
Ruang tamu yang luas itu terasa menyesakkan tatkala Intan menangis di pelukan Ummi Sarah. Gadis itu sangatlah rindu pada sosok yang ia anggap sebagai ibu nya sendiri. Air mata Intan semakin berjatuhan tatkala Ummi Sarah menyuruhnya agar tidak kembali ke Tangerang lagi.
"Intan harus kembali ke Tangerang Mi, di sana Intan punya keluarga," ucap Intan setelah Ummi Sarah mengurai tubuhnya.
Ummi Sarah tertegun setelah mendengar pengakuan Intan yang terdengar ambigu itu, "keluarga?" Ummi Sarah menatap Intan untuk mendapatkan jawaban yang pasti dari gadis itu.
"Iya Mi, di Tangerang Intan punya keluarga. Intan di angkat oleh seseorang, jadi Intan punya orang tua dan saudara angkat di sana," ucap Intan dengan tatapan yang tak beralih dari Ummi Sarah.
"Oh, Ummi kira kamu sudah punya anak dan suami di sana," ucap Ummi Sarah yang membuat Intan tersenyum seraya melirik Aji yang ada di sampingnya.
"Mi, kalau Ummi mau Intan tinggal di sini, gampang kok Mi caranya," sahut Ninis seraya menatap Ummi Sarah yang menatapnya penasaran, "Kan tinggal di nikahkan saja Mi sama Aji," lanjut Ninis dengan di iringi tawa renyah setelahnya.
Intan menundukkan kepalanya karena mungkin wajahnya saat ini bersemu merah, sedangkan Aji hanya tersenyum ketika Ninis berusaha memberi Ummi Sarah sebuah kode.
"Kalau Ummi sih terserah mereka berdua saja, asal sama-sama mau. Tinggal kita tentuin tanggal kapan nikahnya," ucap Ummi Sarah yang berhasil membuat Intan segera menegakkan kepalanya.
"Serius Mi?" tanya Aji dengan pandangan yang tak lepas dari Ummi Sarah.
"Nanti kita bicarakan lagi sama Abah, sekarang kan Abah masih ada kegiatan di pondok putra," ucap Ummi Sarah dengan senyum yang tak pernah pudar dari wajahnya.
Ummi Sarah sangat bahagia karena pada akhirnya beliau bisa bertemu Intan kembali. Jujur saja Ummi Sarah merasa bersalah ketika Intan kabur karena perilaku buruk keponakannya. Ummi Sarah melepas rindu bersama Intan, mereka berempat ngobrol santai membahas hal-hal yang tidak terlalu penting. Sesekali Ninis menatap Intan yang sedang resah menyembunyikan tangannya, mungkin gadis itu takut Ummi Sarah melihat tato di tangannya.
"Permisi Mi, sarapannya sudah siap di meja makan," ucap Rahma setelah berada di samping Ummi Sarah.
Rahma memberanikan diri untuk menatap Intan dan Aji. Ia penasaran bagaimana paras gadis yang berhasil merebut hati Aji. Ia tidak menemukan apapun dari Intan karena menurut Rahma, paras Intan terlihat biasa, tidak lebih cantik darinya.
"kalau begitu kita sarapan bersama saja, kalian pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh," ucap Ummi Sarah seraya berdiri dari tempat duduknya.
__ADS_1
Ummi Sarah dan Ninis berjalan terlebih dahulu, meninggalkan Aji dan Intan di ruang tamu. Rahma masih bersembunyi di balik tirai untuk mengawasi kedua orang berbeda lawan jenis itu.
Sementara itu, di ruang tamu Intan sibuk membenarkan kancing gamis yang ada di pergelangan tangannya. Kancing yang bisa menolongnya untuk menutupi tato yang ada di pergelangan tangan, "Gus, bagaimana kalau nanti ummi tahu tato saya?" tanya Intan dengan suara yang lirih.
"Sudahlah, nanti kita hadapi bersama, aku pasti berusaha mempertahankan mu," ucap Aji seraya menepuk bahu Intan, karena hanya itu yang bisa Aji lakukan saat ini untuk mengurangi keraguan Intan.
Akhirnya, mereka berdua menyusul Ummi Sarah dan Ninis ke dalam rumah untuk sarapan. Berbagai macam hidangan tersaji di sana. Seperti biasa, Ummi Sarah pasti akan menyiapkan semua makanan yang di sukai Aji.
"Mi ... Aji sudah kenyang, Mi!" ucap Aji seraya menatap Ummi Sarah dengan wajah yang tertekuk.
Intan harus menahan tawanya ketika melihat ekspresi lucu Aji. Baru kali ini ia melihat Aji seperti itu, "Ning, apa semua makanan itu harus di habiskan Gus Aji?" tanya Intan dengan suara yang lirih kepada Ninis yang ada di sampingnya.
Ninis menganggukkan kepalanya, "iya, Ummi selalu melakukan hal itu kepada Aji," ucap Ninis setelah menelan makanannya.
Beberapa menit kemudian, Intan telah selesai sarapan. Ia bersikukuh membawa piring-piring kotor itu ke dapur. Ummi Sarah dan Ninis sudah melarangnya untuk melakukan semua itu, tapi Intan tetap berjalan ke dapur dengan membawa piring-piring kotor ke dapur.
"Hari ini kamu mau kemana saja, Tan?" tanya Ninis ketika Intan duduk kembali.
"Mungkin nanti malam saya ingin ke rumah bibi saya, Ning. Saya nginep di sana saja," ucap Intan seraya menatap Ninis.
"Nginep di sini saja, kan di sini banyak kamar!" sahut Ummi Sarah.
"Saya kangen dengan bibi saya, Mi," ucap Intan seraya menatap Ummi Sarah penuh harap.
Ummi Sarah tidak bisa menahan Intan lagi, beliau menyadari akan hal ini setalah melihat sorot mata Intan yang menyiratkan sebuah kerinduan yang besar.
"Mi, Aji mau istirahat dulu ya, Mi," pamit Aji setelah merasakan kantuk telah menyerang kedua matanya.
__ADS_1
"Ning, aku serahkan Intan kepada Ning!" ucap Aji sebelum berlalu pergi dari ruang makan, rasa kantuknya tidak bisa di kompromi lagi hingga ia membiarkan Intan bersama dengan Ninis.
Ninis mengajak Intan untuk istirahat di kamarnya saja, ia ingin berdekatan dengan Intan untuk melepas rindu. Intan mengekor di belakang Ninis menuju kamar yang membuatnya teringat kenangan pahit empat tahun yang lalu.
Kini, di ruang makan itu tinggallah Ummi Sarah seorang diri. Beliau tersenyum manis seraya menatap anak-anaknya yang berlalu ke kamar masing-masing.
"Mi, ini makanannya di bereskan sekarang atau bagaimana?" tiba-tiba Rahma muncul di samping Ummi Sarah.
"Dibereskan saja Ma. Kamu sudah sarapan?" Ummi Sarah menatap Rahma.
"Sudah Mi." Rahma mulai membereskan makanan yang ada di meja makan, "maaf Mi, kalau boleh tau wanita yang tadi itu siapa ya Mi? saya kok tidak pernah lihat dia." Rahma mulai mencari tahu siapa sebenarnya wanita yang datang bersama Aji.
"Oh, dia dulu santri di sini. Jauh sebelum ada kamu, dia yang ngawulo di sini," ucap Ummi Sarah sambil mengupas pisang, "sepertinya Aji suka sama dia, mungkin setelah ini Aji akan menikah dengan dia," lanjut Ummi Sarah.
Jantung Rahma seperti berhenti berdetak tatkala mendengar ucapan Ummi Sarah. Hatinya mendadak perih, ada rasa tidak rela jika Aji benar-benar menikahi gadis lain, apalagi gadis pilihan Aji itu tidak secantik dirinya, "Tapi Mi, saya tadi melihat wanita itu ...."
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
Maaf updatenya telat, othor lagi flue berat nih, meriang juga🤒🤧tapi bukan merindukan kasih sayang yak😖
_
_
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷