Surga Hitam

Surga Hitam
Masuk ICU,


__ADS_3

"Bah, ummi masuk ke ruang ICU, kata dokter ummi kena serangan jantung!" ucap Sholeh yang baru saja keluar dari IGD.


Kedatangan Sholeh berhasil menghentikan cerita yang disampaikan Intan. Mereka semua beranjak dari tempatnya dan mulai mencari di mana ruang ICU. Tentu saja hal ini semakin membuat Intan merasa bersalah, rasanya ia ingin menangis sekeras mungkin, ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Semua anggota keluarga yang ikut, kini sudah berada di depan ruang ICU yang ada di lantai dua. Mereka semua berdiri di depan jendela kaca yang besar untuk melihat keadaan ummi Sarah di dalam sana. Beberapa peralatan medis pun terpasang di tubuh wanita paruh baya tersebut.


Aji terpukul melihat kondisi sang ibu. Ia merasa bersalah karena menjadi salah satu penyebab yang menjadikan ummi Sarah seperti ini. Ia pun merasa kecewa kepada Intan karena ikut menambah beban di hati ummi Sarah. Aji menyayangkan sikap istrinya yang tidak bisa mengontrol diri di hadapan orang tuanya.


Semua orang tua pasti sedih dan terpukul ketika melihat anak-anaknya bertengkar. Apalagi keduanya adalah menantu wanita yang tidak bisa di bela salah satunya, karena semua itu bisa menimbulkan permusuhan di antara keduanya. Begitu pun ummi Sarah, mungkin beliau syok ketika melihat Firda terus menyerang Intan, entah di mata beliau siapa yang salah dan siapa yang benar.


Detik demi detik terus berlalu, semua masih berada di depan ruang ICU untuk menunggu perkembangan ummi Sarah, beliau belum sadar sejak pingsan tadi pagi.


"Abah sebaiknya pulang saja, ini sudah sore," ucap Aji setelah melihat wajah lelah sang Ayah.


"Iya Bah, kita pulang saja. Abah juga harus istirahat," sahut Aslam.


"Begini saja, Mas! biar aku yang menjaga ummi. Mas dan yang lainnya lebih baik pulang saja, nanti malam kita gantian," ucap Aji seraya menatap Aslam dan Sholeh bergantian.


Akhirnya, semua setuju dengan saran Aji. Mereka pulang bersama meninggalkan Aji dan Intan di ruang tunggu. Intan bersikukuh menemani Aji di rumah sakit, ia tidak mau berada di rumah seorang diri.


"Mas, tidak lapar?" tanya Intan sambil menepuk bahu Aji.


"Tidak, aku masih kenyang," jawab Aji tanpa menatap Intan. Sikapnya mendadak dingin, entah apa yang membuat Aji menjadi seperti ini.


Intan termangu melihat sikap suaminya, hatinya terasa pedih karena selama ini Aji tidak pernah menunjukkan sikap sedingin ini di hadapannya.


"Saya minta maaf, Mas," ucap Intan dengan kepala yang tertunduk. Ia enggan untuk menatap Aji.


Aji mengalihkan pandangannya setelah mendengar kalimat yang diucapkan Intan. Ia hanya diam sambil mengamati sang istri yang sedang terisak, bulir bening terus berjatuhan dari mata belo itu.

__ADS_1


Rasa kecewa yang ada di hati perlahan hilang karena terkikis rasa tidak tega. Aji segera meraih tubuh Intan agar bisa mendekapnya. Beberapa kali ia mengecup kepala yang tertutup jilbab tersebut.


"Jangan menangis lagi, kita berdoa saja biar ummi cepat sadar," ucap Aji dengan suara yang lirih.


Tubuh Intan bergetar ketika mendengar ucapan Aji, ia semakin terisak di dada bidang itu. Namun, tak lama kemudian suara suster jaga berhasil membuat keduanya berdiri dari kursi.


"Keluarganya ibu Sarah!" ucap suster tersebut dengan suara yang agak keras.


"Iya, Bu. Saya putranya ibu Sarah. ada apa?" tanya Aji setelah berada di hadapan suster ICU.


"Silahkan masuk jika ada yang ingin bertemu, tapi satu orang saja ya dan tidak boleh lama-lama," ucap suster tersebut.


Aji mengekor di belakang suster tersebut setelah pamit kepada Intan. Ia ingin menemani ummi Sarah walau dengan waktu yang singkat. Aji mendaratkan tubuhnya di kursi tunggal yang ada di sisi bed ummi Sarah.


"Mi, ini Aji ...." ucap Aji seraya menggenggam tangan ummi Sarah.


"Ummi tidak mau bangun?" tanya Aji dengan suara yang lirih. Aji tak henti mengecup punggung tangan ibunya itu.


Aji terus berbicara, ia mengucapkan kata-kata penyemangat untuk ummi Sarah. Ia hanya berusaha agar ummi Sarah membuka kelopak matanya setelah mendengar kalimat yang di sampaikan olehnya.


Beberapa menit kemudian, seorang suster datang menghampiri Aji. Suster tersebut memberitahu Aji bahwa waktunya sudah habis. Aji harus keluar dari ruang ICU—meninggalkan ibunya terbaring sendirian di sana.


"Bagaimana keadaan ummi, Mas?" tanya Intan setelah Aji keluar dari ruang ICU.


"Ummi belum sadar," keluh Aji sambil mengusap wajahnya dengan telapak tangan.


Intan hanya diam setelah mendengar jawaban singkat yang diucapkan suaminya. Helaian napas berat mengiringinya saat bersandar di kursi yang ia tempati. Intan menengadahkan kepala, pikirannya melayang jauh entang kemana, yang pasti saat ini hatinya sedang kalut karena masalah yang menimpa.


"Menurutmu aku harus bagaimana?" tanya Aji setelah beberapa menit terdiam.

__ADS_1


"Aku belum paham arah pembicaraan Mas kemana," jawab Intan tanpa menatap suaminya.


"Haruskah aku melakukan apa yang diinginkan ummi, agar beliau cepat sembuh?" tanya Aji seraya menatap Intan.


Sesak, itulah yang dirasakan Intan setelah mendengar pertanyaan sang suami. Haruskah ia marah setelah mendengar pertanyaan yang sudah pasti jawabannya? sungguh, Intan rasanya ingin sekali menjerit saat ini.


"Haruskah menyembuhkan orang yang sakit dengan menyakiti orang lain?" tanya Intan tanpa menatap Aji, pandangannya lurus ke depan dengan sorot penuh kesedihan.


Kekhawatiran membuat pertahanan Aji sedikit goyah. Ia benar-benar takut saat ini—takut kehilangan ibu yang melahirkannya ke dunia yang fana ini.


Jawaban yang diucapkan Intan berhasil menusuk relung hati Aji. Ia memijat kepalanya karena terlalu pusing memikirkan hal ini. Dua perasaan wanita yang sangat berharga dalam hidupnya tengah dipertaruhkan saat ini. Mungkin yang dibutuhkan Aji dalam situasi ini adalah kebijakan.


Mereka berdua kembali terdiam walau duduk bersanding, tak ada satupun kata yang terucap. Keduanya sedang asyik dalam pikiran masing-masing. Tak berselang lama, Intan berdiri dari tempatnya.


"Aku keluar sebentar, Mas!" pamit Intan dengan pandangan yang tak lepas dari Aji.


"Mau kemana?" tanya Aji saat menengadahkan kepalanya agar bisa menatap Intan. Aji menatap manik hitam Intan yang mengisyaratkan sebuah kesedihan yang teramat sangat.


"mau ke kantin, Mas! aku butuh asupan agar bisa berpikir jernih!" ucap Intan sebelum berlalu begitu saja dari hadapan Aji.


Aji tertegun setelah mendengar jawaban istrinya, ia hanya melihat Intan pergi dan semakin hilang dari pandangannya. Beberapa detik kemudian Aji teringat bahwa saat ini keadaan istrinya sedang tidak baik-baik saja.


"Aku harus menyusulnya, aku tidak mau terjadi sesuatu dengan Intan," gumam Aji seraya bangkit dari tempat duduknya.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka😍❤️

__ADS_1


Hay nih sekedar informasi, mampir juga yuk ke karya temen othor nih😍rekomended lah😀



__ADS_2