
Malam semakin larut, pembahasan tentang hubungan Aga dan Rahma telah selesai. Semua kembali ke tempat masing-masing untuk istirahat. Kini di ruang keluarga yang luas itu menyisakan ummi Sarah, Aji dan Intan, sedangkan Ninis sudah masuk ke kamar setelah mendengar putrinya menangis.
Ummi Sarah beranjak dari tempatnya, Beliau pindah di samping Intan. Raut wajah yang sempat terlihat bahagia, kini mendadak berubah menjadi sedih. Ummi Sarah menatap Intan dengan perasaan yang tak karuan.
"kamu sakit apa, Nak?" tanya ummi Sarah dengan suara yang bergetar, beliau mengusap lengan Intan dengan lembut.
"hanya demam biasa, Mi ...." jawab Intan seraya menatap ummi Sarah, ia mengembangkan senyumnya karena tidak bisa dipungkiri lagi bahwa saat ini Intan sangat bahagia.
Ummi Sarah menatap Intan dengan telaga bening yang mulai berembun. Beliau sedih ketika mengingat kejadian beberapa hari yang lalu saat Intan dan Firda bertengkar hebat. Ummi Sarah merasa bersalah karena ikut andil menyakiti hati Intan.
"ummi minta maaf ya, Nak, karena ummi sempat mengikuti saran kakak iparmu. Ummi menyesal akan hal itu, tidak seharusnya ummi bersikap seperti kemarin," sesal ummi Sarah dengan suara yang bergetar.
Intan menggeleng pelan, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi ketika melihat ummi Sarah menitikkan air matanya. Ia tidak suka dengan situasi seperti ini, "ummi tidak perlu minta maaf, ummi tidak salah. Seharusnya Intan yang minta maaf karena membuat ummi kena serangan jantung," ucap Intan dengan kepala yang tertunduk.
"Tidak, Nak. Kamu tidak salah apa-apa. Ummi harap setelah ini hubunganmu dengan Aji baik-baik saja ya." Sebuah harapan dari ummi Sarah yang membuat Intan mengalihkan pandangan ke samping.
Aji tersenyum manis saat Intan mengalihkan pandangan ke arahnya. Ia sangat berharap Intan luluh setelah mendengar permohonan ummi Sarah. Ia tidak sanggup menjalani hari dengan sikap dingin yang ditunjukkan Intan.
"Intan boleh tidak Mi menghajar Mas Aji?" tanya Intan yang berhasil membuat ummi Sarah menahan tawanya.
Ummi Sarah beranjak dari tempat duduknya, beliau harus istirahat karena malam semakin merangkak naik. Meski kondisinya jauh lebih baik, tapi beliau tidak boleh terlalu lelah, "lakukan, Nak! jika Aji menyakitimu," ucap ummi Sarah sebelum berlalu pergi.
Setelah ummi Sarah berlalu pergi, kini tinggallah Aji dan Intan di ruang keluarga. Pandangan Aji tak lepas dari wajah masam dengan bibir yang mengerucut sempurna, "ayo ke kamar, kita juga harus istirahat!" ucap Aji setelah berdiri dari tempatnya. Ia mengulurkan tangan untuk membantu Intan berdiri.
"mau aku gendong?" tanya Aji dengan pandangan yang tak lepas dari Intan. Ia gemas sendiri melihat sikap yang ditunjukkan istrinya itu.
Sebuah ide muncul di kepala Intan ketika mendengar tawaran dari Aji. Kali ini Intan harus menghukum suaminya itu karena telah membuatnya setres beberapa hari ini.
__ADS_1
"Jongkok terus balikkan badan menghadap sana!" perintah Intan dengan wajah yang masam.
Aji mengerutkan keningnya setelah mendengar ucapan sang istri, tanpa banyak bicara Aji akhirnya melakukan apa yang diinginkan Intan saat ini. Ia jongkok dan membelakangi Intan.
"Ya salam!" gumam Aji ketika merasakan tubuh Intan menempel di punggungnya. Aji memejamkan matanya ketika perjuangan berat akan terulang lagi.
"Mas harus dihukum!! sekarang gendong aku ke kamar!" ujar Intan setelah Aji berdiri dari tempatnya.
"Demi cintaku padamu akan aku lewati tangga yang menjulang tinggi, semua demi kamu, Nyai ...." ucap Aji seraya membenarkan posisi Intan, "pegangan yang erat, Sayang!" ucap Aji seraya mengalihkan pandangan samping.
Perjuangan berat telah di mulai. Satu persatu anak tangga harus di lalui Aji dengan membawa beban berat yang ada di punggungnya. Protes, mana berani Aji memprotes sang istri yang sedang menunjukkan taringnya.
Senyum penuh kemenangan terbit dari bibir Intan. Ia puas malam ini telah melampiaskan kemarahan yang tersimpan di hati. Rasanya, Intan tertawa lepas ketika mendengar nafas Aji yang terengah karena menahan beban tubuhnya.
"Ke kamar mandi dulu!" ucap Intan ketika melewati kamar mandi yang ada di dekat kamar.
Aji menurunkan tubuh sang istri di depan pintu kamar mandi, "mau di mandiin sekalian?" tanya Aji dengan senyum penuh makna.
"No!! jangan harap!" teriak Intan sebelum menutup pintu kamar mandi.
Aji terkekeh ketika melihat tingkah sang istri, ia bersandar di dinding kamar mandi, ia menunggu sampai Intan keluar dari kamar mandi, "mau gendong lagi atau tidak?" tanya Aji setelah pintu kamar mandi terbuka.
"Jalan sendiri dong!" jawab Intan sebelum berlalu begitu saja dari hadapan Aji.
Intan mengayun langkah menuju kamar, ia harus istirahat yang cukup agar kondisi tubuhnya segera pulih seperti dulu. Setelah mengganti pakaiannya dengan piyama, Intan merebahkan diri di ranjang. Intan mengalihkan pandangan ke arah pintu, dimana ada Aji yang baru saja masuk ke dalam kamar.
Kelopak mata Intan reflek tertutup tatkala Aji melepas semua pakaian di hadapannya. Ia mencari pakaian tidurnya di dalam almari dengan kondisi tubuh yang terlihat sempurna. Aji sengaja melakukan itu untuk menggoda istrinya.
__ADS_1
Aji duduk di sisi ranjang Intan. Ia tersenyum manis sambil menatap wajah tanpa polesan make up itu, "Sayang, aku minta maaf atas kesalahanku kemarin," ucap Aji seraya memijat kaki Intan.
"Tolong, jangan bersikap seperti ini, aku tidak tahan melihat sikapmu yang dingin." Aji tak melepaskan pandangannya dari Intan.
"kamu boleh memukulku, kamu boleh melakukan kekerasan apapun kepadaku, asal setelah itu kembalilah seperti Intanku yang dulu. Aku merindukan kehangatan kasihmu." Aji mengungkapkan semua yang ada di hatinya.
Intan hanya tersenyum tipis setelah mendengar penyesalan sang suami. Ia menepuk bantal yang ada di sisinya agar Aji beristirahat di sana, "Mas, harus tidur! besok kan harus kerja!" ucap Intan dengan suara yang lirih.
Tanpa banyak bicara, Aji melompat ke sisi Intan. Ia meraih tubuh Intan untuk didekap seperti biasanya. Ia merindukan momen seperti saat ini, "aku sangat mencintaimu, Sayang!" ucap Aji setelah mengecup puncak rambut Intan beberapa kali.
Beberapa puluh menit kemudian, terdengar dengkuran halus di atas kepala Intan. Kelopak matanya susah untuk diajak kompromi. Ia tidak bisa tidur walau jarum jam hampir menyentuh angka dua belas malam.
Intan duduk bersandar di headboard ranjang dengan pandangan yang tak lepas dari wajah yang terlihat tenang itu. Jari jemarinya menyusuri setiap jengkal wajah tampan yang selama ini memenuhi memori otaknya. Intan sendiri tidak sanggup jika berlama-lama berseteru dengan Aji.
"Aku bersikap seperti ini bukan karena cintaku telah pudar, Mas. Aku hanya ingin memberimu pelajaran agar tidak mengulang kesalahan yang sama di masa depan. Aku sangat mencintaimu … cintaku terlalu egois hingga aku tidak rela jika kamu bahagia dengan wanita lain," ucap Intan sambil mengusap rambut Aji dengan penuh kasih sayang.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
Hallo ... nih ada rekomendasi cerita keren dari othor pemes😍skuy kepoin yg belomm😍
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1