
Rasa hangat mulai menyapa kala sang surya bangun dari tidurnya. Perlahan siluet kekuningan mulai pudar dari cakrawala timur karena sang surya mulai menampakkan wujudnya. Burung-burung berterbangan menyambut datangnya pagi, kicauan yang saling bersahutan bagaikan melodi alam yang mengiringi kegiatan semua insan.
Waktu terus berjalan tanpa mengenal rasa lelah. Hari demi hari ikut berganti mengikuti waktu yang terus berputar. Tak terasa waktu yang ditunggu semua keluarga kyai Yusuf telah tiba. Usia kandungan Intan saat ini memasuki bulan ke sembilan, hanya menunggu beberapa hari saja saka junior akan lahir ke dunia ini.
Segala hal yang dibutuhkan untuk melahirkan nanti sudah disiapkan. Satu tas besar siap angkut jika sewaktu-waktu Intan melahirkan. Ummi Sarah menyarankan Intan agar melahirkan di rumah sakit saja mengingat menantunya itu sering mengalami anemia. Beliau hanya ingin yang terbaik untuk menantu dan calon cucunya nanti.
Intan mengalami perubahan bentuk tubuh, berat badannya naik lima belas kilo, pipinya pun semakin terlihat mengembang beserta bagian tubuh yang lain. Ia sempat minder akan hal itu, beruntunglah Aji bisa membuatnya menjadi percaya diri lagi.
Semakin mendekati persalinan, Intan semakin aktif bergerak. Ia mengikuti saran dari dokter agar sering bergerak seperti jalan kaki, ngepel, sujud dan gerakan lain asal tubuhnya tidak terlalu lelah. Seperti pagi ini, Intan dan Aji baru saja kembali dari jalan pagi di sekitar tempat tinggalnya. Mereka beristirahat di gazebo yang ada di halaman samping. Nafas Intan memburu karena lelah.
"Sayang, kakinya jangan digelantungin gitu, nanti makin bengkak!" Aji memberi peringatan kepada istrinya, "selonjoran aja sini, biar aku pijit," ucap Aji seraya menepuk tempat di sisinya.
Tanpa banyak protes, Intan mengikuti perintah sang suami, ia sendiri menginginkan pijatan itu seperti biasanya. Sudah dua hari ini Aji tidak pergi ke sekolah karena sedang liburan semester akhir, hanya ketika sore saja ia pergi ke kampus untuk melaksanakan kewajibannya di sana.
Sama halnya dengan pesantren, semua santri di pondok putri dan putra sedang pulang untuk menghabiskan waktu liburan bersama keluarga di rumah. Hal itu menyebabkan suasana di lingkungan ndalem menjadi sepi.
Suara gelak tawa keempat anak Sholeh mulai terdengar di halaman itu, mereka berlarian ke sana kemari, rupanya mereka sedang bermain polisi dan pencuri. Sekilas Intan menatap Firda yang baru saja datang dari arah depan, ia pun segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, agar Firda tidak mendekat ke gazebo ini. Intan enggan untuk menegur sapa kakak iparnya itu.
"Mas! aku di tendang lagi nih!" Intan terkejut ketika merasakan gerakan dari dalam perutnya. Ia pun tak melepaskan pandangannya dari wajah sang suami, binar bahagia terlihat jelas dari sorot mata Intan.
Aji mendekat ke perut Intan, beberapa kali ia mendaratkan kecupan di tempat Intan merasakan tendangan dari dalam, "Selamat pagi, Nak! ayah sudah tidak sabar melihatmu hadir di dunia ini," gumam Aji setelah puas mengecup perut sang istri.
Intan hanya bisa tersenyum setelah mendengarkan ucapan sang suami. Tangan kanan Intan terulur untuk mengusap rambut tebal sang suami, "sudah waktunya potong rambut ini, Mas!" ucap Intan.
"besok saja lah kamu sudah lahiran," jawab Aji tanpa menatap Intan, "kalau anak kita nanti lahir laki-laki, aku bakal potong gundul!" ujar Aji yang membuat Intan terkesiap.
__ADS_1
"Jangan begitu ih Mas! itu namanya nadzar!" Intan memperingatkan sang suami.
"Gak masalah meski itu dicatat malaikat sebagai nadzar! aku insyaallah sanggup memenuhinya," jawab Aji tanpa berpikir panjang.
Intan tergelak mendengar jawaban sang suami, tawanya semakin terdengar renyah kala membayangkan rambut suaminya itu tanpa sehelai rambut. Wajah kartun kembar yang biasa tayang di televisi pun mulai menari-nari dipikiran Intan.
"Wah kalau begitu Ikhsan tidak perlu lagi melihat TV atau entub kalau pengen lihat ipin, kan dia punya om ipin nanti," seloroh Intan seraya menatap Aji yang sedang menahan tawa.
Sepasang suami istri itu tertawa bersama karena saling melempar candaan. Terkadang kehangatan keluarga kecil ini berhasil membuat beberapa orang merasa iri.
"Sayang, aku tinggal ke dalam dulu ya. Aku mau ambil HP sekalian air putih untuk kamu," pamit Aji sebelum turun dari gazebo. Ia mengayun langkah menuju rumah lewat pintu samping.
Senyum yang indah seakan tak pernah pudar dari wajah Intan. Setelah sang suami masuk ke dalam rumah, kini tinggallah ia sendiri di atas gazebo tersebut. Tangannya tak henti mengusap perut buncit itu, Intan sedang mencurahkan kasih sayangnya kepada bayi yang ada dalam gua garbanya. Namun, Beberapa saat kemudian Intan terkesiap tatkala merasakan kerudungnya ditarik seseorang dari belakang.
"Aaw!" Intan terpekik tatkala Firda berhasil menarik kerudungnya hingga terlepas, rambut panjangnya pun terurai begitu saja.
Intan turun dari gazebo tanpa persiapan karena mengikuti rambutnya yang ditarik oleh Firda. Perutnya terguncang karena Intan mengikuti tarikan rambutnya. Rasa nyeri mulai terasa di perut bawahnya.
"kamu sengaja pamer kemesraan di depanku ya!" teriak Firda dengan tangan yang tak lepas dari rambut panjang Intan. Matanya berembun dan berubah merah, entah apa yang sedang terjadi dengan Firda saat ini.
Intan tidak mungkin melawan kakak iparnya itu karena ia sedang hamil besar. Ia hanya bisa pasrah seraya mengikuti tarikan Firda. Rasa takut mulai menghampiri Intan, ia takut terjadi sesuatu dengan kandungannya.
"Mas! tolong Mas! tolong!" teriak Intan. Mungkin hanya Ini yang bisa ia lakukan agar terlepas dari cengkraman Firda.
"Ummi ... Abah ... tolong Intan! Mas Aji!! tolong ...." Intan mengeluarkan suaranya sekeras mungkin agar keluarganya mendengar.
__ADS_1
Firda seperti orang kesurupan, setelah menarik rambut Intan, ia malah berusaha mencekik leher adik iparnya itu. Nafas Intan mulai tersengal, air matanya pun luruh ketika melihat wajah Firda yang menyeramkan. Anak-anak Firda pun hanya bisa menangis ketika menyaksikan ibunya yang hilang kendali.
"Ya Allah!!" teriak Aji setelah keluar dari pintu dapur, ia menjatuhkan botol yang berisi air putih itu ketika melihat kejadian yang ada di sisi gazebo.
🌷Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️ waduh si Firda kesurupan apa nih?🌷
_
_
Hay hay hay ... aku mau merekomendasikan karya temen othor nih, karyanya keren loh😍 kuy kepoin😍
Judul: It's Me
Author: Emy
Blurb:
Alice gadis remaja yang mengalamai kecelakaan, membuat sebagian wajah bagian pipinya terluka. Semenjak saat itu dia harus menerima cacian hinaan dari banyak orang. Percintaan yang awalnya baik-baik saja, sang kekasih memutuskan hubungan sepihat alasanya karna wajah buruknya dan dia hanya memanfaatkan kebaikan Alice. Diam diam ada seorang lelaki yang selalu memperhatikannya serta membantu. Bagaimana kah kisah percintaan Alice selanjutnya? Akankah pria tersebut menampakan diri, dan apakah Alice bisa merubah takdirnya?
_
_
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1