Surga Hitam

Surga Hitam
Lepaskan Topengmu!


__ADS_3

"lo dah minum obat, Tan?" tanya Kinar ketika melihat jam dinding di Studio sudah berada di angka tujuh malam.


Intan sudah kembali beraktivitas seperti biasanya. Tapi ia harus rajin kontrol dan minum obat agar kondisi lambungnya segera membaik. Dokter pun menyarankan Intan, agar mengurangi minum alkohol karena semua itu bisa membahayakan organ tubuhnya yang lain.


"udah Kin, makasih banyak udah ngingetin gue," ucap Intan seraya merengkuh tubuh mungil sahabatnya itu.


Malam ini studio tidak banyak pengunjung yang datang. Biasalah, karena ini bukan akhir pekan ataupun tanggal muda. Hanya ada beberapa saja yang datang ke studio ini, oleh karena itu kedua gadis bertato ini bisa duduk santai sambil bercanda.


"Gue rencananya pengen hapus tato, Kin." tiba-tiba saja mengucapkan hal yang membuat Kinar dan Tommy mengalihkan pandangan ke arahnya.


"Gak salah dengar nih?" sahut Tommy yang sedang duduk di kasir.


"Lu gak salah minum obat 'kan?" Kinar meletakkan punggung tangannya di kening Intan karena terkejut dengan keinginan sahabatnya itu.


Intan akhirnya menceritakan bagaimana pertemuannya dengan Aji kemarin malam. Tak ada satu pun yang di tutupi Intan dari kedua anak Pak Gatot itu. Beban berat yang selama ini di pikul Intan, kini seakan hilang begitu saja. Ia merasa bebas dari rasa yang membelenggu hatinya selama ini.


Tommy tertegun setelah mendengar cerita Intan, ia salut kepada adik angkatnya itu, karena pada akhirnya ia mengungkap perbuatan b-e-j-a-t pria bernama Aga itu. Tommy beranjak dari tempatnya saat ini, kini ia berdiri tepat di hadapan Intan.


"Abang sangat bangga kepadamu! kamu berhak bahagia dengan keluar dari belenggu ini." Tommy menepuk bahu Intan dengan di iringi senyum tipis yang menghiasi wajahnya.


"Gue juga! gue bahagia banget setelah mendengar semua ini. Gue harap setelah ini lu menemukan kebahagiaan lu, Tan." Kinar menghambur ke pelukan Intan.


Harapan Tommy selama ini telah terwujud. Ia hanya ingin kebusukan pria bernama Aga itu di ketahui keluarga Aji, karena Tommy sendiri tidak tahan melihat kerapuhan yang lama di sembunyikan oleh Intan.


"oh iya Tan, gue mau ngomong sesuatu nih!" ucap Kinar seraya mengurai tubuhnya, "kita di pecat dari D'Lilac. Lebih tepatnya elu dulu yang di pecat. Kalau gue mengundurkan diri sih!" ucap Kinar dengan tatapan yang tak lepas dari Intan.

__ADS_1


"Why?" Intan belum percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Kinar.


"Kan elu kemarin sakit, jadi kagak bisa ngisi di hari minggu 'kan, nah itu yang punya cafe gak mau tau, jadi elu di pecat." Kinar menghela napasnya, "ya udah gue juga ngundurin diri aja, lagian gak mau gue kalau penyanyi lain yang gantiin elu," ucap Kinar seraya menepuk bahu Intan.


Jujur saja Intan sangat kecewa dengan keputusan pihak cafe yang sepihak. Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Intan akhirnya mengulas senyumnya di hadapan Kinar, "udah gak masalah, nanti kita nyalurin hobi di jalan kan bisa." Intan menenangkan Kinar agar sahabatnya itu tidak merasa bersalah kepadanya.


Intan beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan menuju teras studio dan menghempaskan diri di bangku panjang yang ada di sana. Ia merenung seorang diri karena Kinar masih membantu Tommy membersihkan mesin tato di dalam.


Rasa asam yang terasa di indera pengecap Intan berhasil membuatnya resah, semua itu terjadi karena sejak sore tadi ia tidak merokok. Dokter menyarankan hanya boleh merokok dua batang saja dalam sehari.


"Meskipun habis permen satu toplespun rasanya tetap gak enak," gumam Intan setelah membuka bungkus permen.


Intan menengadahkan kepalanya, ia menatap gemerlap bintang yang menghiasi langit malam. Pikirannya berkelana jauh, memikirkan tentang seorang pria yang sedang jauh darinya. Intan terus menerka apa yang di lakukan Aji ketika bertemu dengan Aga.


"Semoga Gus tidak gelap mata," gumam Intan dalam hatinya.


Saat ini, Intan hanya ingin menata hidupnya kembali. Ia berniat untuk menghapus tato-tato di tubuhnya secara bertahap, mengingat banyak biaya yang harus Intan keluarkan untuk semua itu. Ia juga harus siap merasakan rasa sakit dari laser penghapus tato tersebut.


Intan mengeluarkan ponselnya dari saku, ia mulai mencari di internet di mana saja klinik yang menyediakan jasa penghapus tato. Malam itu ia berselancar di internet untuk membaca seputar penghapus tato.


"Tapi—kapan ya gue mulai menghapus tatonya," gumam Intan setelah menemukan informasi klinik penyedia laser penghapus tato di Ciputat, "Tabungan gue kan udah nipis banget," lanjutnya dengan mata yang berputar ke sembarang arah.


Intan meletakkan ponselnya, ia termenung kembali memikirkan biaya yang harus ia keluarkan nanti. Haruskah ia ngamen di jalanan lagi untuk mendapatkan uang tambahan? Job menyanyi di Cafe pun tak ada lagi.


"Heh! ngelamunin apaan sih?" Tiba-tiba terdengar suara Kinar di ambang pintu.

__ADS_1


Intan sekilas menatap sahabatnya itu, lalu ia menggeser tubuhnya agar Kinar bisa duduk di sebelahnya, "gue pengen ngamen lagi deh, gue butuh biaya banyak setelah ini," ucap Intan seraya menatap Kinar.


"Buat apa?" sahut Tommy yang ikut keluar dari studio.


"Buat menghapus Tato, Bang." Intan menatap Tommy yang sedang bersandar di bingkai pintu.


"Gak usah ngamen, nanti Abang bantu," ucap Tommy setelah mendaratkan tubuhnya di atas bangku yang tak jauh dari kedua adiknya berada.


"Tidak usah, Bang. Intan pelan-pelan kok ngehapusnya," ucap Intan. Ia tidak mau merepotkan keluarga Pak Gatot lagi, mengingat selama ini mereka sudah banyak membantu hidupnya.


Ketiga orang itu akhirnya berbincang-bincang sambil menunggu pelanggan yang datang. Menatap lalu lalang kendaraan yang masih ramai. Tommy memberikan beberapa nasihat untuk Intan, "Jika memang kamu ingin menghapus tato, lakukan semua karena kamu ingin berubah. Jangan karena Mas Ustadmu atau karena ingin terlihat baik di keluarga Kyai-mu."


Intan tersenyum mendengar nasihat dari Tommy. Setidaknya masih banyak orang-orang yang perduli dalam hidupnya. Tetap mendukung bagaimana keadaannya saat ini.


"Lagian ya Tan, mungkin sudah saatnya kamu melepas topengmu selama ini. Kamu tidak perlu menjadi seperti ini untuk menutupi kerapuhanmu. Gue harap setelah ini lo bener-bener tersenyum karena bahagia," ucap Kinar sambil menatap Intan dengan penuh kasih sebagai seorang sahabat dan saudara.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍


Maap baru up, baru pulang dari rumah sakit guys😂


_

__ADS_1


_


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2