
"Setelah ini kamu harus istirahat! jangan sampai begadang, oke!" ucap Aji setelah mengantar Intan sampai di depan pintu kontrakannya.
Setelah terjadi perdebatan panjang, akhirnya Aji mengalah, ia mengizinkan Intan tidur di kontrakannya sendiri dengan syarat Intan harus di temani Kinar. Sebelum mengantar Intan ke kontrakannya, Aji harus menjemput Kinar di studio terlebih dahulu.
"Hati-hati Gus!" ucap Intan setelah mengecup punggung tangan Aji.
"Pasti! aku pulang dulu." Sebuah kecupan pun akhirnya mendarat di kening Intan sebelum Aji berlalu dari hadapannya.
Intan masih berdiri di teras kontrakannya, ia menatap mobil putih itu hingga hilang dari pandangannya. Ada rasa aneh yang bersarang di dadanya ketika membayangkan Aji tidur seorang diri di kontrakannya, wajah Intan pun menjadi tertekuk karena hal itu.
"Cie ... cie ... ada yang gak rela di tinggal suami pulang! harusnya elu ikut pulang kesono aja!" seloroh Kinar yang tiba-tiba muncul di belakang tubuh Intan. Setelah turun dari mobil Aji, gadis itu langsung masuk ke dalam rumah, ia tidak mau melihat interaksi pengantin baru itu yang membuat jiwa jomblonya meronta-ronta.
"Apa sih! masuk sono!" Intan mendorong tubuh Kinar agar segera masuk ke dalam rumah.
Intan menghela napasnya ketika melihat keadaan kontrakannya yang kotor, debu pun sudah setebal dempul. Intan segera mengunci kontrakannya karena keadaan di luar sangatlah sepi, maklum saja ini sudah dini hari.
Intan dan Kinar bekerja sama membersihkan kamar sebelum mereka berdua beristirahat. Mereka menghabiskan waktu tiga puluh menit untuk membuat kamar itu rapi dan bersih seperti biasanya.
Kinar menghempaskan diri di atas ranjang Intan. Ia menatap langit-langit kamar Intan dengan sorot mata yang berbeda, hal itu membuat Intan mengernyitkan keningnya. Intan pun akhirnya merebahkan diri di sisi Kinar.
"Lu kenape sih?" Intan penasaran dengan Kinar, tidak biasanya gadis itu termenung seperti itu.
"Gue sedih aja, Tan. Kalau lu udah tinggal serumah sama suami lu, gue pasti sendirian, gue kesepian!" ucap Kinar tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Intan, "gak ada lagi yang nemenin gue minum dan seru-seruan di jalan. Gue merasa kesepian setelah lu tinggal ke Jombang seminggu lebih," ucap Kinar dengan suara yang bergetar, entah mengapa malam ini jiwanya menjadi melankolis.
"gue tetep kerja kok, jadi kita masih bisa bareng-bareng. Tapi gue gak bisa kalau minum, Kin. Gue gak boleh dokter! oke lah kalau sekedar nemenin lo asal jangan nyuruh gue nyicipin ya," ucap Intan seraya menatap Kinar.
__ADS_1
"gue tuh sedih tau gak sih! di umur gue yang sekarang ternyata gue masih jomblo. Pria yang deket gue pasti kabur setelah tau keluarga gue!" keluh Kinar seraya menatap Intan, "dulu waktu masih ada lo sih gak masalah ya gue jomblo, karena setiap hari gue gak kesepian. Nah! sekarang gue baru merasakan kalau gue itu kesepian!" setitik air mata pun turun dari pelupuk matanya.
Intan terkejut melihat Kinar mengeluarkan air matanya. Selama ini Intan belum pernah melihat Kinar meneteskan air matanya walaupun ada masalah besar yang menimpanya. Kinar adalah gadis yang kuat, tidak seperti dirinya yang mempunyai banyak stok air mata saat merasakan kerapuhan.
"Jangan nangis dong! gue ikutan sedih nih!" Intan merengkuh tubuh Kinar. Ia tidak tega setelah mendengar keluh kesah sahabatnya itu. Baru kali ini Kinar mau menunjukkan bagaimana isi hatinya.
"gue juga pengen kali pacaran, ngedate kalau malam minggu, nonton, dinner atau sekedar jalan muter-muter Ciputat. Tapi siapa coba yang mau ngedeketin gue! bokap sama abang gue aja posesif banget!" keluh Kinar, sepertinya gadis itu ingin mengeluarkan semua unek-uneknya malam ini.
"Mungkin Jodoh lu masih di jagain sama wanita lain, Kin!" ucap Intan yang berhasil membuat Kinar menajamkan pandangannya, gadis itu meronta dari rengkuhan tubuh Intan. Matanya membelalak, bibirnya pun mengerucut.
Kinar mendengus kesal karena Intan tak merasa bersalah sedikit pun kepadanya, "bukannya memberi semangat, eh malah bikin gue down! sahabat gak ada akhlak ye lu itu!" sungut Kinar sebelum mengubah posisi. Gadis itu sedang membelakangi Intan saat ini.
"Maaf deh! jangan ngambek gitu ih!" Intan menarik bahu Kinar agar mau menghadapnya, tapi Kinar enggan untuk menatap sahabatnya itu.
Akhirnya, Intan membiarkan Kinar pada posisinya saat ini. Ia kembali merebahkan kepala di atas bantal favorit nya itu. Pikirannya melayang jauh ke tempat tinggal suaminya saat ini.
Intan menghela napasnya panjang karena ponselnya mati, entah sejak kapan ponsel itu kehilangan energinya. Rencana menelfon sang pujaan hati pun akhirnya gagal, ia kembali merebahkan diri di samping Kinar setelah mengcharger ponselnya.
Intan mulai menutup matanya, Rasa kantuk mulai menyerangnya. Namun, baru saja ia merasakan kedamaian tiba-tiba saja tubuhnya di guncang Kinar, "eh elu udah malam pertama belom?" tanya Kinar saat tubuhnya kembali menghadap Intan.
"Astaga!! lu ngeganggu tidur gue cuma mau nanya hal itu!" sungut Intan dengan mata yang terbelalak, "kebangetan lu!" Intan mengeratkan rahangnya.
"ya udah jawab aja napa! udah belom? gimana? gimana?" Kinar menaik turunkan satu aslinya, jujur saja ia sangat penasaran bagaimana kisah sahabatnya itu.
"gue belum ngapa-ngapain! lagian gue belum sembuh total dan gue juga belum siap!" ucap Intan dengan pandangan yang tak lepas dari Kinar.
__ADS_1
"Yaa!! Saka junior belum OTW dong!" gumam Kinar.
"udah ah gue mau tidur! jangan nanya-nanya lagi," ucap Intan seraya mengubah posisi tidurnya, ia membelakangi Kinar yang masih termangu karena jawaban dari Intan.
Waktu terus berjalan tanpa kenal lelah, langit yang gelap pun mulai terang karena mentari pagi mulai menampakkan diri. Suara ayam jantan tetangga pun mulai terdengar nyaring, tapi semua itu tidak bisa membuat Intan dan Kinar membuka matanya. Keduanya masih berkelana di alam mimpi yang membuat mereka betah berada di sana.
Ponsel Intan yang ada di atas meja pun terus bergetar, mungkin ada sepuluh panggilan yang belum di jawab Intan. Siapa lagi yang menelfon sepagi ini kalau bukan Aji.
Beberapa menit kemudian Intan membuka matanya karena alarm alami dari tubuhnya. Ia bergegas keluar dari kamar untuk menuntaskan sesuatu yang bergejolak dalam perutnya.
"Huh! lega!" gumam Intan setelah mengeluarkan limbah alami miliknya.
Setelah selesai menuntaskan ritual paginya, Intan segera kembali ke kamar. Kedua matanya tak sengaja melihat ponselnya yang menyala di atas meja, ia segera meraih ponsel itu dan seketika matanya terbelalak ketika melihat banyaknya panggilan dari Aji yang tidak terjawab.
"Waduh! telfonnya sejak subuh lagi!" gumam Intan ketika melihat riwayat panggilan di ponselnya.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
_
_
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷