Surga Hitam

Surga Hitam
Tak Pantas di perjuangkan,


__ADS_3

Sabtu malam minggu adalah hari yang di tunggu para pasangan muda, karena mereka akan menghabiskan waktu berdua dengan pasangannya. Entah itu dinner, hangout atau sekedar jalan-jalan mengelilingi pusat kota.


Semua hal itu sama dengan apa yang di lakukan oleh keempat orang, yang sedang duduk berhadapan di salah satu tempat yang ada di sudut Cafe. Gelak tawa pun terdengar di sana.


"Pak Aji, Neng Intan nya buruan di ajak pulang Ke Jombang, entar keburu di ambil orang loh!" seloroh Farhan dengan di iringi senyumnya yang renyah.


"Saya sih sudah siap membawa dia pulang kapan pun, tapi Neng Intan nya yang gak mau, Pak Farhan," ucap Aji seraya menatap Intan yang sedang menundukkan pandangannya, rona merah kembali hadir di kedua pipinya karena tersipu malu.


"Mau aja atuh, Neng! biar cepet halal," sahut Imel, calon Istri Farhan.


Intan hanya mengulas senyumnya ketika mendengar candaan ketiga orang yang ada di dekatnya itu. Sebenarnya, Intan pun ingin sekali menjadi kekasih halal Ajisaka. Tapi banyak hal yang membuatnya takut untuk melangkah. Salah satunya adalah tentang bagaimana kondisinya saat ini. Akan kah Ummi Sarah menerimanya sebagai seorang menantu? itulah yang menjadi tanda tanya besar di kepala Intan.


"Saya tuh suka kesel lihat berita online akhir-akhir ini, Pak Aji." tiba-tiba saja Farhan mengalihkan topik pembahasan setelah membuka ponselnya.


"Saya jarang mengikuti berita online, Pak. Memang apa yang menjadi trending topik minggu ini?" tanya Aji, ia pun penasaran tentang berita yang di maksud oleh Farhan.


Belum genap 24 jam menikah, seorang suami tega menjatuhkan talak kepada istrinya karena tidak berdarah saat malam pertama.


Aji menaikkan satu alisnya ketika membaca judul berita yang ada di layar ponsel Farhan. Ia membaca berita itu sampai selesai karena penasaran dengan apa yang terjadi.


"Harusnya istrinya jujur saja kalau memang tidak perawan lagi. Mungkin si suami ini merasa di bohongi gitu ya, Pak?" ucap Aji seraya menyerahkan ponsel itu kepada Farhan lagi.


"Bisa jadi seperti itu sih, Pak. Tapi harusnya kan di omongin dulu, kan gak harus di talak langsung, Pak," ucap Farhan setelah menyimpan ponselnya di dalam saku kemeja.


Mereka berempat pada akhirnya membahas tentang kesucian seorang wanita. Mereka juga membahas tentang bagaimana seharusnya wanita menjaga kehormatannya.


"Kalau menurut Neng Intan bagaimana? ini kaum kita loh yang di bahas," tanya Imel sambil menatap Intan yang dari tadi hanya diam saja, hanya sesekali ia ikut membahas tentang kesucian seorang wanita.

__ADS_1


Intan hanya diam sambil memikirkan jawaban atas pertanyaan yang di ucapkan oleh Imel, "kalau menurut saya pribadi, semua itu tergantung suaminya, Kak. Bisa atau tidak menerima kenyataan bahwa sang istri sudah tidak suci lagi." Intan menjawab pertanyaan Imel dengan tatapan yang sendu.


"Tapi Tan, suami mana yang rela jika istrinya sudah tidak suci lagi? Cinta memang segalanya, tapi kalau untuk kesucian, tidak semua pria bisa menerima kenyataan jika istrinya tidak suci lagi," sahut Aji.


Mereka berempat terus menjawab tentang kesucian. Topik itu seakan tidak ada habisnya untuk mereka perbincangkan. Banyak hal yang di sampaikan Aji mengenai masalah kesucian.


"Jadi seperti ini, jika orang-orang berilmu sedang berkumpul. Pembahasan mereka sangat berat, berbeda sekali dengan teman-temanku saat berkumpul," batin Intan sambil mendengarkan ketiga orang di dekatnya masih membahas masalah yang sama.


...🌹🌹🌹...


Mobil Avanza putih yang di tumpangi Aji dan Intan terus melaju di jalan raya. Mobil putih itu membela keramaian kota yang lumayan padat di akhir pekan. Suasana di dalam mobil mendadak sepi, Intan hanya diam dengan pandangan fokus ke depan, ia seperti sedang memikirkan sesuatu yang serius.


"Tan, nanti boleh aku mampir sebentar? karena ada hal penting yang harus aku bicarakan," tanya Aji ketika mobilnya berhenti di perempatan lampu merah.


"Silahkan, Gus." sekilas Intan menatap Aji yang sedang memainkan tangannya di atas setir mobil.


"Intan kenapa ya? sepertinya dia sedang resah," gumam Aji dalam hatinya setelah melihat tatapan mata bulat Intan.


Hampir tiga puluh menit mereka berada di jalan raya, ada kemacetan panjang yang ada di sekitar pusat kota. Seperti biasa, ini adalah malam minggu. Jadi, tidak heran jika banyak kemacetan di mana-mana.


"Silahkan masuk, Gus," ucap Intan setelah sampai di teras rumahnya.


"Kita ngobrol di sini saja," ucap Aji seraya duduk di kursi yang ada di depan teras kontrakan Intan, "Tidak usah membuatkan aku minum, duduklah!" ucap Aji ketika melihat Intan akan masuk ke dalam kontrakan.


Intan pada akhirnya duduk di kursi yang ada di dekat pintu. Ia hanya diam, menunggu Aji memulai pembicaraan yang katanya penting itu.


"Aku ingin menyampaikan hal yang sangat penting, Tan," ucap Aji dengan memasang ekspresi wajah yang serius, "Aku ingin melamarmu, ayo kita pulang ke Jombang dan menikah di sana," lanjut Aji setelah Intan menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Apa ini sebuah prank lagi?" tanya Intan, ia takut jika Aji hanya menggodanya seperti beberapa waktu yang lalu.


"Tidak, aku serius, Tan." Keseriusan terlihat jelas di wajah Aji, "aku sangat mencintaimu, Tan. Aku tidak mau kehilangan kamu. Maka dari itu, ayo kita pulang untuk menemui Abah dan Ummi." Aji memberanikan diri untuk menatap kedua mata bulat Intan yang sedang bergerak tak beraturan.


Intan tidak pernah menyangka, jika Aji akan mengajaknya menikah secepat ini. Ada perasaan ragu di hatinya karena sebuah beban yang selama ini ia pikul seorang diri.


"Menurut Gus, apa arti sebuah kesucian seorang istri dalam pernikahan?" akhirnya Intan melayangkan sebuah pertanyaan serius untuk Aji.


"Surga adalah simbolis dari seorang istri, Tan. Semua suami pasti berharap jika surga miliknya tetaplah suci sampai waktunya tiba. Begitu pun denganku, aku sangat berharap jika surga yang aku miliki nanti, tetap suci walaupun bagian luarnya banyak ukiran yang menghiasi." Aji menatap Intan dengan senyum yang sangat manis, bahkan mengalahkan manisnya madu.


Intan beranjak dari tempat duduknya setelah mendengar jawaban dari Aji. Ia berdiri membelakangi Aji. Intan terlihat resah, jari-jarinya saling bertautan, tetesan embun pun mulai membasahi kedua manik hitamnya.


"Bagaimana? apa kamu mau pulang ke Jombang secepatnya?" tanya Aji, pria itu saat ini sudah berdiri di samping Intan.


Aji tertegun ketika melihat gerak-gerik Intan, sangat jelas di matanya, jika Intan sedang tidak baik-baik saja. Aji melihat bulir air mata turun membasahi pipi mulus itu, "ada apa? apa aku menyakitimu?" tanya Aji, ia memberanikan diri untuk menyentuh bahu Intan dan membuat gadis bertato itu menghadapnya.


Intan menatap dalam wajah tampan yang ada di hadapannya, ia menyelami telaga bening yang menenangkan itu. Rasanya sakit sekali, hatinya seakan tertusuk ribuan belati ketika melihat harapan yang sangat besar terpancar dari sorot itu. Akhirnya, dengan berat hati Intan menjawab pertanyaan dari Aji.


"Jika memang kesucian yang menjadi perioritas utama, Gus. Saya memilih mundur saja, karena saya hanya surga hitam yang tak pantas untuk di perjuangkan."


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍


_

__ADS_1


_


__ADS_2