
"Duh ... lelahnya!!" gumam Intan setelah merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Sang raja sinar sedang menampakkan keangkuhannya. Rasa panas mulai menyapa semua orang yang tinggal di Jombang. Intan baru saja pulang dari belanja baju bayi dan perlengkapan lainnya. Ummi Sarah baru mengizinkan Aji dan Intan membeli perlengkapan untuk calon buah hatinya satu minggu setelah acara mitoni. Alhasil, hari ini Intan dan Aji baru berburu pakaian bayi sejak pagi hingga siang. Mereka menghabiskan waktu di hari minggu ini dengan jalan berdua ke pusat perbelanjaan yang ada di kota jombang.
"Sayang! ini ditaruh mana?" tanya Aji setelah masuk ke dalam kamar. Ia membawa beberapa kantong kresek besar hasil belanja hari ini.
"di dekat almari saja, Mas! sekarang kita istirahat dulu yuk!" ucap Intan seraya menepuk ranjang yang ada di sisinya.
Rasa lelah dirasakan oleh sepasang suami istri yang sedang terbaring di atas ranjang. Keduanya masih berbincang karena rasa kantuk perlahan mulai hilang dari kelopak mata. Mereka sedang membahas masalah persalinan nanti, meski kurang beberapa minggu lagi tapi mereka sudah merencanakannya.
"melahirkan di bidan desa aja lah, Mas!" usul Intan.
"tidak! kamu melahirkan di rumah sakit saja, Sayang!" sergah Aji.
"sama aja, Mas! kandunganku kan baik-baik saja, jadi pasti boleh lah melahirkan di bidan desa!" Intan masih keukeh ingin melahirkan di bidan.
Keduanya sama-sama bersikukuh dengan pendapat masing-masing dan pada akhirnya Intan memilih diam dan turun dari ranjang. Intan duduk di lantai, ia sedang membuka barang belanjaannya. Rasanya, ia sudah tidak sabar lagi untuk menata hasil belanjaannya hari ini.
Intan hanya membeli beberapa perlengkapan saja seperti ... baju bayi, popok, gurita, celana kodok, selontong tangan dan kaki, bedong, topi bayi, gendongan dan beberapa perlengkapan lainnya. Ummi Sarah melarang sepasang suami istri itu membeli box bayi, stroller bayi dan barang-barang berat lainnya.
__ADS_1
"Nak, beli lah yang dibutuhkan bayimu nanti saat lahir. Jangan membeli apapun dulu sebelum anakmu lahir. Pamali Nak, kau menyiapkan segala sesuatu yang berlebihan sebelum melahirkan!"
Ya, begitulah kalimat panjang yang diucapkan ummi Sarah tadi pagi sebelum Aji dan Intan berangkat. Ummi Sarah masih menerapkan adat dan istiadat yang ada di daerah tempat tinggalnya. Beliau hanya menjalankan amanah yang disampaikan oleh leluhurnya dulu, 'di mana pun kamu berada, kamu harus mempunyai adab. Hormati adat dan budaya yang ada di sekitarmu.'
"Sayang, aku besok berangkat lebih pagi!" ucap Aji seraya menatap Intan dari atas ranjang.
"tumben, Mas?" tanya Intan tanpa mengalihkan pandangan, ia sibuk membuka plastik bedong bayi yang lucu-lucu itu.
"iya, besok ada rapat pagi, mau membahas semester akhir," jawab Aji. Ia pun turun dari ranjang karena tidak bisa tidur. Aji memutuskan untuk membantu Intan membuka barang-barangnya.
Binar bahagia terlihat jelas dari sorot mata Aji ketika ikut membongkar barang yang ada di dalam kresek. Rasanya ia tidak sabar lagi menanti sang buah hati yang dinanti selama lima tahun ini. Aji sangat antusias membantu istrinya itu.
"ini nanti dikumpulin jadi satu, Mas! terus dicuci dulu baru kita simpan di almari," ucap Intan seraya menatap Aji.
Aji mengangguk pelan ketika mendengar penjelasan sang istri. Memang benar apa yang dijelaskan Intan. Kebersihan barang yang akan kita pakai harus dijaga dengan benar, apalagi pakaian untuk bayi, meskipun terlihat bersih tanpa noda, kita tidak pernah tau siapa saja yang menyentuh barang-barang itu saat di toko. Semua yang dilakukan Intan hanya langkah kecil untuk menjaga bayinya nanti.
"Mas, minta tolong pijit kaki saya sebentar ya, rasanya ketat banget itu telapaknya," ucap Intan setelah kedua kakinya berselonjor.
Aji segera menyentuh kaki yang terlihat bengkak itu, ia memijat pelan seperti yang ia lakukan setiap malam, "hari ini kamu terlalu lelah, Sayang!" gumam Aji tanpa menatap Intan. Pandangannya fokus pada jari kaki Intan yang bengkak.
__ADS_1
Sentuhan lembut dan penuh cinta itu berhasil membuat Intan menjadi nyaman. Ia tersenyum manis karena bahagia mendapat perlakuan manis dari sang suami. Hatinya menjadi tentram saat Aji menunjukkan kasih dan sayangnya, Intan benar-benar merasa dicintai oleh Aji.
Ya, memang begitulah seharusnya sikap seorang suami kepada istri. Mengungkapkan rasa cinta dengan perbuatan lebih membahagiakan daripada hanya mengumbar kata cinta. Terkadang seorang suami begitu gengsi menunjukkan rasa cintanya kepada istri. Egonya terlalu besar karena takut dicap sebagai suami yang tunduk kepada istri. Mereka tidak sadar bahwa hati seorang istri sangatlah lembut, perasaannya akan tersentuh apabila sang suami menunjukkan betapa besar rasa cintanya.
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Rum: 21)
_
_
terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka πβ₯οΈ
ββββββββββββββββ
Aku ada rekomendasi nih cerita keren tentang mafia, kuy mampir!! ini bukan mafia bucin ya, serius ini keren banget bagi kalian yang suka dengan cerita mafiaπkuy mampir aja ke author Komalasari dengan judul Pesona Tuan De Luca. Setting tempatnya di itali lohπ Nih aku kasih blurbnya bebπ
βAku sudah bersumpah untuk tidak melakukan apapun terhadap dirimu, tapi ternyata aku tidak bisa. Aku tidak dapat mengendalikannya lagi. Biarlah dosa-ku bertambah karena telah melanggar sumpahku sendiri. Chiudi gli occhi, Bella (Pejamkan matamu, Cantik).β ( Matteo de Luca)
π·π·π·π·π·
__ADS_1