Surga Hitam

Surga Hitam
Jangan sentuh aku!


__ADS_3

Malam ini Bintang dan bulan nampaknya kompak menyembunyikan diri, mereka membiarkan langit menjadi gelap gulita tanpa setitik sinar. Angin malam pun ikut bekerja sama menciptakan suasana mencekam di kawasan Ciputat.


Waktu sepertiga malam memanglah waktu yang tepat untuk duduk bersila di atas sajadah, memanjatkan alunan cinta kepada Sang Pencipta, untuk Mencari kedamaian jiwa dalam keheningan malam. Tapi semua itu tidak berlaku untuk seorang gadis yang sedang berjalan lunglai seorang diri di pinggir jalan raya. Ia seperti kehilangan semangat dalam hidupnya.


Gadis itu tak lain adalah Intan. Ia terus melangkahkan kakinya tanpa arah dan tujuan yang pasti. Raut wajahnya terlihat sendu, gurat-gurat kesedihan terlukis jelas di wajah imut itu.


Rasa takut seakan sirna dari jiwanya. Gelapnya malam telah ia taklukkan seorang diri. Malam ini sepertinya semua makhluk enggan untuk menampakkan diri, sekalipun hewan malam yang biasa berkelana dalam gelap.


"Intan ...." langkah Intan harus terhenti ketika ada suara seorang pria yang menyeruakan namanya.


"Lo? mau apa lo?" Intan terkesiap setelah membalikkan tubuhnya. Ia menatap tajam ke arah pria yang sedang berdiri tegap tak jauh darinya.


"Akhirnya kita bisa bertemu di waktu yang tepat," seringai jahat nampak di wajah pria itu yang tak lain adalah Niko.


Intan mundur satu langkah ketika melihat raut wajah pria yang ada di hadapannya itu. Rasa takut mulai merayap dalam jiwanya yang sedang rapuh. Intan menatap ke sekelilingnya, mencari seseorang yang bisa menolongnya, tapi tak ada satupun manusia yang sekedar lewat atau Tunawisma yang biasa tidur di depan ruko.


"Pergi! jangan mendekat!" teriak Intan ketika melihat Niko mulai melangkahkan kakinya.


"Kali ini aku tidak akan melepaskanmu, Cantik! aku harus bisa merasakan madu yang ada dalam dirimu," ujar Niko dengan di iringi senyum smirk.


"Jangan mimpi! aku akan membu-nuh mu jika tanganmu berani menyentuhku!" Intan mengancam Niko seraya memundurkan langkahnya.


"Ayo lah Cantik! datanglah kepadaku tanpa harus aku yang memaksa! aku janji, aku akan memberikan surga dunia kepadamu malam ini." Seringai jahat semakin terlihat jelas di wajah Niko.


Intan tercekat ketika mendengar ucapan Niko, ia menatap ke sekelilingnya untuk mencari benda yang bisa di pakai untuk melawan Niko, sialnya---tak ada apapun yang di temukan oleh Intan di sana.


Tak ada cara lain yang bisa Intan lakukan selain lari dari hadapan Niko. Ia sudah terpojok saat ini, Intan membalikkan tubuhnya dan mulai berlari dari hadapan Niko dengan segenap tenaga yang ia miliki.


Intan terus berlari dengan air mata yang mulai bercucuran dari pelupuk matanya. Nafasnya mulai tersengal karena rasa takut dan sedih yang bercampur jadi satu di dalam hatinya.

__ADS_1


"Berhentilah! jangan terus berlari, Sayang!" teriak Niko. Pria itu semakin dekat dengan Intan.


Bruk!


Intan terjerembab di atas aspal karena ia tidak tahu jika ada lubang yang membuat kakinya terperosok. Intan terpaku ketika ada sepasang kaki yang berhenti di hadapannya. Perlahan Intan mulai menengadahkan kepalanya untuk melihat siapa yang sedang berdiri di hadapannya.


"Niko!" teriak Intan ketika kedua manik hitamnya melihat Niko yang sedang melepas jaketnya.


Tanpa berdiri, Intan menggeser tubuhnya ke belakang agar bisa menjauh dari hadapan Niko, "pergi! jangan sentuh aku!" teriak Intan ketika tangan kanan Niko meraih salah satu kakinya.


"Jangan berteriak, Cantik! nanti akan ada saatnya kamu berteriak di bawah kungkungan ku karena rasa nik-mat," ujar Niko.


"Tolong!!"


"Tolong aku! tolong!" teriak Intan dengan sekuat tenaga yang masih ia miliki.


"Tan! Intan! bangun woe!" Intan mencari dimana sang pemilik suara yang tak lain adalah Kinar. lagi dan lagi Intan terkesiap ketika beberapa tetes air membasahi wajahnya lagi.


"Bangun woe! Tan!!!!"


Intan segera membuka matanya, ia menatap ke sekeliling kamarnya dengan wajah yang bingung. Ia pun akhirnya menemukan Kinar yang sedang berkacak pinggang dengan satu tangan yang memegang gayung.


"Harus kah gue siram lu pakai air satu gayung agar lu bisa bangun?" tanya Kinar dengan raut wajah yang menampilkan kekesalan.


Intan tertegun setelah melihat plafon kamarnya, ia pun segera duduk bersandar di sisi ranjang seraya mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Ia pun memijat kepalanya karena rasa pusing mulai menyerangnya.


"Syukurlah, tadi hanya mimpi!" Intan bergumam setelah mengedarkan pandangannya untuk memastikan jika ini adalah kamarnya.


"Eh lu mimpi apaan sih? gue bangunin berkali-kali tapi gak bisa bangun! haruskah semua air ini gue siramin ke elu?" sungut Kinar sambil menatap Intan yang sedang menengadah.

__ADS_1


Memanglah benar, Kinar sudah berusaha membangunkan Intan ketika sahabatnya itu terus menyebut kata 'jangan dan tolong' dengan mata yang masih tertutup rapat. Kinar sampai menarik kaki Intan agar segera bangun dari tidurnya. Nyatanya hal itu tidak berhasil membuat Intan terjaga.


"Gue mimpi di kejar Niko, dia mau memper-ko-sa gue!" ujar Intan dengan pandangan yang tidak beralih dari plafon kamarnya.


"Astaga! mangkenye kalau tidur jangan di karpet! tidur di atas kasur aja lah biar mimpi indah. Mimpiin gue nikah sama Justin bieber kek, kan lebih seru! atau sama Jamie Dornan gitu," cerocos Kinar yang sedang membersihkan kulit kacang yang berserakan di lantai.


"udah jangan berisik! sekarang jam berapa sih? hari ini kita nyanyi di cafe 'kan?" tanya Intan sambil menatap Kinar.


"Sekarang udah jam sepuluh pagi, buruan mandi sono! biar gue yang bersih-bersih kamar! gue tadi udah masak buat lo, telor ceplok!" Kinar membantu Intan beranjak dari tempatnya. Ia menarik kedua tangan Intan agar gadis itu segera bersiap di kamar mandi.


"Yaelah telor ceplok lagi, gue bisa bulet seperti telor nih kalau tiap hari makan itu mulu!" protes Intan seraya meraih bungkus rokok yang ada di meja.


Intan menyulut sebatang rokok sebelum keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar mandi. Ia segera jongkok di atas closet legendaris berwarna biru itu seperti yang ia lakukan setiap hari. Intan begitu menikmati rutinitas wajib yang setiap pagi ia lakukan itu. Ia mencari ide-ide cemerlang sambil merasakan betapa leganya setelah emas batangan itu keluar.


Intan termenung dalam kepulan asap rokok yang mengudara di kamar mandi. Ia masih teringat jelas bagaimana mimpi buruk yang baru saja datang menghampirinya. Ada rasa nyeri di dada ketika mimpi buruk itu datang lagi.


"Kenapa aku dan Gus Aji sama-sama mimpi buruk ya? apa ini sebuah pertanda jika akan terjadi hal buruk padaku?" Intan bermonolog setelah mengepulkan asap rokoknya di udara.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍


_


_


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2