dari rumah sakit.
Lima belas menit kemudian, Aji keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat lebih segar meskipun mata panda nya tidak bisa di sembunyikan, wajah lelah dan kurang istirahat terlihat jelas di wajah tampan itu.
Aji duduk di samping bed Intan. Ia menatap wajah manis yang terlihat pucat itu, ada beberapa luka lebam di pipi Intan, hal itu semakin membuat Aji merasa bersalah, perlahan Aji mengarahkan tangannya ke wajah Intan, ia mengusap lembut pipi itu dengan diiringi perasaan yang membuncah.
"Maafkan aku, Tan. Aku tidak bisa melindungi mu," ucap Aji dengan suara yang lirih.
Tak lama setelah itu, Aji mengembangkan senyumnya ketika melihat pergerakan kelopak mata Intan. Perlahan kelopak mata itu mulai terbuka dan mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya di ruangan.
"apa yang kamu rasakan?" Aji berdiri dari tempat duduknya, ia menatap Intan dengan senyum hangat untuk menyapa gadis yang sedang menatapnya itu.
Intan hanya tersenyum tipis, ia belum sadar sepenuhnya, "gus, kaki saya kemana?" tanya Intan dengan suara yang sangat lirih.
Aji melebarkan senyumnya ketika mendengar pertanyaan itu dari Intan. Ia lega karena Intan masih bisa mengingatnya, karena sejak tadi malam Aji khawatir Intan akan mengalami amnesia seperti yang ia lihat di film-film.
__ADS_1
"Kaki mu masih ada, Tan. Mungkin biusnya belum hilang seratus persen, maka dari itu kamu seperti tidak punya kaki," ucap Aji seraya menatap Intan yang sedang menggerakkan bola matanya untuk melihat ruangan yang ia tempati saat ini.
Intan kembali menutup matanya ketika merasakan nyeri di kepalanya. Wajahnya sampai terlihat tegang karena rasa sakit itu, "kenapa kepala saya sakit sekali, Gus?" tanya Intan tanpa membuka kelopak matanya.
Aji segera meraih tombol Nurse call untuk memanggil perawat. Aji menggenggam telapak tangan itu ketika wajah Intan kembali tegang. Dua menit kemudian, seorang perawat masuk ke dalam kamar Intan dengan membawa beberapa peralatan medis. Aji menyampaikan apa yang di rasakan oleh Intan, perawat itu pun akhirnya memberikan obat yang di suntikkan ke selang infus di punggung tangan Intan.
"Kondisi pasien baik-baik saja, Pak. Rasa nyeri itu biasa terjadi kepada pasien seperti Nona Intan ini. Tapi Bapak tidak usah khawatir karena rasa sakitnya perlahan menghilang setelah di berikan obat," ucap perawat tersebut setelah selesai melakukan tugasnya dan setelah itu ia keluar dari ruangan Intan.
Aji kembali duduk di sisi ranjang Intan, ia kembali memberikan semangat kepada Intan agar tetap kuat menahan rasa sakitnya. Aji terus menggenggam tangan Intan agar gadis pujaannya itu tetap kuat dan semangat.
"Kamu pasti bisa melewati semua ini," ucap Aji seraya menatap Intan dengan tatapan penuh kasih.
Waktu terus berlalu begitu saja. Tak terasa penunjuk waktu sudah berada di angka sebelas siang. Kondisi Intan pun jauh lebih baik dari sebelumnya, ia sudah bisa merasakan seluruh tubuhnya karena pengaruh bius benar-benar hilang. Berkali-kali ia mengeluarkan gas alami, sebuah pertanda jika sistem pencernaannya mulai berfungsi.
Aji mengalihkan pandangannya ketika mendengar handel pintu yang di tarik, ia mengembangkan senyumnya ketika melihat siapa yang datang.
"Assalamualaikum ...."
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
Maaf banget kemarin hanya up satu bab🙏othor ada kegiatan di RL😍 berhubung sekarang hari senin, yuk yang punya vote silahkan di berikan untuk Mbak Intan biar cepet sembuh😂
_
_
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1