
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya)." (QS. Al-A'raf: 201)
"Astaghfirullahaladzim ...." gumam Aji setelah membuka kelopak matanya.
Aji segera beranjak dari tempatnya ketika selesai bermunajat kepada Sang Kuasa. Sekilas ia menatap jam dinding yang ada di kamarnya, ternyata waktu begitu cepat berlalu, sekarang hampir pukul tiga dini hari. Aji mengusap wajahnya kasar ketika belum menemukan Intan di kamar.
Rasa sesal yang begitu besar telah menghantui jiwanya. Semua kalimat yang membuat Intan terluka terus terngiang dalam indera pendengaran Aji. Setelah beberapa jam merajut rindu bersama Sang Khalik, Aji sadar bahwa yang ia lakukan benar-benar keterlaluan, tidak seharusnya ia mengkhawatirkan hal yang belum tentu terjadi hingga membuat sang bidadari menangis pilu.
Aji melepas sarungnya sebelum keluar dari kamar. Ia hanya memakai celana pendek yang biasa ia pakai tidur. Aji menganyun langkah keluar kamar untuk mencari keberadaan sang istri.
Angin malam mulai menyapa Aji ketika dirinya berada di halaman samping. Aji mencoba berjalan ke arah belakang untuk mencari keberadaan Intan, ia tahu bahwa Intan suka menyendiri di tempat yang sepi saat memiliki masalah, jadi tidak sulit untuk Aji mencari Intan di lingkup rumahnya.
"Ya Allah," gumam Aji ketika melihat tubuh istrinya meringkuk di dalam gazebo. Aji pun masih mendengar suara isak tangis di sana.
"Sayang!" ucap Aji saat menyentuh bahu Intan yang bergetar, "ayo masuk, tubuhmu sangat dingin," ucap Aji seraya membalikkan tubuh sang istri.
Aroma rokok berhasil mengusik indera penciuman Aji. Tangannya otomatis meraba tiang gazebo untuk mencari saklar lampu yang ada di sana. Persekian detik kemudian, akhirnya gazebo tersebut menjadi terang karena lampu sudah menyala.
Aji melihat putung rokok berserakan di sisi Intan beserta korek api dan bungkusnya. Aji segera memungut semua sampah rokok tersebut sebelum orang lain melihatnya.
"Ya Allah, istriku merokok lagi. Semua ini memang salahku," gumam Aji saat membawa sampah rokok yang ada dalam genggamannya untuk dibuang ke dalam tong sampah.
Aji segera kembali ke tempat sang istri. Ia bisa melihat betapa hancurnya wanita yang ia cintai selama ini. Wajah yang biasa terlihat manis dan ceria kini terlihat kusut, sembab dan frustasi. Aji membangkitkan tubuh itu agar bisa duduk dan menghadap ke arahnya.
__ADS_1
"Sayang, aku minta maaf ... aku sudah melakukan kesalahan yang sangat besar," ucap Aji seraya mengangkat dagu Intan dengan jari jemarinya. Aji menatap mata yang sangat sembab itu.
Kesedihan yang mendalam telah dirasakan Aji saat ini. Ia sedih melihat Intan hanya diam dengan tatapan mata yang menyedihkan. Aji meraba tubuh Intan untuk memastikan kondisi fisik sang istri baik-baik saja.
"Sayang, kamu demam!" ucap Aji setelah meletakkan punggung tangannya di kening Intan.
Intan hanya menitikkan air matanya tanpa menjawab ucapan sang suami. Rasanya, ia tidak sanggup untuk mengucapkan apapun lagi. Energinya telah terkuras habis, tubuhnya pun terasa lemas.
"Kita masuk ke kamar ya, Sayang," ucap Aji seraya membantu Intan berdiri dari gazebo.
Aji mulai memapah Intan meninggalkan tempat ini. Namun, baru saja mereka berjalan dua langkah, tiba-tiba saja tubuh Intan terhuyung ke belakang, dengan sigap Aji menangkap tubuh lemah itu.
"Ya Allah ...." gumam Aji ketika tubuhnya dan Intan ambruk di tanah karena posisinya kurang tepat. Intan berada dalam dekapannya, kelopak matanya masih tertutup rapat.
Aji memutuskan untuk mengangkat tubuh Intan ke dalam rumah. Ia berjalan dalam gelapnya malam sambil membopong tubuh sang istri. Helaian napas berat Aji akhirnya terdengar setelah ia sampai di dalam ruang keluarga. Ia menatap tangga yang harus ia lewati agar sampai di kamar, ia mengatur napas terlebih dahulu sebelum berjuang naik ke lantai dua sambil mengangkat tubuh sang istri.
"Bismillahirrahmanirrahim ...." ucap Aji sebelum naik ke anak tangga pertama.
Setelah melalui perjuangan yang berat, akhirnya Aji sampai di lantai dua. Ia mempercepat langkahnya agar segera sampai di kamar. Pelan-pelan Aji merebahkan tubuh itu di atas ranjang, ia menegakkan tubuhnya setelah Intan terbaring di atas ranjang. Aji berkacak pinggang di sisi ranjang dengan nafas yang terengah. Ia mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum merawat sang istri.
Aji keluar dari kamar untuk mengambil air dan ember, ia harus mengompres Intan agar suhu tubuhnya segera turun. Rasa kantuk yang sempat menyerang, kini hilang sudah entah kemana.
"Sayang, bangunlah!" ucap Aji seraya meletakkan perasan handuk kecil di kening Intan. Ia menatap wajah pucat sang istri.
__ADS_1
Aji benar-benar merasa bersalah karena membuat keadaan Intan seperti ini. Ia telah membuat Intan menyentuh rokok seperti dulu dan menjadi kacau. Getaran ponsel yang ada di nakas berhasil membuyarkan lamunan Aji, ia segera meraih ponselnya untuk melihat siapa yang mengirim pesan di waktu sepertiga malam.
Ummi sudah sadar dan sudah keluar dari ICU. Sekarang ummi pindah di ruang VIP Tribuana 003.
Akhirnya, Aji bisa bernapas lega setelah membaca pesan dari Aslam. Kini, ia bisa fokus merawat Intan tanpa harus mengkhawatirkan sang ibu. Aji mengulang kembali kegiatannya ketika handuk yang ada di kening Intan mulai kering.
Aji terus mengulang kegiatan itu hingga suara adzan subuh terdengar di segala penjuru. Ia beranjak dari sisi ranjang untuk menunaikan kewajiban dua rakaatnya.
Beberapa menit kemudian, Aji kembali ke dalam kamar setelah sholat jamaah di musholah yang ada di antara pondok putra dan putri. Aji mencoba membangunkan Intan untuk memastikan jika istrinya itu sudah sadar.
"Sayang ... Yang ... Sayang ...." ucap Aji sambil menepuk pipi Intan bergantian.
Intan membuka kelopak matanya pelan setelah beberapa kali mendengar suara Aji. Ia menatap wajah tampan yang terlihat kusut itu. Namun, tak lama kemudian, ia kembali menutup mata dan mengubah posisinya membelakangi Aji.
"Istirahatlah, Sayang! nanti dokter Nanang pasti kesini untuk memeriksa keadaanmu," ucap Aji seraya mengusap rambut Intan.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
Hay ... nih aku punya rekomendasi novel keren untuk kalian semua😍😍😍kepoin yuk!
__ADS_1