
Suasana menegangkan terasa di teras kontrakan Intan. Alam pun seakan mendukung suasana yang terasa di teras yang tak seberapa luas itu, langit gelap tanpa ada cahaya bintang dan bulan yang menghiasi.
Pandangan Aji terpaku pada sosok gadis yang ada di hadapannya. Ia masih shock setelah mendengar kalimat panjang yang terucap dari bibir tipis itu.
"Katakan dengan jelas, Tan! apa yang membuatmu tidak bisa menikah denganku?" tanya Aji untuk memastikan jawaban Intan sekali lagi.
"Saya seorang gadis yang tidak perawan lagi," ucap Intan dengan suara yang bergetar, ia menundukkan kepalanya karena tak sanggup untuk menatap telaga bening yang ada di hadapannya.
Aji tertegun setelah mendengar pengakuan Intan. Bunga-bunga yang ada di hatinya mulai berguguran karena diterpa rasa kecewa. Da-danya tiba-tiba sesak karena tidak bisa menerima kenyataan yang ada.
"Tidak! tidak mungkin!" Aji menggelengkan kepalanya sambil menatap tubuh yang semakin bergetar di hadapannya.
"Kamu sedang membohongiku 'kan?" Aji masih belum bisa menerima kenyataan yang terjadi.
"Memang begitulah keadaan saya, Gus!" Intan menegakkan kepalanya untuk menatap Aji.
Aji mundur satu langkah dari hadapan Intan. Sorot mata yang tadinya penuh cinta dan kasih, kini seakan hilang terbawa angin malam, menyisakan sorot mata kekecewaan.
"Kenapa Tan? kenapa kamu tidak bisa menjaganya untukku?" tanya Aji dengan nada penuh sesal.
Aji mengusap wajahnya kasar ketika melihat Intan hanya bungkam. Derai air mata lah yang menjadi jawaban atas pertanyaan Aji. Gadis itu seakan tak sanggup mengatakan dosa besarnya di hadapan pria yang di cintainya selama ini.
"Katakan! sudah berapa kali kamu berzina?" hardik Aji sambil menatap Intan penuh amarah.
Intan hanya menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tak sanggup mengatakan apapun di hadapan Aji. Bulir air matanya semakin mengalir deras ke pipinya.
"Bukankah kamu sudah tau jika berzinah adalah dosa yang besar! apa kamu tidak takut jika kelak Allah menghukummu di neraka?" Aji mendadak geram melihat Intan yang sudah terperosok begitu dalam di jurang penuh duri ini.
"Cukup! cukup Gus!" Intan menatap Aji dengan kilau mata penuh amarah.
__ADS_1
"Kenapa?" sahut Aji dengan tatapan tajamnya, "kamu baru sadar jika dosamu terlalu besar kepada Tuhan? atau kamu mulai ingat jika Tuhan punya neraka untuk menghukum para pendosa!" ujar Aji yang membuat Intan semakin membelalakkan matanya.
"Cukup! jangan menyebut surga dan neraka di hadapan saya, Gus!" teriak Intan. Untung saja kontrakannya jauh dari tetangga, sehingga tidak ada yang mendengar suaranya.
"Saya tahu jika Gus adalah orang yang taat kepada Tuhan! tapi Gus tidak punya hak untuk menghardik seorang pendosa seperti saya! surga dan neraka adalah milik Tuhan!" Intan mencaci Aji tanpa rasa takut sedikitpun.
"Kita hanya seorang umat. Jadi, tidak sepantasnya Gus menjadi panitia surga ataupun neraka! mestinya Gus sudah tau akan hal ini! tapi kenapa Gus tega menghardik saya seperti itu!" Intan menatap Aji dengan perasaan yang bercampur aduk
Aji tertegun mendengar ucapan Intan. Ada rasa yang menggelitik di hatinya ketika melihat tatapan sendu yang di balut dengan amarah yang besar itu. Aji tidak dapat menyimpulkan apapun saat ini, hanya perasaan marah dan kecewa yang sedang menguasai hatinya.
"Aku benar-benar kecewa denganmu, Tan!" ujar Aji dengan suara yang lebih rendah. Ia tidak tega melihat tubuh yang bergetar di hadapannya.
"Saya tahu dan saya paham jika Gus pasti kecewa!" ucap Intan dengan napas yang tersengal karena gemuruh yang ada di dalam dada, "Maka dari itu, saya jujur sebelum kita melangkah lebih jauh!" ucap Intan sambil meremas hijabnya yang menggantung di da-da.
Aji memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia enggan, untuk menatap derai air mata yang mengalir deras dari pelupuk mata bulat itu. Rasanya, semua kepercayaan yang ada pada dirinya untuk Intan, hilang sudah entah kemana.
Sekilas Aji mengalihkan pandangannya ke arah Intan. Namun, semua itu tak berlangsung lama, karena Aji enggan untuk melihat wajah manis yang di penuhi air mata itu.
"Maaf, aku tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan ini! aku belum bisa menerima kenyataan bahwa surga yang aku miliki, pernah di rasakan oleh pria lain," ucap Aji tanpa menatap Intan.
Deg. Jantung Intan rasanya berhenti berdetak setelah mendengar ucapan menyakitkan, yang keluar dari bibir pria yang sangat di cintai nya itu. Sakit, itu lah yang di rasakan Intan saat ini, semua ucapan Aji benar-benar membuat hatinya hancur berkeping-keping.
"Apa Gus tidak ingin mendengar penjelasan dari saya?" tanya Intan setelah beberapa saat terdiam.
"Tidak! aku tidak mau mendengar apapun lagi!" Aji melangkahkan kakinya tanpa permisi atau mengucapkan salam perpisahan.
Intan menatap punggung yang perlahan mulai menjauhinya. Ada rasa kecewa yang sangat besar ketika melihat sikap yang di tunjukkan oleh Aji. Ia benar-benar hancur saat ini.
"Ini kah yang di namakan cinta yang sesungguhnya?" teriak Intan hingga membuat Aji menghentikan langkahnya, "Saya sangat kecewa, ternyata orang seperti Gus, tidak sepenuhnya bisa di percaya! Jika akhirnya seperti ini, lalu apa makna cinta tulus yang pernah Gus ucapkan untuk saya?" ucap Intan dengan ekspresi wajah datar.
__ADS_1
Aji membalikkan tubuhnya. Ia menatap Intan yang sedang termangu di teras rumah. Semua yang di ucapkan Intan seperti sebuah peluru yang di lesatkan kedalam hati sanubarinya.
"Cinta itu ...." Aji harus menghentikan ucapannya karena tiba-tiba saja Intan menyelanya.
"Sudah cukup! jangan mengatakan apapun lagi! malam ini orang yang saya percaya telah hilang bersama cinta dalam hatinya!" ucap Intan dengan amarah yang semakin menggebu.
Brak!! pintu kontrakan itu tertutup rapat setelah Intan membantingnya. Ia meninggalkan Aji seorang diri di halaman kontrakannya. Intan tidak perduli lagi dengan Aji yang saat ini masih di luar.
Aji tertegun melihat sikap Intan kepadanya. Ia berdiri sambil memandang pintu yang tertutup rapat itu, perasaan bersalah perlahan menjalar di hatinya. Tapi semua sudah terjadi, nasi pun sudah menjadi bubur.
"Seharusnya aku segera pergi dari sini," gumam Aji seraya melangkah menuju mobilnya.
Aji bertolak dari tempat tinggal Intan. Ia melajukan mobilnya entah kemana, yang pasti jalan yang ia lalui bukanlah jalan pulang menunju kontrakannya. Aji pun merasa hancur setelah mengetahui kebenaran tentang Intan.
Rasa sakit yang ada di hati Aji mungkin tak sebanding dengan yang di rasakan oleh Intan. Rasa sesal, kecewa dan terluka bercampur menjadi satu, membuat da-danya semakin sesak karena semua rasa yang menyiksa itu.
"Salahkan jika aku menginginkan istri yang suci?" gumam Aji sambil menundukkan kepalanya di atas setir mobilnya. Mobil putih itu berhenti di pinggir taman kota yang ada di daerah Ciputat.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
_
_
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1