Surga Hitam

Surga Hitam
Pulang dari Rumah Sakit.


__ADS_3

Tiga hari kemudian ....


Kondisi kesehatan Intan mulai pulih seperti sebelumnya. Dokter pun telah mengizinkan Intan untuk beristirahat di rumah, tapi ada beberapa hal yang harus Intan jaga selama masa pemulihan luka di kepalanya.


"Nona tidak boleh merokok, minum alkohol, terlalu lelah, setres serta kurang tidur. Semua itu akan menjadi pemicu sakit kepala dan masa pemulihan yang lebih panjang. Jadi, saya harap Nona Intan mengikuti saran dari saya," ucap dokter yang visit ke ruangan Intan pagi ini.


"terima kasih, dok. Jangan lupa surat yang saya minta kemarin ya dok." Intan mengingatkan kembali perkara surat yang ia minta kemarin sore.


"Surat-suratnya sudah di proses, nanti akan di serahkan saat perawat melepas selang infus Nona," ucap dokter itu sebelum pamit keluar dari ruangan.


Intan akhirnya bisa bernafas lega, setelah terpenjara di dalam ruangan ini selama hampir satu minggu, akhirnya beberapa waktu ke depan ia akan bebas. Intan ingin sekali secepatnya kembali ke Tangerang, ia sudah rindu dengan Kinar walau setiap hari video call.


"Apa perlu saya bantu, Gus?" tanya Intan saat melihat Aji sedang merapikan barang-barang yang akan di bawa pulang.


"tidak perlu, Tan. Ini hampir selesai kok," ucap Aji tanpa menatap Intan.


Tiga puluh menit kemudian, seorang perawat masuk ke dalam ruangan Intan. Perawat itu akan melepas selang infus dari punggung tangan Intan. Surat kontrol dan keterangan dokter spesialis pun telah di serahkan perawat tersebut kepada Intan. Kemarin sore Intan meminta surat keterangan dari dokter beserta copyan rekam mediknya untuk di pakai kontrol di Tangerang nantinya.


"Terima kasih," ucap Intan sebelum perawat tersebut keluar dari ruangan.


Intan segera meraih pakaian yang sudah di siapkan Aji atas bed. Ia meraih tumpukan pakaian itu dan membawanya ke kamar mandi. Intan bahagia akhirnya ia bisa bebas dari aroma rumah sakit, ia tak akan lagi menghirup aroma obat-obatan dan lainnya.


Setelah selesai bersiap, Intan menghampiri Aji yang sedang duduk di sofa seraya menatap ponselnya, "kita pulang naik apa ya, Gus?" tanya Intan setelah ingat bahwa Aji tidak membawa mobil.


"Kita di jemput Mas Aslam," ucap Aji tanpa menatap Intan, ia masih sibuk membalas pesan yang masuk.


Hampir satu jam lamanya mereka menunggu kedatangan Aslam. Kini, Mereka berdua telah keluar dari gedung rumah sakit. Aji duduk di kursi depan, tepat di sebelah Aslam sedangkan Intan ada di belakang seorang diri.

__ADS_1


Dua puluh menit telah berlalu, kini mobil hitam itu berhenti di halaman samping rumah kyai Yusuf. Intan segera keluar dari mobil setelah Aji membukakan pintu untuknya.


"Hati-hati!" ucap Aji saat melihat Intan menapakkan kaki nya.


"Gus, saya bisa jalan sendiri," bisik Intan saat Aji bersiap memapah dirinya. Intan malu karena ada beberapa santriwati yang melihat ke arah mereka.


Kabar pernikahan siri Aji telah menyebar di pondok pesantren putri, tentu saja kabar itu membuat para pengagum Aji menjadi patah hati seperti Rahma. Mereka penasaran seperti apa sosok wanita yang berhasil memikat hati sang ustadz muda itu.


Intan berjalan di samping Aji dengan pandangan lurus ke depan. Ia merasa tidak nyaman karena di amati beberapa santri yang sedang duduk di gazebo. Rasanya, Intan ingin berlari agar cepat sampai ke dalam rumah besar itu.


Kedatangan Intan di sambut hangat oleh ummi Sarah dan Ninis, mereka membantu Intan duduk di ruang keluarga. Rasanya begitu membahagiakan setelah mendapat sambutan hangat dari ibu mertuanya itu.


"Bagaimana keadaanmu, Tan? apa masih ada yang sakit?" tanya Ninis setelah mendaratkan tubuhnya di samping Intan.


"Apa kepalamu benar-benar sembuh, Nak? tidak ada komplikasi atau infeksi kah?" sahut ummi Sarah dengan pandangan yang tak lepas dari Intan.


"Intan baik-baik saja, Mi—Ning," ucap Intan dengan di iringi senyum manis setelahnya.


Aji bernapas lega tatkala melihat pemandangan di ruang keluarga yang menyejukkan hatinya. Ia menapaki satu persatu anak tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua dengan kedua tangan yang membawa tas besar. Namun, langkah Aji harus terhenti ketika pandangannya menangkap sosok wanita yang bersembunyi di balik guci besar yang ada di dekat pagar pembatas. Aji meletakkan tas nya di depan kamar sebelum menghampiri wanita itu.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Suara bariton Aji berhasil membuat wanita berkerudung hitam yang sedang mengamati ruang keluarga itu terkesiap, wanita itu segera membalikkan tubuhnya.


"Emmm—Gus! saya ... sedang bersih-bersih," ucap wanita dengan suara yang terbata, ia memutar bola matanya ke segala arah kerena takut melihat wajah tak bersahabat Aji. Gadis itu tak lain adalah Rahma, entah apa yang sedang ia lakukan di sana.


Aji bersedekap ketika melihat sikap aneh yang ditunjukkan Rahma. Untuk pertama kalinya ia mengamati gadis itu dari jarak yang cukup dekat, "aku harap kamu tidak melakukan apapun yang bisa memancing kemarahan ku!" Aji memberi peringatan kepada Rahma tanpa basa-basi.


"maksudnya bagaimana, Gus?" tanya Rahma dengan kepala yang tertunduk. Ia ketakutan saat ini karena melihat sikap dingin yang di tunjukkan oleh Aji.

__ADS_1


"kamu sudah berani melaporkan istri ku kepada ummi. Kamu telah mengacaukan semua rencanaku! sekali lagi kamu mengganggu ketenangan istriku, maka aku yang akan bertindak!" ujar Aji sebelum berlalu dari hadapan Rahma.


Rahma tidak pernah menyangka sebelumnya jika Aji akan bersikap seperti itu dengannya. Rencana yang baru saja ia susun tiba-tiba hilang entah kemana, ia terus mengamati Aji sampai hilang di balik pintu kamarnya.


"Bahkan dia tak tertarik sedikitpun denganku," gumam Rahma dengan pandangan yang tak lepas dari pintu kamar Aji yang tertutup rapat itu.


Rahma kembali bersembunyi di balik guci besar ketika melihat Intan melangkah ke kamar Aji, ia mengamati sosok yang di anggapnya seorang rival itu. Ia segera melangkahkan kakinya ke arah pintu balkon lantai dua untuk melakukan hal konyol yang terlintas di pikirannya.


Rahma mengedarkan pandangannya, setelah situasi aman, ia mengendap-endap menuju balkon kamar Aji. Ia sangat penasaran apa yang sedang di lakukan Aji dan Intan saat berduaan di kamar.


Jantung Rahma berdegup kencang karena untuk pertama kalinya ia melakukan hal yan paling konyol dalam hidupnya. Logikanya sudah kalah dengan hawa naf-su di hatinya, ia tidak bisa mengendalikan naf-su yang tengah di kuasai oleh syaiton itu.


Rahma duduk di lantai sambil mengamati interaksi kedua insan yang ada di dalam kamar itu. Rahma menyembunyikan tubuhnya di balik pot tanaman yang ada di sisi jendela kamar Aji, kepalanya melongak ketika situasi di rasa aman. Beberapa menit kemudian, Rahma membekap mulutnya karena shock melihat sesuatu yang terjadi di dalam kamar itu. Ia harus menahan napasnya ketika kedua insan itu berdiri di dekat jendela—dada Rahma pun semakin sesak ketika melihat kemesraan sepasang pengantin baru itu.


"Tidak! ini pasti mimpi!" jerit Rahma dalam hatinya.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️


_


_


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2