
"Aji, setelah ini Ummi ingin berbicara denganmu! Ummi tunggu di kamar ya," ucap Ummi Sarah setelah selesai menikmati makan siang bersama.
Sikap Ummi Sarah yang tiba-tiba saja menjadi dingin, membuat suasana di ruang makan itu menjadi beku. Tidak ada yang tahu apa sebenarnya yang sudah terjadi kepada istri Kyai Yusuf itu. Ninis dan Aji pun masih menerka, perihal apa yang membuat Ummi-nya bersikap seperti itu.
"Ning, Ummi kenapa?" Intan merasa tak enak hati karena tatapan mata Ummi Sarah seperti memancarkan kilauan amarah ketika menatapnya.
"Tidak tahu, Tan. Ning juga heran, kenapa ya?" jawab Ninis setelah menghabiskan satu gelas air putih.
"Aku mau menemui Ummi dulu," ucap Aji seraya berdiri dari tempatnya.
Ninis hanya menatap kepergian Aji menuju kamar Ummi Sarah. Ia sangat penasaran karena sikap Ummi-nya itu. Namun, baru saja ia berniat menyusul Aji, terdengar suara tangis anaknya di kamar, akhirnya Ninis mengurungkan niatnya itu.
"Ning ke kamar dulu ya, Tan," pamit Ninis sebelum berlalu dari ruang makan.
Setelah semua orang pergi dari ruang makan, Intan berdiri dari tempatnya. Ia membereskan piring-piring kotor, ia membawanya ke dapur sekaligus mencucinya.
"Ehem!" Intan menghentikan kegiatannya ketika mendengar suara deheman seorang wanita di belakangnya.
Intan mengembangkan senyumnya ketika melihat wanita yang ada di balik tubuhnya. Wanita itu tak lain adalah Rahma. Buru-buru Intan menurunkan gulungan lengan gamisnya untuk menutupi tatonya.
"Perkenalkan nama saya Rahma," Rahma mengulurkan tangannya kepada Intan, tak ada senyum manis yang terlukis di wajah cantiknya.
Intan menyambut uluran tangan Rahma, ia menjabat tangan Rahma dengan diiringi senyum manis, "saya Intan," ucap Intan dengan suara yang terdengar lembut.
"Oh, dulu Mbak pernah jadi santri di sini juga kah? sepertinya kok kenal dekat dengan keluarga Ummi," tanya Rahma dengan ekspresi wajah yang sinis.
Intan bisa menangkap sebuah kebencian yang tersorot dari kedua manik hitam gadis yang ada di hadapannya itu. Intan merasa jika gadis yang ada di hadapannya itu sedang terancam karena kehadirannya saat ini, "Sepertinya dia tidak suka denganku! apa dia suka dengan Gus Aji?" gumam Intan dalam hatinya.
__ADS_1
"Iya, saya dulu santri di Al-Khadijah. Saya memang kenal dekat dengan keluarga Ummi Sarah," ucap Intan setelah beberapa detik terdiam.
"Setelah lulus dari pondok, Mbak ngajar di mana?" tanya Rahma seraya menggeser tubuh Intan, kini Rahma lah yang mencuci piring-piring kotor tersebut.
"Apa sih ini anak! Gak jelas banget!" gerutu Intan dalam hatinya. Sejujurnya ia sangat risih ketika melihat perilaku gadis yang ada di sebelahnya itu.
"Aku kerja di Tangerang," ucap Intan, ia tak lagi menggunakan bahasa yang sopan di hadapan Rahma karena menurutnya Rahma sendiri tidak punya sopan santun kepada dirinya, "aku permisi dulu," pamit Intan setelah menatap punggung Rahma dengan mata elangnya.
Rahma menghentikan kegiatannya setelah mendengar Intan berpamitan. Sejujurnya, ia sendiri takut bersikap ketus di hadapan orang yang tidak pernah ia kenal sebelumnya, tapi karena posisinya untuk menjadi menantu Ummi Sarah terancam, dengan terpaksa ia melakukan semua ini kepada Intan.
"Tunggu!" ucap Rahma yang membuat Intan menghentikan langkahnya, "jangan terlalu berharap menjadi istrinya Gus Aji! karena Ummi Sarah sudah tau jika kamu memiliki banyak tato!" ujar Rahma sambil menatap Intan.
Bagai tersambar petir di siang bolong, mungkin ini lah yang di alami Intan saat ini. Kini, ia telah menemukan jawaban dari sikap Ummi Sarah yang berubah menjadi dingin, seperti cuaca siang ini—dingin karena hujan tak kunjung reda.
Tanpa mengucap satu katapun, Intan meninggalkan Rahma begitu saja. Ada hal yang lebih penting daripada meladeni wanita berjilbab itu. Hatinya mulai resah memikirkan bagaimana sikap Ummi Sarah setelah ini.
Sementara itu, di dalam kamar yang bernuansa hijau apel itu, Ummi Sarah dan Aji sedang beradu pendapat. Aji harus memberi pengertian kepada Ummi-nya, tentang bagaimana kondisi Intan saat ini tanpa harus mengungkap rahasia besar Intan.
"Mi, tato bisa di hapus Mi," ucap Aji ketika Ummi Sarah mempermasalahkan tato yang ada di tubuh Intan.
"Ji, bagaimana kata orang-orang nanti jika kamu menikah dengan gadis bertato?" Ummi Sarah menatap Aji dengan mata yang terbelalak.
Aji menundukkan kepalanya, ia menghela napasnya dalam ketika mendengar ucapan Ummi-nya itu. Ia sangat tidak setuju dengan pendapat Ummi Sarah, "Mi, Aji menikah karena mencintai Intan. Bukan untuk menyenangkan siapapun," ucap Aji sambil menatap Ummi Sarah dengan mata teduhnya. Aji harus bisa menahan emosinya di hadapan Ummi Sarah.
"Ji, Ummi juga menyayangi Intan, tapi kalau melihat keadaannya yang sekarang, Ummi menjadi ragu." Ummi Sarah mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Perdebatan terjadi di kamar itu, tentunya bukan perdebatan penuh emosi seperti Aji dan Intan dulu. Aji terus membela Intan di hadapan Ummi Sarah, ia hanya ingin mempertahankan pilihannya.
__ADS_1
"Abah mu harus tau! Ummi akan memberitahu Abah setelah ini," ucap Ummi Sarah. Beliau sudah lelah berdebat dengan Aji tentang Intan.
"Abah sudah tau Mi. Abah merestui Aji dan Intan. Maka dari itu Aji berani membawa Intan kembali ke rumah ini." Aji menatap Ummi Sarah yang sedang duduk di sisi ranjang.
Ummi Sarah tertegun ketika mendengar ucapan Aji. Bagaimana bisa suaminya itu memutuskan hal besar seperti ini seorang diri tanpa berunding dengan beliau. Ada rasa kecewa yang menjalar dalam hati Ummi Sarah karena hal ini.
"Mi—Dari dulu Aji mencintai Intan. Sejak dia masih sekolah Aji sudah menyimpan rasa untuk dia." Aji duduk di sebelah Ummi Sarah, tatapannya pun menerawang jauh, "Aji menyesal karena dulu tidak melamar Intan sebelum Aji pergi ke Mesir." suara Aji tiba-tiba saja bergetar ketika kepingan masa lalu mulai terputar di otaknya.
"Aji tidak keberatan Mi jika harus menikahi Intan. Dia memang bukan gadis baik-baik saat ini, tapi semua itu tidak masalah. Aji sedang membantunya kembali, Mi."
"Intan sudah berusaha keras untuk kembali menjadi dirinya yang dulu Mi, dia rela merasakan rasa sakit yang teramat sangat saat melakukan penghapusan tato, Mi."
Ummi Sarah menatap putranya itu, beliau bisa melihat sebuah cinta yang besar dari pancaran mata Aji. Tapi Ummi Sarah pun tidak rela jika Aji melabuhkan hatinya kepada Intan dalam cover yang baru.
Rasa sesak perlahan menjalar ke dalam hati Ummi Sarah. Beliau benar-benar dirundung keraguan yang begitu besar. Ummi Sarah hanya ingin Aji bahagia dengan memiliki istri yang shalihah luar dan dalam.
"Ji, Ummi hanya ingin kamu mendapatkan surga yang semestinya—suci dan penuh ketentraman, bukan surga hitam seperti pilihanmu saat ini. Ummi hanya ingin melihat kamu bahagia, Nak!" ucap Ummi sarah sambil membelai rahang putranya dengan penuh kasih sayang.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
_
_
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷