
Tiga hari kemudian ....
Aji menengadahkan kepalanya untuk menatap langit yang hampir gelap, di mana awan putih telah berubah menjadi jingga. Aji begitu mengagumi maha karya dari Sang Pencipta yang begitu indah untuk di pandang. Aji bergegas masuk ke dalam rumahnya setelah mendengar suara adzan magrib di masjid yang tak jauh dari kontrakannya.
Malam ini Aji akan menemui Intan. Ia sudah membuat janji bertemu dengan Intan di salah satu cafe yang dekat dengan tempat kerja gadis itu. Ada kabar yang harus ia sampaikan setelah kemarin pulang dari Jombang.
Aroma parfum maskulin mulai menyebar di kamar Aji. Seusai sholat magrib ia sudah rapi dengan sweater putih tulang, tak lupa ia memakai jam tangan hitam di tangannya. Kini Aji telah siap berangkat ke cafe yang sudah di tentukan oleh Intan.
"Sempurna," gumam Aji setelah melihat penampilannya di cermin. Tak lupa ia memakai sneaker putih untuk menyempurnakan penampilannya malam ini.
Rona bahagia terpancar dari wajahnya, apalagi setelah mendengar pesan dari Kyai Yusuf malam itu. Aji benar-benar yakin jika ia akan melamar Intan nanti, setelah ia berhasil membawa pulang gadis pujaannya itu. Aji tak lagi mempermasalahkan perihal kesucian Intan. Ia memantapkan hati untuk memilih gadis itu sebagai pendamping hidupnya nanti.
"Abah menyerahkan semuanya kepadamu, Ji. Kamu sudah dewasa, kamu pasti tau langkah apa yang harus kamu tempuh. Kamu harus bertanggung jawab dengan pilihanmu sendiri, Abah selalu merestui apapun yang kamu lakukan yang menurutmu terbaik."
Aji semakin yakin untuk memilih Intan setelah mendapat restu dari Kyai Yusuf. Namun, ia harus berjuang sekali lagi untuk mendapatkan restu dari Ummi Sarah, karena beliau belum mengetahui apapun tentang Intan. Bahkan penyebab patahnya tangan Aga pun, beliau belum mengetahuinya.
"Semoga Ummi sependapat dengan Abah," gumam Aji dengan pandangan fokus ke depan. Aji semakin mempercepat laju kendaraannya ketika jalan yang ia lewati sedikit lenggang.
Setelah berada di jalan selama dua puluh menit, akhirnya Aji sampai di tempat tujuan. Ia segera masuk karena sedikit terlambat dari waktu yang di tentukan. Namun, baru saja ia sampai di dalam cafe, ia harus menghentikan langkahnya karena sedang melihat Intan berpose di salah satu spot foto yang disediakan di cafe itu.
Rasa hangat perlahan menjalar di hati Aji, tatkala melihat pemandangan indah di hadapannya. Intan masih bersedia memakai kerudungnya, setelah kejadian beberapa waktu yang lalu saat ia stres karena penolakan dari Aji.
"Cantik," ucap Aji yang berhasil membuat Kinar terkesiap karena kehadiran Aji di sampingnya.
Intan terlihat salah tingkah setelah kepergok Aji lenggak-lenggok di depan kamera. Ia tersenyum lebar hingga deretan gigi putih itu terlihat semua.
"kenapa gak di lanjut?" tanya Aji dengan wajah yang memerah karena harus menahan tawanya.
__ADS_1
"Emm ... sudah selesai, Gus." Intan tersenyum simpul.
"Ya udah, gue balik dulu ya. Entar gue jemput lagi," pamit Kinar seraya menyerahkan ponsel Intan.
Kinar segera keluar dari cafe itu setelah berpamitan kepada Aji. Ia tidak mau mengganggu waktu mereka berdua, lagi pula ia harus membantu Tommy di studio karena dua orang Tatto Artist ada yang izin tidak masuk.
"Ayo duduk!" ajak Aji seraya mempersilahkan Intan agar berjalan terlebih dahulu.
Aji mengulas senyumnya setelah sampai di meja yang sudah di pesan Intan. Pemandangan yang ada di sisi meja terlihat sangat indah, hal itu berhasil membuat suasana di sekitar terasa nyaman dan damai. Taman buatan bersekat kaca yang ada di dalam taman itu pun terlihat indah dengan cahaya lampu yang terang.
Mereka berdua akhirnya duduk berhadapan, tak lupa mereka memesan menu makanan yang sudah tersedia di buku menu. Mereka saling menanyakan kabar masing-masing sambil menunggu makanan yang datang.
"Bagaimana kabar keluarga yang di Jombang, Gus?" tanya Intan setelah mereka sama-sama terdiam.
"Alhamdulillah semua sehat. Ning Ninis sudah punya anak loh!" ucap Aji seraya mengeluarkan ponselnya, ia menunjukkan potret putri kecil Ninis yang sangat menggemaskan.
"Wah lucu banget! cantik seperti Ning Ninis," gumam Intan ketika melihat layar ponsel Aji.
"Ummi ingin kamu pulang, Tan." Aji menatap Intan dengan serius.
"Apa Ummi Sarah tau bagaimana keadaan saya?" tanya Intan dengan suara yang lirih. Ia melepas kaca mata putih yang sejak tadi di pakainya.
"Tidak, Ummi belum tau semua yang terjadi," jawab Aji seraya menatap Intan.
Aji memang menceritakan kepada Ummi Sarah bahwa dirinya sudah menemukan Intan. Ummi Sarah sangat bahagia setelah mendapat kabar baik itu, beliau pun menyuruh Aji untuk membawa Intan pulang ke Jombang. Tapi Aji belum bisa menceritakan bagaimana kondisi Intan saat ini.
"Abah sudah tau semua yang terjadi kepadamu, Abah merestui hubungan kita, Tan," ucap Aji seraya menatap Intan dengan penuh arti.
Mereka sama-sama terdiam tatkala seorang waiters datang dengan membawa nampan yang berisi pesanan mereka, "Maksudnya Gus bagaimana?" tanya Intan setelah waiters itu berlalu dari sana.
"Aku ingin menikah denganmu, aku ingin membangun rumah tangga bersamamu seperti impianku dulu," ucap Aji dengan raut wajah yang serius.
__ADS_1
Jantung Intan rasanya berhenti berdetak tatkala mendengar kalimat itu terucap dari bibir Aji. Matanya tiba-tiba berembun karena rasa yang bercampur aduk di dalam dada.
"Tapi Gus, saya kan—" Intan menghentikan ucapannya karena Aji tiba-tiba saja menyelanya.
"Aku tidak mempermasalahkan hal itu lagi, aku menerima apapun keadaanmu, Tan." ucap Aji tanpa perasaan ragu sedikitpun, "Aku tidak perduli meski kamu memiliki banyak tato, kamu tidak memakai hijab atau kamu minum alkohol." Aji menatap Intan dengan serius.
Bulir air mata Intan perlahan turun membasahi pipinya. Ia tidak menyangka jika Aji akan menunjukkan sikap seperti ini setelah mengetahui semua yang terjadi kepadanya.
"Aku ingin segera menikah denganmu, Tan. Kapan kiranya kamu siap pulang ke Jombang? agar aku bisa melamarmu di hadapan Ummi," ucap Aji dengan pandangan yang tak beralih dari mata belo itu.
"Saya butuh waktu, Gus. Saya belum siap jika dalam waktu dekat ini," ucap Intan sambil mengusap sisa air mata yang ada di pipi.
"Baiklah, beri tahu aku jika kamu sudah siap," ucap Aji dengan di iringi senyum manis setelahnya.
Mereka berdua akhirnya mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain. Intan banyak menceritakan bagaimana kisah hidupnya saat pertama kali hidup di Tangerang. Ia sampai menitikkan air matanya lagi ketika teringat saat-saat ini tenggelam bersama alkohol setiap harinya karena frustasi.
Aji memberikan semangat dan dukungan agar Intan bisa tersenyum kembali seperti dulu. Saat ini Aji hanya ingin Intan bahagia, ia tidak mau lagi melihat air mata kesedihan yang keluar dari mata belo itu.
"Tan, aku suka tempat ini, tolong fotoin aku, ya?" ucap Aji setelah Intan selesai bercerita.
Aji mengembangkan senyumnya seraya menyerahkan ponselnya kepada Intan. Ia berpose seperti pada umumnya pria jika berfoto. Cukup satu pose saja untuk mengabadikan tempat yang indah ini.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
_
__ADS_1
_
🌷🌷🌷🌷