
Sinar sang surya berhasil menembus tirai putih di kamar pengantin itu. Sinarnya tak mampu mengusik tidur nyenyak sepasang pengantin baru yang bergelung di bawah selimut tebal. Rasa lelah yang yang menyerang tubuh keduanya seakan menjadi belenggu agar tetap berada di alam mimpi.
Intan menelusupkan kepala di dada sang suami, ia mencari tempat nyaman untuk bersembunyi dari sinar yang mengenai wajahnya. Ia belum sadar jika saat ini tidur dirumah mertua.
Sepasang suami istri itu melewatkan waktu subuh, mereka terjaga sepanjang malam untuk menuntaskan sesuatu yang belum pernah mereka lakukan. Taburan kelopak mawar itu pun berhamburan di lantai karena sang penguasa ranjang telah menampakkan keangkuhannya tadi malam, ia menguasai medan sang istri yang menjadi miliknya.
Dering ponsel yang ada di nakas berhasil mengusik tidur nyenyak Aji. Tanpa mengubah posisinya, ia meraih ponsel itu, nama Ninis terlihat di layar ponselnya.
"Iya Ning, ada apa?" tanya Aji dengan kelopak mata yang tertutup kembali.
"Jadi, kamu belum bangun, Dik?" terdengar suara Ninis dari ponsel yang ada di telinga Aji.
"Masih terlalu pagi, Ning! aku masih ngantuk!" ucap Aji dengan suara yang berat.
"Heh Semprul! ini sudah jam sembilan pagi!" suara Ninis terdengar nyaring hingga membuat Aji langsung membuka matanya.
Aji menggeser icon merah di layar ponselnya ketika melihat jam dinding yang ada di kamarnya. Ia terkejut setelah melihat jarum jam itu sudah berada di angka sembilan pagi. Ponsel itu pun kembali diletakkan di atas nakas.
"Ya Gusti! baru kali ini aku kesiangan!" gumam Aji seraya menepuk keningnya.
Aji bingung harus berbuat apa karena tangannya menjadi bantal empuk untuk Intan. Ia tidak tega membangunkan istrinya itu karena ia bisa melihat dengan jelas gurat kelelahan di wajah imut Intan.
Aji menyibakkan selimut tebal itu dari tubuhnya dan Intan. Ia tersenyum hangat ketika melihat tubuh tanpa sehelai benangpun terpampang jelas di hadapannya. Aji teringat bagaimana pemilik tubuh itu saat mengeluarkan suara manjanya ketika terguncang dibawah kungkungannya.
"Waduh!" gumam Aji tatkala tubuhnya merasakan sinyal-sinyal yang meresahkan setelah mengamati pemandangan indah yang ada di hadapannya.
Aji mengikuti apa yang ada di kepalanya, tangannya mulai menyusuri lahan mulus itu, ia mulai bermain-main di tempat yang menjadi favoritnya akhir-akhir ini, "sudah terlanjur bangun kesiangan, mending sekalian aja!" gumam Aji sebelum melanjutkan aksinya.
__ADS_1
Tidur nyenyak Intan mulai terusik tatkala tubuhnya merasakan sinyal-sinyal datangnya banjir bandang. Ia segera membuka matanya ketika merasakan deru napas halus di sekitar wajahnya.
"Mau ngapain?" tanya Intan, ia reflek ketika melihat Aji sudah mengungkung tubuhnya.
Tanpa banyak bicara akhirnya Aji melakukan apa yang seharusnya ia lakukan saat ini. Sang penguasa ranjang kembali menunjukkan kekuasaannya hingga membuat getaran-getaran yang menimbulkan banjir bandang dalam lahan sang istri.
Beberapa menit kemudian, Intan membuka kelopak matanya tatkala guncangan itu telah berhenti. Napasnya terengah-engah karena kelakukan suaminya itu. Sekilas ia mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding. Mata belo itu semakin melebar tatkala melihat jarum jam hampir sampai di angka sepuluh pagi.
"Cepet turun, Gus!" Teriak Intan, ia panik karena saat ini ia tinggal di rumah mertua. Ia mendorong bahu Aji agar segera melepaskan miliknya.
"duh gimana ini!!" ucap Intan seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"biarkan saja! udah terlanjur 'kan!" ucap Aji dengan entengnya. Ia sibuk bermain dengan tissu yang ada di atas nakas.
"iih Gus sih!! kenapa saya gak di bangunin!" Intan semakin kesal, ia berdecak seraya duduk bersandar di headboard ranjang, "Minta tissunya, Gus!" ujar Intan.
Intan menata hatinya sebelum keluar dari kamar. Rasanya, ingin sekali ia menyembunyikan wajahnya jika nanti bertemu dengan anggota keluarga yang tinggal dirumah ini.
"udah kita biasa aja!" ucap Aji setelah siap untuk keluar kamar.
Setelah memakai pakai jilbabnya, Intan mengekor di belakang suaminya keluar kamar. Mereka berjalan menuju kamar mandi yang ada di lantai dua karena sebelum turun mereka harus mandi terlebih dahulu.
Beberapa puluh menit kemudian, mereka telah selesai membersihkan diri. Meski diselimuti rasa malu yang besar, mereka segera turun ke lantai satu. Tak bisa dipungkiri bahwa mereka butuh asupan untuk mengganti energi yang telah hilang sejak tadi malam.
"Duh!" gumam Intan sambil menutup kelopak matanya ketika melihat Ninis ada di ruang makan bersama ummi Sarah dan Nuril—putri ketiga kyai Yusuf yang tinggal di kota lain bersama suaminya.
"Selamat pagi ...." sapa Aji kepada ketiga wanita yang ada di ruang makan.
__ADS_1
"Pagi Ji," jawab Nuril seraya menahan senyum ketika melihat wajah berseri adik bungsunya itu.
Ninis hanya tersenyum setelah menatap sepasang pengantin baru itu, apalagi ketika melihat rambut basah Aji, rasanya ingin sekali ia menggoda adiknya itu.
"Ji, ajak istrimu sarapan dulu!" perintah ummi Sarah seraya menatap wajah anak dan menantunya bergantian.
"Iya Ji, kasian Intan sampai pucat loh! pasti dia lapar dan terlalu lelah!" sahut Ninis dengan tatapan penuh arti.
Intan mengalihkan wajahnya ke arah lain ketika melihat ekspresi kakak iparnya itu. Ia benar-benar malu karena bangun terlambat. Akhirnya, ketiga wanita itu beranjak dari tempatnya, mereka meninggalkan Aji dan Intan di ruang makan.
"Ya ampun!! saya malu, Gus!" ucap Intan setelah duduk di kursi kayu itu. Ia menundukkan wajahnya hingga kening mulusnya menyentuh meja makan.
"sudah terlanjur, Sayang! udahlah kita sarapan aja yuk biar kuat menghadapi mereka!" ucap Aji dengan di iringi tawa renyah setelahnya.
Intan menegakkan kepalanya setelah mendengar ucapan Aji. Ya, memang benar—jika ia harus makan yang banyak agar tenaganya lebih besar untuk menghadapi godaan dari Ninis karena balada bangun kesiangan.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
_
_
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1