
Tetesan air hujan masih terdengar syahdu di sepertiga malam ini. Suara kodok ngorek mulai bersahutan satu sama lain, sebagai melodi yang mengiringi Intan dalam kesendiriannya. Tak ada suara kebisingan ataupun lalu lalang kendaraan, kini yang ada hanyalah suara isak tangis seorang gadis, si pemilik tato bunga mawar.
Yaโmalam ini untuk pertama kalinya, setelah empat tahun, Intan melepas rindu kepada Sang Khalik. Ia duduk di atas sajadah dengan kepala yang tertunduk karena rasa sesal yang menguap dari hatinya. Namun, tak lama setelah itu Intan kembali menegakkan kepalanya, kedua tangannya pun menengadah seiring dengan ungkapan penyesalannya.
"Ya Allah ... hamba tau mungkin hamba hanya seorang wanita yang penuh dengan dosa. Hamba tidak tau apakah wudhu dan sholat hamba bisa Engkau terima atau tidak, hamba hanya ingin kembali kepada Engkau wahai Sang pemilik jagat."
"Ya Rabb ... hamba mohon ampun atas segala dosa yang hamba sengaja. Hamba tau mungkin semua kesalahan yang hamba perbuat sulit untuk di maafkan. Hamba berserah diri kepada Engkau atas semua hidup Hamba setelah ini."
"Ya Allah ... jangan menghukum kedua orang tua hamba atas semua dosa yang hamba perbuat. Hukumlah hamba saja, Ya Allah. Biarkan kedua orang tua hamba tenang di surga."
"Hamba ingin kembali Ya Allah, kembali ke jalan yang benar seperti dulu. Hamba sudah lelah terus berlari dari pelukan hangatMu Ya Rabb."
"Ya Allah, terima kasih Engkau telah mengirim sinar dalam gelapnya hidup hamba. Jujur saja hamba sangat berharap sinar itu bisa menerangi jalan hamba kembali ke jalan yang Engkau ridhoi."
Di sepertiga malam ini Intan melepas rindu kepada Sang Maha Agung. Air matanya terus menetes karena tak kuasa menahan rasa rindu yang membelenggu jiwa. Intan telah menemukan jalannya pulang. Sinar itu telah datang untuk menerangi jalan terjal yang Intan lalui.
Setelah selesai melepas rindu bersama-Nya, Intan membuka Al-Qur'an yang baru saja ia beli setelah pulang dari studio. Intan kembali belajar membaca rangkaian huruf Hijaiyah yang terbentuk menjadi firman-firman Allah tersebut.
Rasa tentram mulai datang menghampirinya. Ketenangan bisa di rasakan Intan setelah melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang dulu pernah ia pelajari di Pesantren. Intan menutup Al-Qur'an nya ketika mendengar adzan subuh mulai berkumandang.
...๐ ๐ ๐ ๐ ...
Dua minggu kemudian ....
Sebuah tas besar telah siap di teras kontrakan Intan. Ia pun sudah menutup semua pintu kontrakannya, kini ia duduk di teras rumah, menunggu Aji menjemputnya.
Beberapa menit kemudian, orang yang di tunggu Intan telah datang. Intan berdiri dari tempat duduknya untuk menyambut kedatangan sang pujaan hati. Senyum manis terbit dari bibir Intan tatkala Aji semakin dekat dengannya.
__ADS_1
"Sudah siap?" tanya Aji setelah sampai di hadapan Intan.
"Sudah, Gus." Intan meraih tas slempangnya yang ada di atas tas besar.
Aji pun membawa tas besar Intan untuk di masukkan ke dalam mobilnya. Mereka harus segera berangkat karena sore ini, mereka berdua harus mampir terlebih dahulu ke rumah Pak Gatot.
"Kamu sudah siap ketemu Ummi? tanya Aji setelah mobil yang ia kemudikan keluar dari gang kontrakan Intan.
"Insyaallah sudah, Gus. Tapi kenapa kita harus melakukan perjalanan malam, Gus?" tanya Intan seraya mengalihkan pandangannya ke arah Aji.
"Biar kita sampai di sana pagi, Tan." Aji tetap fokus dengan kemudinya, ia menjawab tanpa menatap Intan.
Setelah menempuh perjalanan hampir dua puluh menit, akhirnya mobil putih itu sampai di depan rumah Pak Gatot. Mereka berdua segera turun untuk menemui Pak Gatot dan keluarganya.
"Assalamualaikum ...." ucap Aji dan Intan serentak.
"Sebentar ya, gue panggilkan Papah sama Mamah," ucap Kinar setelah Aji dan Intan duduk bersebelahan di kursi yang sama.
Beberapa menit kemudian, Pak Gatot dan Bu Leni keluar dari ruang keluarga. Mereka duduk di kursi yang ada di sebrang Intan. Sore ini, sikap Bu Leni sangatlah berbeda dari biasanya.
"Perkenalkan Pak, nama saya Aji," ucap Aji saat menjabat tangan Pak Gatot, "Bu ...." Aji mengatupkan kedua tangannya di dada untuk menyapa Bu Leni.
"Saya Gatot, saya ini ayahnya Intan," ucap Pak Gatot setelah bersalaman dengan Aji, "ini istri saya, Leni." Pak Gatot menunjuk bu Leni yang ada di sampingnya.
Intan sendiri menjadi heran ketika melihat Bu Leni yang murah senyum sore ini. Intan rasanya ingin tertawa lepas ketika melihat Mamah angkatnya yang aneh itu.
"Pak, Bu ... tujuan saya datang ke sini, untuk pamit membawa Intan ke Jombang. Mungkin kami di sana selama tiga hari saja. Mohon doa restunya, Pak." Aji menatap Pak Gatot dengan wajah yang serius.
__ADS_1
Pak Gatot menganggukkan kepalanya, beliau menatap pria yang ada di hadapannya itu untuk mencari keseriusan di sana, "Saya mengizinkan Intan ikut anda ke Jombang. Saya harap di sana Intan di terima dengan baik," ucap Pak Gatot dengan pandangan yang tak lepas dari Aji.
"Insyaallah saya akan menjaga Intan agar tidak terluka saat di sana. Saya harap Pak Gatot percaya kepada saya," ucap Aji dengan raut wajah yang sangat meyakinkan.
"Saya percayakan Intan kepada anda," ucap Pak Gatot tanpa ragu.
Akhirnya, keempat orang yang ada di ruang tamu itu bercengkrama sambil menikmati makanan yang baru saja di suguhkan oleh Kinar. Pandangan Intan dan Kinar bersirobok tatkala melihat sikap hangat yang di tunjukkan Bu Leni.
"Saya bahagia, akhirnya kamu menemukan jodohmu, Tan. Mamah akhirnya bisa bernafas lega setelah mendengar kabar bahwa kamu telah menemukan pria idamanmu selama ini." Bu Leni menatap Intan dengan binar bahagia yang terlukis di kedua manik hitamnya.
Intan dan Kinar hanya melongo ketika mendengar ucapan Bu Leni. Mereka berdua tidak menyangka jika Bu Leni akan bersikap selembut itu di hadapan Aji. Kinar menggelengkan kepalanya beberapa kali karena belum percaya melihat perubahan Mamanya yang mendadak.
Bu Leni akhirnya mengungkapkan alasannya membenci Intan selama ini. Beliau cemburu, karena semua keluarganya hanya perduli kepada Intan saat itu. Beliau takut Pak Gatot ataupun Tommy menaruh hati kepada Intan, semua itu karena masa lalu pahit yang pernah di alami Bu Leni ketika awal-awal berumah tangga dengan Pak Gatot. Wajah dan karakter Intan berhasil mengingatkan Bu Leni kepada sosok wanita yang sempat hadir di tengah-tengah rumah tangganya.
Senja semakin terlihat di ujung barat. Akhirnya mereka berdua pamit untuk berangkat ke Jombang. Intan mendekap tubuh Kinar dengan erat, rasanya berat sekali ia berjauhan dari keluarga Pak Gatot walau hanya tiga hari saja.
"Hati-hati di Jalan. Semoga kalian berdua selamat sampai tujuan," ucap Pak Gatot saat Aji dan Intan berpamitan.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ๐โฅ๏ธ
_
_
__ADS_1
๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท