
Aroma masakan yang menggoda indera penciuman tengah menari-nari di dapur minimalis yang ada di kontrakan Aji. Pria berkulit putih itu sedang menumis jamur tiram yang di campur dengan bahan lainnya. Pagi ini, ia berencana untuk membawakan Intan sarapan. Aji tidak enak hati setelah melihat reaksi Intan setelah tadi malam mendengar permintaannya.
"Dia pasti suka masakan ini," gumam Aji sambil mengendus aroma masakannya setelah siap dan di masukkan ke dalam kotak makanan.
Aji sudah rapi dengan kemeja berwarna navy yang di padukan dengan celana kain bahan stretch slimfit, karena hari ini ada jadwal mengajar di kampus. Pagi ini Aji terlihat lebih tampan, wajahnya berseri-seri bagai mentari di pagi hari. Aroma parfum maskulin melekat di tubuhnya.
Tepat pukul tujuh pagi, Aji berangkat menuju kontrakan Intan. Ia tidak memberi kabar kepada Intan jika dirinya mampir ke kontrakan. Aji mencoba menyiapkan hati dan pikirannya ketika nanti melihat penampilan Intan yang terbuka.
"Kendalikan dirimu, Ji!" Aji bermonolog ketika menghentikan laju kendaraannya di depan kontrakan Intan.
Tok ... tok ... tok ... tok ....
Aji terus mengetuk pintu kontrakan yang masih tertutup rapat itu. Sudah di pastikan jika Intan masih terlelap di atas ranjangnya, karena lampu yang ada di teras masih menyala.
Hampir lima belas menit Aji berdiri di depan pintu sambil mengetuk pintu kontrakan itu. Sesekali ia melirik arlojinya untuk memastikan jika dirinya tidak terlambat ke kampus. Gurat keresahan pun terlihat jelas di wajahnya ketika Intan tak kunjung membukakan pintu kontrakan.
Akhirnya, setelah beberapa menit menunggu di depan pintu, kesabaran Aji membuahkan hasil. Terdengar suara kunci yang di putar dari dalam, pertanda pintu akan segera terbuka dan ....
"Astagfirullahhaladzim!" gumam Aji dengan suara yang lirih ketika melihat pemandangan indah di hadapannya.
Intan berdiri di tengah pintu yang sedikit terbuka dengan rambut yang di kuncir asal, mata yang belum sepenuhnya terbuka dan yang membuat Aji harus menelan ludah ketika melihat penampilan Intan saat ini. Sebuah Hotpants mini berwarna hitam yang di padukan dengan tangtop putih model dada rendah melekat di tubuh berisi itu. Semua tato yang di miliki Intan terekspos jelas disana. Mulai dari kaki, paha, tangan hingga di dada.
"Selamat pagi, mau cari siapa?" sapa Intan dengan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya. Separuh jiwanya masih ada di alam mimpi yang Indah.
Aji memalingkan wajahnya ke arah lain ketika melihat tubuh yang begitu menggoda di hadapannya. Senyum tipis pun mengembang dari kedua sudut bibirnya ketika melihat wajah polos gadis pilihannya itu.
"Aku hanya ingin memberikan ini." Aji menyerahkan kantong yang berisi kotak makanan," aku harap kamu suka masakanku," lanjut Aji setelah sekilas menatap Intan yang menyandarkan kepalanya di pintu.
__ADS_1
Perlahan, Intan mengerjapkan matanya setelah mendengar suara pria yang sangat familiar di indera pendengarannya. Berkali-kali ia menggelengkan kepalanya ketika wajah tampan Aji tertangkap kedua manik hitamnya.
"Gus Aji!" Intan membelalakkan matanya ketika sepenuhnya sadar lalu ia menundukkan kepala untuk melihat penampilannya pagi ini.
"Astaga!" Intan segera bersembunyi di balik pintu setelah melihat penampilannya. Ia hanya menyembulkan kepalanya agar bisa melihat Aji yang sedang menahan tawa. Rasa malu yang tak berujung terus mendera Intan.
"Maaf Gus, saya ... emmb ... saya ...." Intan memutar bola matanya, ia tengah mencari alasan yang tepat untuk di ucapkan kepada Aji.
"Aku hanya mengantar ini." Aji kembali menyodorkan kantong yang sejak tadi ada di tangannya.
Intan menerima kantong pemberian dengan tatapan mata yang tak beraturan. Ia gugup dan salah tingkah ketika memandang mata teduh yang ada di hadapannya. Sungguh, rasanya ia ingin kabur dari tempat ini.
"Aku tidak mampir, Tan. Aku harus segera ke kampus karena ada jam pagi," ucap Aji sambil menatap Intan.
"Maaf gus," ucap Intan seraya menundukkan kepalanya, "Emm terima kasih, Gus." Intan benar-benar salah tingkah di hadapan Aji. Ia tidak tahu apa yang harus di lakukannya saat ini, ia bingung antara menyuruh Aji masuk atau ia yang keluar menemui Aji.
Kedua manik hitam Intan, terus mengikuti pria yang memakai kemeja navy itu sampai hilang dari pandangannya. Intan segera menutup pintu kontrakannya dan meletakkan kantong pemberian Aji di atas meja.
"Bo-doh! bo-doh! bo-doh!" Intan merutuki kebodo-hannya. Ia sangat malu karena memakai pakaian seperti itu di hadapan Aji.
"Astaga!!" Intan mencengkram rambutnya seraya mondar-mandir di depan pintu kamar.
Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Intan memutuskan untuk membuka kotak makanan dari Aji. Ia bisa mengendus aroma yang menggoda dari dalam kotak itu.
"Waw ... Gus Aji tau aja kalau ini makanan kesukaanku." Mata Intan berbinar ketika melihat tumisan jamur tiram yang di campur dengan beberapa sayuran. Rasa malu itu pun mulai hilang ketika rasa lapar mulai menyerangnya.
Intan memutuskan untuk sarapan tanpa mencuci muka ataupun mandi. Tumisan jamur ini mengingatkannya dengan masakan Ummi Sarah ketika di pesantren dulu.
__ADS_1
"Jadi kangen Ummi Sarah nih," gumam Intan sebelum makan masakan Aji.
****
Berkali-kali Aji menghela napas sambil mencengkram setir mobilnya. Ia mencoba mengendalikan dirinya setelah melihat kemolekan yang terpampang jelas di hadapannya tadi.
"Intan! kamu benar-benar mengkhawatirkan! bagaimana jika pria lain yang melihatmu seperti tadi?" Aji bermonolog dengan perasaan yang bercampur aduk, "sungguh, aku tidak rela jika ada pria lain yang melihat kemolekan tubuhmu," lanjut Aji sambil menyandarkan kepalanya di kursi mobil, karena saat ini mobilnya sedang berhenti di lampu merah.
Biar bagaimanapun Aji adalah pria yang normal. Sekuat tenaga ia harus bisa mengendalikan syah-watnya ketika berdekatan dengan Intan. Niat awal ingin minta maaf kepada Intan, tapi semua rencananya hilang begitu saja karena pemandangan indah yang tersuguh di depan pintu.
Sekali lagi Aji mengusap wajahnya dengan kasar ketika bayangan Intan hadir dalam pikirannya. Rasanya, Aji ingin sekali membawa Intan pulang ke Jombang dan segera menikahinya. Namun, Aji belum yakin jika Ummi Sarah bisa menerima keadaan Intan saat ini.
Memanglah benar, jika memang cinta kita harus menerima apapun keadaan pasangan kita. Tapi kondisi Intan saat ini sangatlah kontras dengan latar belakang keluarga Kyai Yusuf. Jujur saja, Aji belum siap jika keluarganya menolak gadis pilihannya itu.
"Ya Allah, tolong mudahkanlah jalan hamba menuju gerbang pernikahan yang Engkau gariskan nanti," gumam Aji dalam hatinya, "semoga hamba bisa mengendalikan syah-wat yang menggebu di dalam diri yang masih penuh dosa ini," lanjut Aji.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka πβ₯οΈ
_
_
π·π·π·π·π·π·
__ADS_1