Surga Hitam

Surga Hitam
Ayo ikut pulang!


__ADS_3

Sholat Jumat di Masjid Akbar telah selesai di laksanakan. Satu persatu jamaah mulai keluar dari Masjid setelah memanjatkan doa-doa kepada sang pencipta. Begitu pun dengan Aji, ia bergegas keluar dari masjid yang megah ini setelah selesai menyebutkan nama seorang wanita dalam doanya.


Aji mengayun langkahnya cepat menuju mobil yang ada di tempat parkir. Ia buru-buru karena ada janji bertemu dengan wanita spesial yang menjadi penghuni di hatinya selama ini.


"Aku baru saja selesai sholat jumat, tunggu aku sebentar lagi," ucap Aji saat mengirim pesan suara kepada Intan.


Suara siulan menggema di dalam mobil Avanza putih itu, pertanda jika sang pengemudi sedang berbahagia. Pandangan Aji fokus ke depan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


"Akhirnya sampai juga," gumam Aji setelah mobilnya berhenti di tempat parkir Cafe Joox.


Sebelum keluar dari mobil, tak lupa Aji merapikan rambutnya, memakai parfum maskulin yang selalu tersimpan di dalam tas nya. Sekilas ia menatap wajahnya dari kaca spion dalam mobil sebelum membuka pintu.


"Kenapa aku gugup ya," gumam Aji saat berjalan masuk ke dalam cafe.


Aji mengedarkan pandangannya untuk mencari di mana Intan berada. Dari pintu masuk, pandangan Aji menangkap sosok Kinar dengan seorang wanita yang duduk membelakangi pintu masuk. Akhirnya, Aji mempercepat langkahnya ke tempat Kinar berada.


"Maaf, aku ...." Aji menghentikan ucapannya ketika melihat wanita yang duduk di hadapan Kinar bukanlah Intan.


"Gus!" Terdengar suara wanita lembut seorang wanita di belakang Aji, suara yang setiap hari ia rindukan.


Aji segera membalikkan tubuhnya untuk menatap sosok yang ia cari. Aji tertegun ketika melihat wanita berhijab yang ada di hadapannya. Wanita yang sama seperti yang ia lihat empat tahun yang lalu.


"Gus ... gus!" Intan melambaikan telapak tangannya di depan wajah Aji karena pria tampan itu hanya termangu.


"Astagfirullah ...." gumam Aji setelah tersadar dari lamunannya, "maaf Tan," ucap Aji sambil menatap wajah yang sangat manis seperti gulali itu.


Intan hanya menganggukkan kepala dengan di iringi senyum manis yang terlukis di wajahnya, "silahkan duduk, Gus," ucap Intan setelah melihat Aji tetap berdiri di tempatnya.


Sementara itu, Kinar dan Mila harus menahan tawa ketika melihat pemandangan yang ada di samping meja mereka. Terlihat sekali jika keduanya masih canggung, apalagi Intan. Gadis bertato mawar itu terlihat salah tingkah. Pipinya bersemu merah, bukan karena warna blush-on melainkan karena tersipu malu.


"Ehem!" Kinar sengaja menggoda kedua insan yang saling memandang itu, "kalau ketemu itu ngobrol dong, jangan diem bae," seloroh Kinar yang membuat Intan membelalakkan mata ke arahnya.

__ADS_1


"Maaf, gus. Teman-teman saya memang seperti itu," ucap Intan sambil menatap Aji, "saya sengaja mengajak mereka karena saya masih sungkan kalau bertemu Gus berdua saja," ucap Intan dengan di iringi senyum manis setelahnya.


"Tidak masalah, Tan. Memang seharusnya kita tidak boleh bertemu hanya berdua saja 'kan?" Aji menatap Intan dengan penuh arti.


"Eem ... i-iya, Gus." Intan menundukkan kepalanya karena tak kuasa untuk menatap mata teduh Aji yang bisa menghipnotisnya, ia takut jatuh ke dalam lembah cinta yang penuh warna itu.


Senyum tipis terbit dari bibir Aji, tatkala kedua manik hitamnya, menemukan sosok Tata yang dulu ternyata masih ada di dalam diri Intan saat ini. Aji sangat bahagia melihat Intan yang mau menutup aurat di hadapannya, ia sangat berharap jika Intan berubah menjadi seperti ini seterusnya.


"Aku masih bisa menemukan Tata-ku yang sempat hilang saat memandangmu dengan pakaian tertutup seperti ini. Sorot mata dan semburat warna merah di wajahmu telah mengingatkanku pada dirimu yang dulu." gumam Aji dalam batinnya.


Obrolan ringan mulai terdengar di sana. Intan pun mulai berani menatap Aji lebih lama daripada sebelumnya. Intan terus tersenyum ketika Aji mulai menceritakan bagaimana pengalamannya saat kuliah di Mesir.


"Apa Gus tidak punya pacar di Mesir?" tanya Intan tiba-tiba.


"Apa aku terlihat seperti pria yang sudah pernah berpacaran?" Aji bertanya balik sambil menatap Intan lebih dalam lagi.


Intan hanya terdiam, ia memalingkan wajahnya ketika Aji semakin menatapnya dengan senyum penuh arti, "Gus Aji masih seperti yang dulu," ucap Intan dengan hidung yang kembang kempis karena malu mengatakan hal itu.


Kinar menepuk jidatnya ketika mendengar obrolan kedua Insan yang sedang di mabuk cinta itu. Ia geli sendiri ketika melihat Intan yang tiba-tiba jadi pemalu. Sungguh, apa yang di lihat Kinar saat ini sangat berbeda dengan Intan yang biasanya.


"Untung lo masih geli doang. Gue dari tadi pengen muntah rasanya! empet banget gue!" Kinar memalingkan wajahnya ke arah lain, ia sendiri gemas melihat sikap Intan jika di hadapan Mas Ustad-nya itu.


Kedua gadis itu pun terus mengamati dua sejoli yang sedang bercanda di mejanya, raut bahagia terlukis jelas dari pancaran mata masing-masing. Intan sepertinya lupa jika membawa dua obat nyamuk yang setia menunggunya.


"Tan, inget! jam tiga kita harus ke studio!" Kinar mengingatkan Intan agar tidak lupa jika hari ini harus bekerja.


"Iya, lima belas menit lagi kita pulang," ucap Intan setelah melirik arlojinya.


"Yah, jadi gak bisa berlama-lama nih!" sahut Aji dengan nada penuh sesal sambil memandang ketiga gadis itu bergantian.


"Kalau Abang mau, bawa pulang aja. Kami rela kok! ya kan, Mil!" kelakar Kinar seraya menatap Mila.

__ADS_1


"Iye bener! bawa pulang aja, Bang! lumayan kan ada yang masakin di rumah," imbuh Mila dengan tawa renyah yang mengiringinya.


"Kalian!!" sungut Intan, ia sangat geram dengan dua temannya itu.


Aji tergelak melihat ekspresi wajah Intan yang menurutnya sangat lucu dan menggemaskan. Baru kali ini Aji melihat ekspresi Intan di saat kesal, "bagaimana kalau aku membawamu pulang seperti yang mereka katakan?" tanya Aji sambil menatap Intan.


"Gus! jangan ikut oleng seperti mereka!" Intan mengerucutkan bibirnya ketika Aji ikut menggodanya.


"Aku serius, Tan! Ayo pulang ke Jombang, kita menikah di sana," ucap Aji dengan ekspresi wajah serius.


Intan gelagapan ketika mendengar kalimat yang terucap dari bibir Aji. Ia menatap manik hitam itu untuk memastikan keseriusan atas apa yang di ucapkan oleh Aji.


"Sa-saya ... saya belum siap, Gus." Intan memutar bola matanya karena tak sanggup untuk mengucapkan jawabannya sambil menatap Aji.


"Oh, kamu tenang saja ... karena semua yang terucap tadi hanya praank!!" Aji tergelak setelah mengucapkan hal itu.


"Gus!!" sungut Intan karena kesal telah di bohongin oleh Aji, padahal dalam hatinya ia sudah berharap bahwa Aji akan memperjuangkan cintanya sampai ke pelaminan.


Aji dan kedua teman Intan sama-sama tergelak karena melihat wajah Intan yang merona karena malu. Intan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan karena tak tahan di hadapan Aji.


"Akan ada saatnya aku membawa mu pulang untuk menghadap Abah dan Ummi. Kita bisa menikah dan membina rumah tangga yang bahagia seperti mimpi yang pernah aku bangun dulu." batin Aji sambil tertawa lepas, ketika menatap wajah Intan yang masih tersembunyi di balik telapak tangannya.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️


Siap-siap masuk konflik yak😂


_

__ADS_1


_


🌷🌷🌷🌷


__ADS_2