Surga Hitam

Surga Hitam
Tamu untuk Farhan.


__ADS_3

"Uuh!! dingin banget di sini!" gumam Intan seraya menggesek kedua telapak tangannya.


Matahari belum menampakkan sinarnya, kabut tebal masih menyelimuti salah satu tempat wisata yang wajib dikunjungi ketika liburan di Bali. Seperti yang dilakukan Aji dan Intan saat ini, penunjuk waktu masih berada di angka setengah enam pagi tapi mereka sudah sampai di Bedugul.


Intan dan Aji duduk di pinggiran danau sambil menikmati pemandangan indah yang ada di sana. Gunung yang menjulang tinggi masih tertutup kabut tebal. Cakrawala timur mulai menampakkan siluet jingga, mungkin sebentar lagi matahari mulai menampakkan diri. Dua cup kopi susu menemani mereka berdua melawan rasa dingin yang tak kunjung musnah.


"Di sini enak banget ya, Mas! udaranya seger terus pemandangannya juga indah!" gumam Intan dengan pandangan yang tak lepas dari panorama hasil karya dari Sang Pencipta.


"Kamu suka?" tanya Aji tatkala mengalihkan pandangan ke arah Intan.


"Tentu saja! saya bosan hampir lima tahun mendengar kebisingan kota," gumam Intan sebelum menghela napasnya.


"Nanti aku akan coba cari sekolah di Surabaya saja dengan begitu kita bisa pulang ke Jombang," ucap Aji seraya mengusap kepala Intan.


Matahari mulai menampakkan diri, sinarnya berhasil mengikis kabut tebal yang menyelimuti area danau bedugul. Rasa hangat perlahan mulai menyapa semua insan, membuat siapapun ingin segera memulai aktifitas di sana.


Hari ini adalah hari terakhir Aji dan Intan liburan di Bali. Nanti malam mereka harus terbang ke Tangerang karena di hari senin Aji harus mengisi jam di kampus. Pagi ini sepasang suami istri itu menghabiskan waktu di bedugul, mereka jalan-jalan di sekitar danau dan tak lupa untuk mengabadikan momen romantis tersebut.


Rencananya setelah dari bedugul, mereka akan mampir ke pusat oleh-oleh sebelum kembali ke Villa. Jadwal tersebut sudah disusun bersama tour guide yang menemani mereka hari ini. Aji dan Intan sengaja tidak mau pergi ke banyak wisata, mereka tidak mau terlalu lelah karena semua itu bisa menyebabkan mereka kehilangan stamina.


"Ayo Mas, kita pergi dari sini! saya sudah puas menghirup udara segar di tempat ini!" ucap Intan setelah beberapa puluh menit jalan-jalan disekitar danau.


...🌹🌹🌹...


Tangerang.


Kinar mengerjapkan matanya pelan tatkala mendengar pintu kamarnya diketuk beberapa kali. Sekilas ia menatap jam dinding yang ada di kamarnya, jarum jam itu masih berada di angka sembilan pagi—terlalu cepat jika harus bangun di jam sembilan saat hari minggu seperti saat ini.


"Mamah kenapa sih berisik banget!" gumam Kinar dengan wajah tertekuk. Ia turun dari ranjang karena tidak tahan mendengar suara berisik di luar kamarnya.


"Ada apa sih, Mah! ini masih terlalu pagi loh!" ucap Kinar dengan tubuh yang lunglai, kelopak matanya terasa berat. Ia bersandar di bingkai pintu dengan mata yang masih terpejam.

__ADS_1


"ada Nak Farhan di bawah!" ucap Bu Leni seraya menepuk pipi Kinar beberapa kali.


Kinar segera membuka kelopak matanya ketika mendengar nama pria yang beberapa hari ini mengusir rasa sepinya, "serius Ma?" tanya Kinar dengan mata yang terbelalak.


Tanpa menunggu jawaban bu Leni, Kinar segera berlari ke kamar mandi. Ia mandi tanpa proses ribet seperti biasanya. Ia tidak mau jika pria yang mengusik hatinya itu sampai menunggu lama di ruang tamu.


"tapi ada apa ya? kok tiba-tiba dia datang ke rumah sepagi ini!" gumam Kinar seraya memakai bathrobe.


Kinar segera masuk ke kamarnya untuk bersiap menemui Farhan di bawah. Ia mengambil pakaian asal di almari karena tidak ada persiapan apapun sebelumnya. Setelah beberapa menit bersiap, akhirnya Kinar keluar dari kamar dengan wajah yang terlihat lebih fresh, sapuan make up tipis membuat wajahnya semakin terlihat cantik.


"selamat pagi ...." sapa Kinar kepada semua orang yang ada di ruang tamu. Senyumnya bermekar indah seperti bunga-bunga yang diterpa cahaya mentari.


Farhan membalas senyuman Kinar dengan senyumnya yang tak kalah indah. Ia menatap gadis yang sedang berdiri di sisi kursi yang ditempati pak Gatot. Pandangan keduanya saling bersirobok hingga keheningan terasa di ruang tamu itu.


"Kin! duduk sini!" ucap Bu Leni seraya menepuk sofa kosong yang ada di sampingnya.


Kinar segera duduk di samping Bu Leni. Jaraknya dengan Farhan sangatlah dekat. Hal itu membuat Kinar semakin gugup, irama jantungnya pun ikut tak beraturan.


"Memangnya ada apa, Nak Farhan?" tanya Pak Gatot tanpa melepas pandangannya dari Farhan.


"begini pak, saya disuruh mama menjemput Kinar. Mama mau makan siang bersama," ucap Farhan seraya menatap Kinar.


Kinar terkejut bukan main setelah mendengar pernyataan dari Farhan. Ia tak percaya jika pria yang baru ia kenal beberapa bulan itu mengajaknya pulang untuk bertemu dengan sang mama.


"Ganti baju dulu, Kin!" ujar Bu Leni seraya menepuk paha putrinya.


Singkat cerita, kini Kinar sudah siap berangkat bersama Farhan dengan izin pak Gatot. Pagi ini Kinar memakai celana jeans putih tulang yang dipadukan dengan kemeja sifon lengan panjang.


Mobil yang dikendarai Farhan perlahan mulai meninggalkan halaman rumah pak Gatot. Mobil hitam itu mulai membelah jalanan kota Ciputat yang padat. Suasana dalam mobil itu terasa hening karena keduanya hanyut dalam lamunan masing-masing.


"Kenapa Abang tiba-tiba ngajak saya ke rumah?" tanya Kinar setelah beberapa menit terdiam.

__ADS_1


"Oh, mama yang nyuruh aku," jawab Farhan tanpa menatap Kinar.


"yakin? hanya makan siang saja di sana?" tanya Kinar seraya menatap Farhan untuk mencari jawaban atas rasa penasarannya.


"Iya, calon istri!" jawab Farhan, ia menekan dua kata terakhir seraya menatap Kinar.


Kinar mengalihkan pandangannya ke arah lain. Wajahnya merona karena menahan malu jika mendengar Farhan menyebut dua kata keramat itu. Kekonyolan yang ia lakukan dulu seakan menjadi senjata Farhan untuk menggodanya.


Setelah beberapa puluh menit berada di jalan raya, akhirnya mobil yang dikendarai Farhan sampai di halaman rumahnya. Di halaman rumah itu pun ada mobil merah yang terparkir di sisi kiri.


"Ada tamu ya, Bang?" tanya Kinar setelah ia dan Farhan keluar dari mobil.


Ekspresi wajah Farhan tiba-tiba saja berubah tatkala menatap plat mobil merah tersebut. Ia segera meraih tangan Kinar dan menggenggamnya selama berjalan masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum ...." ucap Farhan dan Kinar setelah masuk ke dalam ruang tamu.


Semua orang yang ada di ruang tamu mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Di dalam ruang tamu itu ada lima orang yang sedang duduk di sofa. Ada seorang wanita berhijab yang duduk di kursi tunggal sambil menatap Farhan dengan mata yang berembun.


"Mas Farhan!"


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️


_


_


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2