Surga Hitam

Surga Hitam
Hati yang Gundah,


__ADS_3

Semilir angin malam mulai menyapa seorang wanita yang sedang duduk di tepi ranjang sambil memberi ASI kepada putranya. Rambut hitamnya menari-nari karena angin masuk kedalam kamar melalui jendela kamar yang terbuka.


Penyesalan dan kesedihan seakan menghantui jiwa Intan saat ini. Rasanya, ia tak sanggup membayangkan seandainya terlambat sedikit saja menemui Firda yang berada di ujung hidupnya. Bulir bening itu pun kembali lolos dari mata belo nya seiring dengan suara tangisan Ghaly yang menggema di kamar.


"Sayang, kenapa menangis?" gumam Intan seraya menatap wajah Ghaly yang bersemu merah karena tangisan itu semakin kencang.


Intan beranjak dari sisi ranjang, ia menimang Ghaly ke dekat jendela agar bayi menggemaskan itu berhenti menangis. Namun, usaha Intan sepertinya tak membuahkan hasil, Ghaly tetap menangis dan suaranya pun semakin kencang.


"Nak, kamu ini kenapa sih!" gumam Intan dengan suara yang lirih, ia bingung harus bagaimana menenangkan Ghaly.


Intan mencoba keluar dari kamar, ia mondar-mandir di lantai dua sambil menenangkan Ghaly. Mata belo Intan mulai berembun karena tangis putranya tak kunjung berhenti.


"Nak, ada apa? abah dengar Ghaly sejak tadi menangis!" tiba-tiba terdengar suara abah Yusuf di lantai dua. Semua orang memang sedang berada di rumah Sholeh untuk mengikuti pengajian termasuk Aji.


"Saya tidak tahu, Bah ... tiba-tiba saja Ghaly menangis dan susah ditenangkan. Saya kasih ASI juga tidak mau," keluh Intan dengan suara yang bergetar.


Abah Yusuf mengamati cucunya yang menggeliat di gendongan Intan. Akhirnya, abah Yusuf mengambil Ghaly dari gendongan Intan. Beliau mencoba untuk menenangkan Ghaly.


"Apa yang terjadi?" tanya Aji setelah sampai di lantai dua. Ia mendekat kepada Intan yang terlihat sedih.


"Ghaly tiba-tiba saja menangis dan susah untuk ditenangkan, Mas!" ucap Intan seraya menatap Aji.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, tangisan Ghaly mulai reda. Bayi mungil itu sudah berada dalam dekapan sang Ayah karena abah Yusuf harus turun karena ada tamu yang menunggu beliau di ruang tamu. Aji menimang putranya sampai tertidur pulas.


"Ayo kita ke kamar, Sayang!" ucap Aji seraya menatap Intan.


"Sini Mas, biar saya saja yang menidurkan Ghaly," ucap Intan sambil memposisikan tangannya saat Aji memindahkan tubuh putranya.


Ghaly kembali menangis ketika berada dalam gendongan Intan. Lagi dan lagi suara tangisnya menggema di dalam kamar. Intan pun ikut menangis melihat putranya seperti itu. Ia menyerahkan Ghaly kepada Aji lagi.


"kenapa, Mas? apa yang sebenarnya terjadi kepada anak kita?" tanya Intan saat duduk di tepi ranjang. Air matanya pun tak henti menetes, ia semakin sedih karena Ghaly sepertinya tidak mau berada di dekatnya.


Aji masih diam, ia masih berpikir apa yang menjadi penyebab putranya menjadi seperti itu. Saat bersamanya Ghaly menjadi tenang dan saat bersama ibunya bayi menggemaskan itu menangis tak karuan.


Gelisah, itulah yang bisa ditangkap Aji dari sorot mata Intan. Manik hitam itu berputar ke segala arah untuk menyembunyikan kerisauan hati yang membuat suasana hatinya menjadi melow.


"Ikatan batin antara ibu dan anak itu sangat dekat. Terkadang anak bisa merasakan apa yang dirasakan ibunya. Jika ada yang mengganggu pikiranmu, katakanlah! Jangan menyimpannya, kasihan Ghaly, pasti dia terus menangis saat berada di dekatmu," Aji menepuk bahu Intan.


Helaian napas berat terdengar di sana. Intan menatap wajah tampan suaminya dengan sendu. Ia tidak bisa menyembunyikan penyesalan yang membelenggu hatinya. Rasa khawatir akan kondisi putranya membuat Intan mau tidak mau harus mengeluarkan semua perasaan yang terpendam dalam hati.


"Saya sedih, Mas! jujur saya sangat menyesal karena dulu saat Ning Firda masih bisa bicara, saya acuhkan! Saya membiarkan ego dan dendam tumbuh di hati, Mas," sesal Intan diiringi bulir air mata yang berjatuhan.


Intan tergugu saat bersandar di lengan sang suami. Ia menumpahkan semua rasa sesal yang ada di dalam hati. Ia menyesal karena tidak sempat meminta maaf secara langsung saat Firda masih sadar. Intan terlambat menemui kakak ipar yang sudah berada di pangkuan Tuhan.

__ADS_1


"Sayang, ini adalah sebuah pelajaran. Kamu sudah tau 'kan bagaimana rasanya menyesal karena belum sempat meminta maaf kepada orang yang sudah tiada?" tanya Aji yang mendapat jawaban sebuah anggukan dari Intan.


"Aku harap setelah ini kamu belajar ikhlas, belajar mengendalikan emosi karena kamu sudah menjadi seorang ibu. Bukankah kamu tahu jika seorang ibu yang menyimpan amarah akan berpengaruh kepada anak yang masih bayi?" pertanyaan Aji berhasil membuat Intan menegakkan tubuhnya.


Aji mencoba menenangkan Intan dengan kalimat-kalimat bijak untuk menghapus rasa sedih yang sedang membelenggu hati. Aji hanya ingin istrinya lebih sabar dalam menghadapi masalah apapun di masa yang akan datang.


"Penyesalan tidak akan ada habisnya, Sayang! setelah selesai nifas, kamu bisa menebus penyesalanmu dengan cara menyebut nama Ning Firda dalam doa-doamu." ucap Aji seraya merapikan helaian rambut yang menutupi kening sang istri,


Tatapan penuh cinta terpancar dari mata teduhnya, senyum semanis madu itu terus menghiasi wajah tampan Aji. Itulah yang membuat Intan jatuh cinta setiap hari kepadanya.


"Sayang, jangan lupakan Al-fatihah di setiap doamu," gumam Aji dengan tatapan penuh makna.


๐ŸŒนTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ๐Ÿ˜โ™ฅ๏ธ๐ŸŒน


โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–


Hallo semua๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹ nih aku kasih rekomendasi karya keren dari temen aku๐Ÿ˜Žkepoin kuy biar gk penasaran๐Ÿ˜˜



๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท

__ADS_1


__ADS_2