Surga Hitam

Surga Hitam
Romantis ala Gus Aji,


__ADS_3

"Sayang, tolong pijat kepalaku sebentar," ucap Aji setelah merebahkan kepalanya di atas paha Intan.


Setelah sampai di kontrakan, mereka harus membersihkan rumah terlebih dahulu. Mereka bekerja sama seperti biasanya agar semua pekerjaan cepat selesai. Tepat pukul sepuluh malam akhirnya mereka bisa istirahat di kamar.


Intan tersenyum melihat suaminya yang manja itu, ia pun melakukan permintaan Aji—memijat kepala yang ada di atas pangkuannya itu dengan lembut dan penuh perasaan.


"kenapa bisa pusing, Gus?" tanya Intan dengan suara yang sangat lembut.


"emm ... mungkin karena setengah hari ini gak ketemu kamu," ucap Aji dengan kelopak mata yang tertutup.


Rona merah terlihat jelas di pipi mulus Intan, ia mengulum senyum tatkala mendengar ucapan sang suami, "mulai pinter ngegombal nih!" kelakar Intan seraya mengusap janggut suaminya itu.


"aku serius loh! setengah hari ini aku pusing gara-gara gak ketemu kamu," ucap Aji setelah membuka kelopak matanya.


Intan hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya itu. Ia tidak menyangka semakin kesini Aji semakin bersikap hangat dan romantis kepadanya. Ia bahagia karena semua yang dilakukan Aji akhir-akhir ini.


"Kita pulang ke Jombang kapan ya, Gus?" tanya Intan setelah teringat pernikahan resmi mereka akan di langsungkan dua bulan lagi.


"Setelah libur semester, kan kurang beberapa minggu saja," ucap Aji sambil menatap Intan.


"lah, terus surat nikah kita siapa yang ngurus? memang bisa ngurus surat dadakan?" tanya Intan lagi.


"untuk masalah surat jangan khawatir, Gus Sholeh dan Ning Ninis yang ngurus," ucap Aji dengan tenangnya.


Intan tak lagi bertanya, ia sibuk membayangkan betapa bahagianya ketika nanti duduk bersanding di atas pelaminan bersama Aji. Salah satu impian besarnya akan terwujud setelah ini.


Dengkuran halus terdengar di atas pangkuan Intan. Rupanya, Aji sudah tertidur pulas karena pijatan Intan di kepalanya. Pangkuan Intan adalah tempat ternyaman bagi Aji, ia merasa tenang dan damai jika berada di posisi ini.


Intan mengembangkan senyumnya tatkala melihat cincin lamaran yang di sematkan Aji tadi pagi. Ia mengamati cincin emas yang terlihat elegan itu, cincin yang dipilih Aji sendiri ketika mereka membelinya disalah satu pusat perbelanjaan yang ada di Ciputat.


"Ya Allah—terima kasih sudah mengirim pangeran tampan ini ke dalam hidup hamba," gumam Intan dengan suara yang lirih. Intan mengusap rahang kokoh yang ada di atas pangkuannya itu dengan segenap perasaan yang ia miliki.


Rasa kantuk mulai menyerang Intan. Ia akhirnya memilih duduk bersandar di headboard ranjang untuk menuntaskan rasa kantuknya, ia membiarkan Aji tidur pulas di atas pangkuannya.


***

__ADS_1


Suara adzan subuh telah berkumandang—sebuah alarm dari Sang Pencipta untuk umatnya agar segera kembali dari alam mimpi. Intan mengerjapkan matanya pelan ketika merasakan kebas di kakinya, ia pun merasakan beban berat di pahanya.


"Jadi sejak tadi malam Gus Aji tetap tidur di sini," gumam Intan setelah kelopak matanya terbuka.


"Gus! Gus!" ucap Intan seraya menepuk pipi Aji.


Aji mulai mengerjapkan mata ketika merasakan tepukan di pipinya. Ia mengembangkan senyumnya ketika yang ia lihat pertama kali adalah wajah manis yang sedang mengembangkan senyum itu.


"Good morning, Sayang!" ucap Aji dengan tangan yang terulur ke atas untuk membelai wajah manis itu.


"Sugeng injing, Gus," ucap Intan dengan pandangan yang tak lepas dari wajah tampan yang ada di pangkuannya, "kita kesiangan loh ini, adzan subuh baru bangun," ujar Intan.


Aji segera bangkit dari tempat nyaman itu setelah menatap jam dinding di kamarnya. Benar saja, ia terlambat bangun karena tidur di atas tempat ternyaman nya akhir-akhir ini.


"Ayo siap-siap sholat subuh!" ujar Aji setelah berdiri di sisi ranjang.


"Gus duluan saja, nanti saya menyusul," ucap Intan dengan suara yang lirih, "kaki saya masih kebas—kebasnya pakai banget loh ini!" seloroh Intan seraya menatap Aji.


Aji menarik kedua sudut bibirnya ke dalam setelah mendengar ucapan Intan, ada sedikit rasa bersalah yang menjalar di hatinya karena semua itu Aji lah penyebabnya. Aji berjalan memutari ranjang, kini ia berdiri tepat di samping Intan.


"Guus!! teriak Intan ketika tubuhnya tiba-tiba diangkat Aji, ia terkejut bukan main karena kelakuan suaminya itu.


"Diam atau kamu akan jatuh!" ucap Aji ketika Intan memberontak ingin diturunkan.


Sekali lagi Intan mendapat kejutan dari sang suami. Ia seperti di film-film romantis yang pernah ia lihat. Intan melingkarkan kedua tangannya di leher Aji agar tidak jatuh, ia mengamati wajah tampan itu dari bawah, rasanya ingin sekali ia menggigit bibir yang terlihat menggoda itu.


"astagfirullah ... m-e-s-u-m sekali ya aku!" gumam Intan dalam hatinya.


Setelah sampai di dapur Aji menurunkan tubuh istrinya itu di kursi kayu yang ada di sana. Ia berlutut dihadapan Intan seraya memijat kaki mulus itu.


"masih kebas?" tanya Aji.


"emmm ... lumayan," ucap Intan dengan suara yang lirih.


Lagi dan lagi Intan mengembangkan senyumnya ketika mendapat perlakuan romantis pagi ini. Ia benar-benar menjadi wanita paling bahagia di dunia ini. Bunga-bunga cinta semakin bermekar indah karena siraman penuh kasih dari sang pujaan hati.

__ADS_1


"sudah tidak kebas 'kan?" tanya Aji setelah berdiri.


Intan hanya menggelengkan kepalanya, ia menengadahkan kepalanya—menatap pria yang sedang mengembangkan senyum ke arahnya itu.


"Tidak, kalau begitu saya mandi dulu!" ucap Intan seraya berdiri dari kursi.


"Mau mandi bareng?" tanya Aji dengan tatapan penuh arti.


Intan hanya menjulurkan lidahnya ke arah Aji sebelum masuk ke kamar mandi. Begitu lah Aji, setiap pagi ia selalu menggoda Intan dengan mengajaknya untuk mandi bersama.


"Kapan ya wajah ba-ji-nga-n itu hilang dari memori otakku? aku pun kasian melihat Gus Aji terus menungguku," gumam Intan seraya melepas piyamanya. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding kamar mandi dengan kepala yang menengadah.


Intan segera membersihkan diri karena Aji sudah berteriak di luar kamar mandi. Mungkin waktu subuh akan habis, maka dari itu Intan harus segera menyelesaikan kegiatannya di kamar mandi.


"Apa aja sih yang di bersihkan? lama banget!" tanya Aji setelah pintu kamar mandi itu terbuka lebar. Ia menghalangi Intan dengan meletakkan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri bingkai pintu.


"Gus mau ketinggalan waktu subuh?" tanya Intan ketika melihat tatapan m-e-s-u-m dari suaminya itu.


Aji tersenyum penuh arti setelah melihat respon istrinya itu. Menggoda Intan dengan hal-hal yang berbau m-e-s-u-m adalah hal yang paling menyenangkan untuk Aji.


"Memberimu Nafkah batin itu termasuk kewajibanku loh!" ujar Aji seraya mengusap bibir Intan dengan jari telunjuknya.


Sebuah ide konyol muncul di kepala Intan tatkala jari telunjuk itu terus bermain-main di bibirnya. Tepat disaat Aji lengah, Intan menggigit jari itu hingga Aji berteriak karena terkejut.


"Dasar suami m-e-su-m!" sarkas Intan sebelum pergi dari hadapan Aji, tak lupa ia menjulurkan lidahnya sebelum berlari ke kamarnya.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️


_


_

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷


__ADS_2