
Mentari pagi telah menyapa—sinarnya menghangatkan jiwa semua insan. Semua orang yang ada di rumah kyai Yusuf sibuk mempersiapkan diri untuk acara pernikahan Aji yang akan di gelar setelah selesai akad nikah.
Dua orang MUA terkenal di Jombang sedang sibuk merias Intan di dalam kamarnya. Satu persatu peralatan tempur telah menyentuh wajah imut itu hingga berubah menjadi sosok yang sangat cantik.
Aji duduk di sofa tunggal yang ada di kamarnya, ia sibuk memperhatikan setiap perubahan pada wajah sang istri. Senyum manisnya seakan tak bisa pudar ketika wanita yang ada di hadapannya itu telah berubah menjadi seorang ratu.
"Cantik!" gumam Aji setelah melihat Intan berdiri di sisi ranjang dengan kebaya putih tulang.
"Sekarang giliran Gus Aji yang di make-up," ucap salah satu MUA tersebut.
Intan menatap dirinya di pantulan cermin yang ada di pintu almari. Ia tersenyum melihat parasnya yang berubah menjadi cantik, Intan serasa menjadi ratu hari ini.
Beberapa puluh menit kemudian, terdengar suara ketukan pintu sebelum Ninis masuk ke dalam kamar itu, "Penghulunya sudah datang, Ji," ucap Ninis setelah berdiri di sisi Aji.
Sepasang pengantin itu akhirnya keluar dari kamar bersama Ninis. Semua orang menatap kagum pasangan yang terlihat serasi itu. Kebaya putih dan jas putih yang di pakai keduanya seakan melambangkan betapa sucinya pernikahan ini.
Kinar membelalakkan matanya tatkala melihat Intan berjalan ke tempat akad nikah yang ada di depan pelaminan. Ia begitu terharu melihat saudara sekaligus sahabatnya itu, akhirnya setelah mengalami penderitaan batin setelah beberapa tahun lamanya, Intan menemukan kebahagiaannya.
Kedua keluarga besar itu akhirnya berkumpul dalam tenda pernikahan yang megah. Mereka menyaksikan akad nikah putra bungsu kyai Yusuf itu dengan gadis pujaannya selama ini.
Aji menjabat tangan tangan penghulu yang duduk di hadapannya. Tatapannya terlihat tegas dan serius. Ia mendengarkan dengan seksama ijab kabul yang di ucapkan oleh pak penghulu tersebut.
"Saya terima nikah dan kawinnya Intan Rahma Ayunda binti almarhum Abdul Rahman dengan mas kawin tersebut tunai!" ucap Aji dengan fasih.
"Bagaimana para saksi?" tanya Pak Penghulu tersebut kepada saksi yang duduk di mengelilingi sepasang pengantin yang bersanding.
"Saaah!!" ucap serempak semua orang yang ikut menghadiri acara yang sangat sakral ini.
__ADS_1
"Alhamdulillah ... Gus Aji dan saudari Intan di nyatakan sah sebagai pasangan suami istri," ucap Pak Penghulu itu seraya menatap Aji dan Intan bergantian.
Intan menerima uluran tangan Aji, ia mengecup punggung tangan itu dengan segenap perasaan yang ia miliki. Setelah Intan menegakkan tubuhnya, kini Aji yang mendekatkan diri ke arah Intan, ia meraih kepala yang berhiaskan rangkaian bunga melati, lalu sepersekian detik kemudian, Aji mendaratkan bibirnya di kening Intan. Ia memejamkan matanya untuk memberikan semua rasa yang ia miliki kepada istrinya itu.
"Ehem ... ehem ... ehem!!" semua orang yang menyaksikan pernikahan mereka berdehem karena Aji tak kunjung melepaskan kecupannya.
"Gus, nanti bisa di lanjutkan lagi," seloroh Pak Penghulu itu setelah Aji kembali menghadapnya, "sekarang, silahkan di tanda tangani dulu Gus surat-suratnya," ucap Pak penghulu itu setelah memberikan beberapa berkas yang ada di map merah.
Lantunan doa yang dibacakan oleh abah Yusuf berhasil menusuk qolbu, semua menengadahkan tangannya untuk mendoakan pengantin baru itu agar di berikan rumah tangga yang sakinah, mawadah, warohma.
Setelah acara doa selesai, kini Aji dan Intan harus kembali ke kamar. Mereka harus ganti baju untuk acara temu manten yang akan diselenggarakan satu jam lagi. Keluarga dari Tangerang pun siap mengikuti bagaimana prosesi pernikahan sesuai adat di kota ini, beberapa hantaran sudah di siapkan untuk mengiringi temu manten. Intan tampil sempurna dengan balutan baju pengantin berwarna hitam khas Jawa. Rangkaian bunga melati pun menghiasi kepalanya.
"Sayang, aku gak bisa jalan kalau pakai seperti ini!" keluh Aji setelah memakai jarik sebagai bawahannya.
"saya juga tidak bisa Gus kalau pakai jarik seperti ini. Sepertinya Ning Ninis sengaja ngerjain kita nih!" gumam Intan seraya mengedarkan pandangan untuk mencari pelaku utamanya—Ninis.
Acara sakral itu pun akhirnya dimulai. Alunan sholawat nabi yang di bawakan oleh santri dari pondok putra itu pun terdengar merdu, hingga membuat semua orang berkaca-kaca karena haru. Begitu pun dengan Intan, rasanya ingin sekali ia menangis karena teringat almarhum kedua orang tuanya. Ia menikah tanpa dihadiri keluarganya, sekuat tenaga ia harus menahan air mata yang sudah terkumpul di pelupuk mata.
Rangkaian prosesi temu manten telah selesai dilaksanakan, kini mereka berdua berjalan menuju pelaminan. Acara sungkeman kepada kedua orangtua pun dilaksanakan di atas pelaminan megah. Pak Gatot dan Bu Leni terharu ketika sepasang pengantin itu berlutut dan sungkem di kakinya.
Satu persatu rangkaian acara telah selesai dilaksanakan. Acara yang sakral ini di tutup dengan doa dari Gus Sholeh. Semua menengadahkan tangannya untuk mengamini doa-doa yang di ucapkan Gus Sholeh.
Acara inti telah selesai, kini semua yang hadir berdiri menuju tempat prasmanan yang sudah di sediakan. Berbagai hidangan tersaji di sana, tinggal memilih sesuai selera masing-masing.
Kinar mengembangkan senyumnya ketika melihat Intan tersenyum bahagia di atas pelaminan. Ia lega pada akhirnya sahabatnya itu bisa menggapai cita-citanya—menjadi menantu seorang kyai. Setelah ini Kinar harus berjuang melawan rasa sepi karena tak lagi mempunyai teman yang klop dengannya.
"Kenapa melamun?"
__ADS_1
Kinar terkesiap tatkala mendengar suara seseorang di sampingnya, Ia mengalihkan pandangannya untuk melihat siapa yang duduk di sampingnya, "bikin kaget saja sih, Bang!" ujar Kinar kepada sosok yang ada di sampingnya itu—Farhan.
"Kenapa ngeliat Pak Aji dan istrinya seperti itu? pengen ya?" Sebuah pertanyaan dari Farhan yang membuat Kinar berdecak.
"Heleh! bilang aja Abang yang pengen! pasti sedih ya gara-gara ingat gak jadi naik ke pelaminan!" ujar Kinar dengan pandangan yang tak lepas dari Farhan.
Farhan hanya tersenyum simpul mendengar ucapan Kinar. Ya, memang benar adanya—saat ini ia teringat mantan calon istrinya yang kabur itu. Sepersekian detik kemudian, ia mengeluarkan ponselnya dan menyodorkannya ke Kinar.
"Tulis nomor ponselmu!" ucap Farhan tanpa basa-basi.
Kinar tertegun setelah mendengar permintaan Farhan. Ia tidak menyangka pada akhirnya ada jalan untuk bisa dekat dengan sahabatnya Aji itu. Ia meraih ponsel Farhan dan menuliskan nomor ponselnya di sana. Kinar tersenyum smirk tatkala sebuah ide konyol terlintas di kepalanya, ia menyimpan kontaknya dengan nama 'Calon istri'—Kinar masa bodoh dengan rasa malu nya setelah ini.
Sementara itu, di sisi lain—seorang pria duduk di sudut tenda sambil menatap sepasang pengantin itu. Air matanya sudah menggenang di pelupuk mata karena sebuah rasa yang membuncah di dada. Rasa penyesalan yang selama ini menyiksa batinnya, kini perlahan reda ketika melihat kebahagiaan gadis yang dulu pernah ia hancurkan masa depannya.
"Aku selalu berdoa agar kamu selalu mendapat kebahagiaan. Aku minta maaf karena sampai saat ini aku tidak memiliki nyali untuk meminta maaf kepadamu. Aku hanya seorang pengecut, Ta!" gumam Aga dalam hatinya. Ia segera pergi dari tenda megah ini karena tak kuasa menahan gejolak rasa di dada.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
_
_
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1