
Dua bulan kemudian ....
"Sayang ... lihatlah aku bawa apa?" ujar Aji setelah menutup pintu kamar. Ia baru saja pulang dari kampus tempatnya mengamalkan ilmu selama ini.
Intan menatap Aji sekilas, lalu ia membenamkan wajahnya di bantal lagi. Seperti biasa, selama beberapa minggu ini Intan sering mengalami mual di sore hari, kepalanya pusing hingga membuat tubuhnya terasa lemas.
"Kenapa beli tespek lagi, Mas?" tanya Intan tanpa menatap Aji. Suaranya terdengar lirih.
"Kata Ning Isna, apa yang kamu alami ini tanda-tanda kehamilan, Sayang!" Aji terlihat sangat antusias sore ini.
"Mas, minggu kemarin kan uda di tes dan hasilnya negatif!" jawab Intan tanpa membuka kelopak matanya.
"besok coba di tes lagi ya, Sayang! ini aku beli yang paling bagus loh! ya ... ya ... ya Sayang!" rengek Aji seraya mengusap lengan sang istri.
"Iya deh iya, Mas taruh di atas meja rias saja," ucap Intan, ia tidak mau berdebat lagi dengan Aji karena tubuhnya benar-benar lemas saat ini.
Aji segera melaksanakan perintah dari Intan lalu ia membuka almari untuk mencari pakaian santai. Sebenarnya, ia sendiri tidak tega melihat kondisi Intan seperti ini tapi istrinya itu tidak mau di ajak berobat ke dokter. Ia hanya mengkonsumsi obat 'nolak angin' untuk mengobati rasa mualnya.
Setelah selesai mengganti pakaiannya, Aji kembali ke atas ranjang untuk menemani Intan. Tangannya pun terulur ke pundak sang istri, pijatan halus mulai terasa di pundak tersebut.
"Sayang, makan yuk! sebentar lagi magrib. Temenin aku buka puasa ya," ucap Aji dengan tangan yang tak henti memijat pundak Intan.
Intan lupa jika hari ini adalah hari senin—hari di mana Aji rutin berpuasa sunnah senin-kamis. Intan belum menyiapkan apapun untuk suaminya berbuka puasa, "Mas, saya belum menyiapkan apapun, bagaimana ini?" wajah pucat itu terlihat panik karena suara tarqim sudah terdengar dari pengeras suara masjid.
"Aku udah beli makanan, sekarang mungkin sedang di siapkan Mbok Sumi. Kita buka puasa bareng sama Ummi dan Abah ya," ucap Aji seraya menatap Intan penuh harap.
Rasa tidak tega mulai menjalar di hati Intan. Dalam kondisi seperti saat ini, Intan tidak memiliki selera makan sedikitpun. Terkadang mencium aroma masakan tertentu, Intan menjadi pusing dan mual, ia seperti orang yang sedang mabuk perjalanan.
Intan bangun dari ranjang setelah mendengar suara adzan magrib. Ia harus memaksakan diri demi suami tercinta. Intan pun meraih jilbab yang tersampir di headboard ranjang dan segera memakainya.
__ADS_1
"Ayo, saya temenin buka puasa, Mas!" ujarnya dengan suara yang lirih.
Aji tersenyum setelah mendengar ucapan Intan. Ia segera turun dari ranjang. Aji menggenggam tangan Intan saat berjalan menuju ruang makan. Ia hanya khawatir istrinya jatuh mengingat kondisi tubuhnya kurang sehat.
"Selamat berbuka puasa, Bah ... Mi," ucap Aji setelah sampai di ruang makan. Ia menarik kursi untuk di tempati Intan.
Senyum tipis terbit dari bibir Intan ketika menatap kedua mertuanya, lalu ia meraih centong nasi untuk mengambilkan nasi Aji seperti yang biasa ia lakukan.
"jangan diambilkan, Sayang!" ujar Aji seraya mencekal pergelangan tangan Intan, ia meraih centong nasi tersebut, "aku bisa sendiri, kamu mau aku siapkan juga?" tanya Aji saat menatap wajah Intan.
"tidak, Mas! saya mau ambil sendiri," jawabnya.
Beberapa detik kemudian, ummi Sarah mengernyitkan keningnya ketika melihat makanan yang di ambil oleh Intan. Nasi tidak sampai satu centong serta sedikit sayur, ia tidak mengambil lauk sedikitpun.
"Nak, ambil makanannya lagi! itu terlalu sedikit loh, ayo makan yang banyak ya, biar cepat sembuh!" ujar ummi Sarah setelah meletakkan sendoknya.
Intan hanya menggeleng pelan, mencium aroma makanan kesukaannya saja rasanya tidak tahan. Perutnya seperti di aduk-aduk, sekuat tenaga ia menahan agar tidak muntah di saat yang tidak tepat.
Huek ... huek ... huek—keluar sudah semua makanan yang belum lama masuk ke dalam perutnya.
"Sayang! mana yang sakit?" tanya Aji saat sampai di depan pintu kamar mandi. Ia meletakkan sendoknya setelah mendengar Intan muntah di kamar mandi.
Intan melambaikan tangan, sebuah kode kepada Aji bahwa keadaannya tidak terlalu buruk. Tubuhnya masih membungkuk di sudut kamar mandi atau lebih tepatnya di atas lubang pembuangan air. Aji mendekat ke tempat istrinya berada, ia memijat tengkuk Intan dengan gerakan yang lembut. Kali ini Aji benar-benar khawatir melihat kondisi Intan.
***
Satu garis merah terlihat jelas di tespek yang dibelikan Aji kemarin sore. Intan menghela napasnya panjang setelah melihat hasil tes yang ia lakukan saat ini, ketiga tespek pemberian Aji menampilkan satu garis merah.
Intan segera keluar dari kamar mandi, ia mendapat sambutan hangat dari Aji—suaminya itu setia menunggu di depan kamar mandi untuk melihat hasil tes di waktu subuh ini.
__ADS_1
"Bagaimana, Sayang?" tanya nya dengan antusias.
Intan bersandar di bingkai pintu kamar mandi seraya menyerahkan ketiga tespek itu kepada suaminya, "negatif semua, Mas!" ucapnya dengan suara yang lirih.
"apa mungkin pabrik tespek satu negara ini rusak semua ya, Sayang? kok negatif terus!" gumam Aji setelah melihat garis yang muncul di tespek tersebut.
Intan tak mengeluarkan suaranya, ia hanya menatap wajah sang suami yang menunjukkan gurat-gurat kekecewaan. Perlahan rasa sedih merasuk ke dalam hati Intan karena merasa menjadi wanita yang gagal.
"Kok jadi sedih gitu?" tanya Aji setelah melihat ekspresi sang istri.
Aji meletakkan kedua tangannya di lengan Intan, ia menatap wajah sendu yang ada di hadapannya itu, "jangan sedih! masih banyak waktu untuk kita berdoa dan berusaha," ujarnya dengan pandangan yang tak lepas dari wajah tanpa polesan make-up itu.
"sekarang kita bersiap sholat subuh ya," ujarnya lagi seraya membenarkan helaian rambut yang menutupi kening sang istri.
Setelah membersihkan diri, Aji mengajak istinya turun ke lantai satu. Mereka berjalan menuju ruang ibadah yang ada di dekat ruang makan. Aji menggelar sajadah dan memposisikan diri di depan Intan, mereka akan menunaikan kewajiban dua rakaat berjamaah.
Intan menutup kelopak matanya karena tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing, semuanya seperti berputar-putar. Pandangannya pun mulai gelap dan tiba-tiba saja ....
Buugh!! Intan tersungkur di lantai tepat setelah Aji membaca niat sholat. Aji pun menghentikan gerakannya karena terkejut melihat tubuh sang istri tergeletak di sisinya, sholat subuh pun batal ia lakukan karena khawatir dengan kondisi Intan.
"Sayang!" ujar Aji setelah duduk di samping tubuh Intan. Ia mengangkat kepala Intan dan diletakkan di atas pangkuannya.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍 wah Intan kenapa ya??
Hay hay ... aku ada rekomendasi untuk kalian nih😍 kepoin kuy🌹
__ADS_1