
Sejatinya pernikahan adalah penyatuan dua hati yang berbeda untuk menjadi satu. Terkadang cinta lah yang menjadi pondasi sebuah pernikahan, tapi ... adapula pernikahan yang terjadi karena terpaksa. Haruskah hati terpatri pada nama lain meski seorang suami telah dihadirkan Sang Pencipta? entahlah, karena urusan hati hanya sang pemilik yang mengetahui.
Hari ini adalah resepsi pernikahan Aga dan Rahma. Setelah kemarin menggelar akad nikah dan acara hanya untuk keluarga di kediaman Rahma, sekarang waktunya menyelenggarakan resepsi di Surabaya—kota kelahiran Aga. Keluarga Aga menyelenggarakan resepsi pernikahan di salah satu gedung yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Keluarga Aga sendiri termasuk dari kalangan menengah ke atas.
Dekorasi indah yang berhiaskan bunga-bunga hidup membuat pelaminan yang berdiri kokoh itu semakin terlihat megah. Siapapun akan takjub jika melihat konsep pernikahan tanpa adanya sebuah cinta ini.
Langit Surabaya terlihat sendu meski saat ini penunjuk waktu masih berada di angka sembilan pagi. Semua anggota keluarga kyai Yusuf dan ummi Sarah telah sampai di Surabaya sejak tadi pagi.
"Nis, bagaimana kabar adikmu?" tanya ummi Sarah setelah duduk di samping Ninis.
Raut wajah khawatir terlihat jelas di wajah cantik wanita paruh baya tersebut. Ummi Sarah resah memikirkan keadaan Intan karena menantunya itu tiba-tiba saja mengalami kram di perut bawahnya ketika dalam perjalanan menuju Surabaya. Pada akhirnya sepasang suami istri itu tidak bisa ikut menghadiri pesta pernikahan Aga di Surabaya.
"Keadaan Intan sudah lebih baik kok, Mi. Mereka sudah pulang dari rumah sakit," jawab Ninis seraya menunjukkan pesan yang di kirim Aji beberapa puluh menit yang lalu.
"Alhamdulillah kalau begitu, Ummi lega rasanya," jawab ummi Sarah seraya mengusap dada.
Tepat pukul sepuluh pagi, upacara pernikahan Aga di mulai. Prosesi adat jawa mengiringi Aga dan Rahma berjalan menuju pelaminan. Rahma terlihat semakin cantik dengan balutan kebaya berwarna putih, ia memakai siger di kepalanya yang terbalut hijab. Rahma berjalan di sisi kiri Aga dengan pandangan lurus ke depan. Pernikahan yang tak pernah diinginkan akhirnya terjadi juga.
Sama halnya dengan Rahma, Aga pun menampakkan senyum palsu di hadapan keluarganya. Ia sendiri tak tahu setelah ini harus bagaimana. Hidup bersama wanita yang tidak pernah sedikitpun ada dalam pikirannya, semua yang terjadi saat ini adalah bentuk penebusan rasa bersalahnya kepada Intan.
Satu persatu acara telah dilaksanakan. Kini tibalah acara terakhir yang ditutup dengan doa. Pembacaan doa dibacakan langsung oleh kyai Yusuf. Suasana pun menjadi hening dan khidmat setelah suara kyai mulai menggema di dalam gedung.
"Para tamu undangan dipersilahkan naik ke atas pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai dan foto bersama," ucap MC yang bertugas memandu acara sakral pagi ini.
Satu persatu keluarga kyai Yusuf mulai naik ke atas pelaminan. Ummi Sarah mengucapkan beberapa petuah untuk sepasang suami istri tersebut, "sekali lagi ummi ucapkan selamat untuk kalian! semoga segera mendapat momongan, biar bisa nyusul Aji," ucap ummi Sarah seraya mengusap lengan Aga.
"Terima kasih, Bude," jawab Aga dengan diiringi senyum tipis, "Aji tidak ikut, De?" tanya Aga karena sejak pagi ia tidak menemukan batang hidung sepupunya itu.
__ADS_1
"Aji tadi ikut, tapi di tengah jalan mereka balik karena tiba-tiba istrinya sakit," jawab ummi Sarah.
"Mi, ayo Mi ... antri Mi!" ujar Ninis karena ummi Sarah tak kunjung berjalan.
Satu persatu keluarga kyai Yusuf telah selesai mengucapkan selamat kepada Aga. Mereka berjalan ke tempat hidangan disajikan. Berbagai menu makanan khas Surabaya berjajar rapi di sana untuk memanjakan lidah para tamu undangan.
...🌹🌹🌹...
Keadaan rumah kyai Yusuf terasa sunyi sepi karena penghuninya berada di Surabaya kecuali Aji dan Intan. Mereka belum keluar dari kamar sejak pulang dari rumah sakit. Kandungan Intan saat ini sudah memasuki enam belas minggu. Perutnya pun mulai terlihat buncit dan dua minggu yang lalu Aji menggelar syukuran atau biasa di sebut neloni saat kandungan Intan berusia dua belas minggu.
"Sayang, makan dulu yuk!" ajak Aji seraya mengusap rambut Intan, Aji sendiri sedang duduk bersandar di headboard ranjang seraya menatap Intan yang sedang terbaring di sisinya.
"Nanti dulu ya, Mas. Saya belum lapar, lagian perut saya masih gak enak," ucap Intan seraya mendongakkan kepala agar bisa menatap Aji.
Mendengar keluhan sang istri, Aji segera berpindah tempat. Ia duduk bersila di sisi perut Intan, tangannya pun mulai mengusap-usap perut tersebut dengan gerakan yang sangat lembut.
"Sayang, kamu sedang mikirin apa sih? tadi dokter mengatakan perutmu keram mungkin gara-gara setres. Ceritakan padaku, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Aji setelah teringat penjelasan panjang lebar dari dokter.
"Jangan takut, katakan saja apa yang kamu pikirkan! kamu tidak boleh setres seperti ini, Sayang! kasian anak kita," Aji benar-benar penasaran.
"Bayang-bayang menyakitkan yang terjadi di masa lalu kembali menghantui, Mas. Saya takut bertemu dengan Aga—seringai jahat yang dulu kembali hadir memenuhi pikiran saya, Mas!" ucap Intan dengan suara yang bergetar.
Aji tertegun setelah mendengar jawaban sang istri. Dadanya terasa sesak mendengar semua itu, rasa bersalah yang besar kembali hadir ketika mengingat betapa hancurnya Intan saat itu.
"Kamu tidak usah takut, Sayang! aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi. Aku hanya ingin kamu melupakan semua yang terjadi di masa lalu," ucap Aji seraya mengusap pipi Intan.
Intan semakin tidak tenang kala mengingat pertemuan terakhirnya dengan Aga. Intan ingat betul bahwa saat itu ia menghajar Aga dan meluapkan semua isi hatinya, "ada satu lagi yang membuat saya tidak tenang, Mas!" Intan menatap Aji dengan tatapan yang sendu.
__ADS_1
"Katakan, Sayang!" ujar Aji.
Intan menceritakan kejadian terakhir saat bertemu dengan Aga. Ia tak menutupi apapun dari suaminya itu. Tentu saja semua cerita yang disampaikan Intan berhasil membuat Aji terkejut bukan main. Ia shock setelah mendengar penjelasan Intan bahwa istrinya itu pernah menghajar Aga dengan tangannya sendiri.
"Saya merasa bersalah bukan karena luka di wajah Aga, Mas! saya hanya takut Aga menikahi Rahma karena terpaksa atau lebih tepatnya karena menyelamatkan rumah tangga kita dari kejaran Rahma." Intan merubah posisinya, ia duduk bersandar di headboard ranjang.
Aji hanya diam setelah mendengar keresahan sang istri. Ia pun memikirkan hal yang sama dengan Intan, mungkinkah Aga menikahi Rahma karena terpaksa? pertanyaan itupun mulai menari-nari dalam pikirannya. Setelah beberapa menit terdiam, akhirnya Aji menemukan sesuatu yang bisa meringankan beban pikirannya sang istri.
"Sayang, kamu tidak usah merasa bersalah kepada Aga dan Rahma. Kamu harus ingat bahwa semua yang terjadi di dunia ini adalah kehendak Allah." Aji menatap Intan dengan sorot penuh makna, "mungkin Rahma adalah jodoh terbaik yang dikirim Allah untuk Aga. Jadi aku harap setelah ini kamu membuang rasa bersalah itu, kita doakan saja pernikahan mereka langgeng dan penuh cinta," ucap Aji tanpa mengalihkan pandangan ke arah lain.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️ maaf ya upnya telat, othor habis healing nih😎😂
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Seperti biasa, othor akan merekomendasikan karya kerena dari temen othor. Judul karyanya tuh Hatiku padamu, Kak karya dari author Alviesha_Athninamaisy😍 nih aku kasih blurbnya👇
"Tidak, aku yang mencintaimu ... Aku sangat mencintaimu ... Maaf kalau aku tidak pernah membalas suratmu, maaf kalo aku tidak pernah menyatakan perasaanku. Tapi aku sungguh-sungguh menyanyangimu." ujar Uwais penuh penekanan, dan penuh kepastian.
"Selalu seperti ini, kakak mengungkapkan perasaan sayang ke aku, karena aku yang tanya, atau aku yang nuntut ... Kakak gak pernah punya inisiatif sendiri!"
"Ya Alloh, maaf, kalo itu membuat kamu jadi seperti ini," kata Uwais yang akhirnya mulai mengerti apa yang dirasakan oleh Arrida selama ini.
"Tapi aku sungguh-sungguh sayang sama kamu, Ar, kamu masa depanku, kamu tujuan hidupku, kamu tau itu kan?"
__ADS_1
(Hatiku Padamu Kak, ketika Arrida selalu merasa hanya dia yang mencinta)
🌷🌷🌷🌷🌷🌷