
"Waalaikumsalam ...."
Aji menampilkan senyumnya yang paling manis ketika melihat keluarganya berdiri di depan pintu. Ada kedua orangtuanya, Ninis dan ketiga kakaknya yang datang ke ruangan ini.
Semua keluarga Kyai Yusuf masuk ke dalam ruangan untuk melihat kondisi Intan saat ini. Ninis tak henti menitikkan air matanya ketika melihat keadaan Intan. Rasa sedih, haru dan bahagia bercampur aduk dalam dirinya.
"kamu pengen makan apa, Tan?" tanya Ninis setelah menghapus air matanya yang membasahi pipi.
"Saya tidak ingin makan apapun, Ning," ucap Intan dengan suara yang lirih. Ia menampilkan senyum yang sangat manis karena bahagia melihat perhatian Ninis.
Ummi Sarah mendekat ke tempat Intan, beliau duduk di kursi yang ada di samping bed dengan pandangan yang tak lepas dari Intan, "bagaimana keadaanmu saat ini, Nak?" tanya ummi Sarah, kali ini tak ada lagi tatapan penuh kebencian seperti kemarin.
"Sudah lebih baik, Mi," ucap Intan dengan suara yang lirih.
Ummi Sarah mengembangkan senyumnya, beliau berusaha menahan air mata yang sudah terkumpul di pelupuk matanya, "Tan, Ummi minta maaf karena kemarin sudah salah menilaimu. Tolong maafin Ummi ya atas sikap Ummi yang membuatmu tidak nyaman," ucap ummi Sarah dengan pandangan yang tak lepas dari Intan.
Intan menitikkan air matanya ketika mendengar semua ucapan ummi Sarah, "Ummi tidak salah apapun kepada saya, jadi tidak perlu meminta maaf seperti itu, Mi." Suara Intan masih terdengar lirih.
"Saya yang minta maaf kepada ummi karena saya sudah berubah menjadi seperti ini," ucap Intan dengan air mata yang tak henti menetes.
"Terima kasih ya, Nak. Kamu sudah mengorbankan keselamatanmu demi melindungi Aji," ucap ummi Sarah seraya menggenggam tangan Intan.
Intan hanya menganggukkan kepalanya pelan karena ia tak sanggup lagi untuk mengucapkan sepatah katapun. Rasa cintanya yang besar kepada Aji membuatnya tak berpikir panjang saat melindungi Aji dari pukulan para penjahat yang menghadang mereka.
"Ji, Abah ingin membahas sesuatu yang penting denganmu, ini mungkin saat yang tepat untuk menjelaskan rencana Abah dan Ummi, mumpung semua kakakmu ada di sini." Kini abah Yusuf yang mendekat ke bed Intan, dimana ada Aji dan Ninis yang berdiri di sana.
__ADS_1
Semua yang ada di dalam ruangan mengalihkan padangan ke tempat abah Yusuf berada. Belum ada satu pun yang mengetahui rencana ummi Sarah dan Abah Yusuf.
"Abah dan Ummi merestui hubunganmu dengan Intan, Ji. Kami mengizinkan kalian berdua menikah dan membina rumah tangga sesuai yang kalian impikan selama ini," ucap abah Yusuf seraya menatap Aji dan Intan bergantian.
Seketika Aji dan Intan mengalihkan pandangannya ke ummi Sarah. Mereka berdua belum sepenuhnya percaya dengan kabar yang di sampaikan oleh abah Yusuf itu. Namun, tak lama setelah itu—senyum manis terbit dari bibir keduanya tatkala melihat ummi Sarah menganggukkan kepala dengan diiringi senyum tipis di bibirnya.
"Tapi—berhubung keadaan Intan masih seperti ini, abah ingin kalian menikah siri terlebih dahulu, kalau bisa hari ini atau paling lambat besok." Semua menajamkan pandangannya ke arah abah Yusuf karena terkejut dengan keputusan yang terlalu cepat ini.
Aji dan Intan terkejut bukan main setelah mendengar keinginan abah Yusuf, mereka berdua saling pandang tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Kenapa begitu, Bah?" sahut Gus Sholeh. Anak sulung Abah Yusuf itu belum percaya dengan keputusan abahnya itu.
"Semua ini demi kebaikan kalian berdua. Sambil menunggu Intan sembuh, abah ingin kalian memiliki hubungan yang sah di mata agama, setidaknya itu yang bisa kita lakukan saat ini agar kalian terhindar dari zina dan fitnah." Abah Yusuf menatap Aji dengan tatapan penuh makna.
Semua akhirnya menganggukkan kepalanya setelah mendengar penjelasan abah Yusuf dan ummi Sarah. Ya, memang itu lah cara terbaik yang bisa dilakukan saat ini untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.
"bagaimana, Ji?" tanya abah Yusuf seraya menatap Aji.
"Jika memang menikah siri adalah jalan yang terbaik saat ini. Maka Aji akan melakukannya, Bah. Tapi kita harus bertanya kepada Intan terlebih dahulu," Aji mengalihkan pandangannya ke arah Intan, "bagaimana Tan? apa kamu bersedia?" tanya Aji seraya menatap Intan dengan sorot mata penuh harap.
Intan termangu setelah mendengar semua rencana yang di sampaikan oleh keluarga Aji. Tentu saja semua itu adalah hal yang membahagiakan untuk Intan. Tapi di sisi lain ia masih ragu untuk melangkah, ia masih takut karena keadaannya masih seperti ini. Ia belum bisa berubah total seperti dulu. Hati dan pikiran Intan sedang berkecamuk saat ini, ia memejamkan matanya untuk berpikir sebelum melangkah lebih jauh.
"Intan bersedia jika memang ini yang terbaik. Intan berharap semua keluarga Abah dan Ummi bisa menerima keadaan Intan saat ini," ucap Intan seraya menatap ummi Sarah.
"Ummi tidak mempermasalahkan itu lagi. Semua ummi serahkan kepada Aji." ummi Sarah mengusap punggung tangan Intan dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Intan bersedia menikah siri, tapi Intan harus minta izin kepada orangtua Intan di Tangerang, karena selama ini mereka lah yang merawat Intan," ucap Intan seraya menatap Aji, ia memberikan kode agar Aji menelfon Pak Gatot.
Aji segera meraih ponsel Intan, ia mencari nomor telfon pak Gatot dan setelah ketemu, Aji segera menghubunginya. Obrolan pun terjadi di sana, Aji menyampaikan rencana yang di susun oleh keluarganya. Senyum Aji mengembang seketika tatkala mendengar jawaban dari Pak Gatot.
"Iya Pak, kalau begitu saya tutup dulu telfonnya. Hati-hati di jalan, Pak," ucap Aji sebelum memutuskan sambungan telfon bersama pak Gatot.
"Pak Gatot setuju, Tan. Beliau tidak keberatan dengan rencana kita dan saat ini beliau beserta keluarganya sedang dalam perjalanan kesini, mungkin nanti sore baru sampai," ucap Aji yang berhasil membuat Intan mengembangkan senyumnya.
"Ya sudah kalau begitu setelah ini kita semua pulang saja. Kita harus mempersiapkan acara nanti malam," ucap ummi Sarah seraya menatap keempat anaknya.
Semua yang ada di ruangan itu pun berunding mengenai rencana pernikahan yang akan di selenggarakan nanti malam. Ummi Sarah membagi tugas kepada anak-anaknya untuk membantu mempersiapkan semuanya, karena waktunya sangat lah mepet.
"Mas, tolong bantu Aji mengurus mobil yang ada di POlSEK ya," ucap Aji seraya menatap Gus Sholeh.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
_
_
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1