
"Tan, gue pulang ya! lo harus cepat sembuh biar cepet balik ke Tangerang," ucap Kinar setelah merengkuh tubuh Intan.
Intan mengembangkan senyumnya di hadapan Kinar, matanya pun mulai berembun karena tidak rela jika Kinar dan yang lainnya harus kembali hari ini. Ia mengerucutkan bibirnya di hadapan Kinar, mencoba untuk memasang wajah sok imut agar si Piranha bersedia tinggal di sini.
"udah deh! lo gak usah masang wajah sok imut! gue harus ikut Papah pulang, kasian kan bang Tommy entar harus jaga studio sendiri." Kinar memberikan pengertian kepada Intan agar saudara angkatnya itu membiarkan dirinya kembali ke Tangerang.
"gue pengennya lo balik entar sama gue," ucap Intan dengan suara yang lirih, pagi ini ia mulai bisa duduk bersandar di bednya.
Pak Gatot berdiri dari tempatnya, beliau menemui kedua putrinya yang sedang asyik berbicara. Pak Gatot harus segera pulang ke Tangerang karena masih banyak pekerjaan yang terbengkalai karena ditinggal ke Jombang untuk melihat kondisi Intan.
Akhirnya, semua anggota Pak Gatot benar-benar pamit pulang. Aji mengantarkan kepergian keluarganya sampai di depan lift, "Hati-hati, Bang, Pah," ucap Aji sebelum pintu lift tertutup rapat.
Kini Aji telah kembali ke ruangan Intan, Ia menghempaskan diri di sofa. Aji mengalihkan pandangan ke arah lengannya, di mana balutan perban masih menutup luka jahitan akibat melawan para penjahat yang menghadangnya.
"Kapan Gus kontrol?" tanya Intan setelah mengamati Aji yang sedang meraba lukanya yang ada di balik perban.
"Besok mungkin, aku juga lupa belum lihat suratnya," ucap Aji tanpa menatap Intan.
Intan mulai belajar menggerakkan kepalanya agar tidak kaku. Selang cateternya pun sudah di lepas oleh dokter, ia bisa langsung ke kamar mandi jika ingin buang air kecil. Rasa nyeri di kepalanya pun mulai hilang.
"Mau kemana?" tanya Aji setelah melihat Intan berusaha turun dari bed nya.
"Ke kamar mandi, Gus," ucap Intan ketika berhasil berdiri di samping bednya. Jujur saja rasanya sedikit aneh karena dua hari ia hanya terbaring di atas bed.
Aji segera menghampiri Intan. Ia membantu istrinya itu berjalan menuju kamar mandi. Keduanya saling pandang sebelum masuk ke dalam kamar mandi, "apa aku harus ikut masuk?" tanya Aji ketika sampai di ambang pintu.
"Saya bisa sendiri, Gus," ucap Intan sambil menatap Aji dengan wajah yang merona.
__ADS_1
"Baiklah, kalau sudah selesai panggil aku," ucap Aji sebelum berlalu dari kamar mandi.
Intan menghela napas yang panjang. Ia berjalan ke wastafel untuk melihat kondisi wajahnya saat ini, karena ia merasa wajahnya menjadi tebal dan ngilu.
"Jadi, kemarin aku nikah dengan wajah yang bonyok seperti ini?" gumam Intan setelah melihat pantulan wajahnya di cermin yang ada di atas wastafel. Ia mengusap pelan wajahnya yang memar, "aww!" Intan meringis kesakitan.
Setelah beberapa saat berdiam diri di depan cermin, Intan segera menuntaskan apa yang sedang bergejolak di dalam perutnya. Ia duduk di atas closet sambil mencari inspirasi seperti biasanya. Namun, kali ini ada yang kurang dari rutinitas wajibnya—tak ada kepulan asap rokok seperti biasanya.
Hampir dua puluh menit Intan menghabiskan waktunya di dalam kamar mandi. Kini ia telah selesai dengan segala aktivitas di sana. Wajahnya terlihat segar setelah dua hari tak tersentuh air.
"astaga!!" Intan terkesiap tatkala melihat Aji berdiri di depan pintu kamar mandi.
"aku kira kamu pingsan di dalam," seloroh Aji seraya menyentuh lengan Intan. Ia membantu Intan kembali ke atas bednya.
"Kamu istirahat ya, aku mau ngecek tugas yang masuk hari ini," ucap Aji setelah membantu Intan kembali berbaring di atas bed pasien.
Detik demi detik terus berlalu, jarum jam sudah berada di angka sebelas siang. Namun, Intan belum bisa tidur sedetikpun, matanya terus menyapu isi ruangannya, sekali lagi tatapannya menangkap sosok yang masih betah duduk di sofa dengan pandangan fokus ke laptop.
Intan mengembangkan senyumnya, ketika teringat saat dirinya berada di ambulance. Bisa-bisanya ia minta kecupan kepada Aji saat di hadapan Ummi Sarah. Saat itu Intan tak memiliki harapan selamat karena rasa sakit yang ada di kepalanya begitu hebat. Rasanya sampai tidak bisa di gambarkan lagi.
"kenapa senyum-senyum sendiri, Tan?" tanya Aji setelah melepas kaca mata baca nya. Ia beranjak dari tempat duduknya karena semua pekerjaan telah selesai.
Intan gelagapan karena tiba-tiba mendengar suara Aji, ia hanya tersenyum tipis setelah melihat Aji berjalan ke arahnya. Kini Intan menatap wajah yang sangat dekat dengannya itu.
"Ada apa? kamu ingin makan sesuatu?" tanya Aji seraya menatap wajah tanpa polesan make up itu.
"Saya bosan berada di ruangan ini, Gus. Saya mau pulang saja," ucap Intan dengan bibir yang mengerucut setelahnya.
__ADS_1
"Sabar, kalau sudah sembuh pasti pulang kok," ucap Aji dengan tangan yang terulur ke wajah istrinya itu, ia bermain-main dengan poni yang menutupi kening Intan.
"Emmm ... tapi nanti pulang ke Tangerang ya, Gus. Saya tidak mau berlama-lama di Jombang," ucap Intan yang membuat Aji mengernyitkan keningnya.
"Memangnya kenapa?" Aji penasaran dengan alasan istrinya itu.
"Saya tidak suka dengan gadis bernama Rahma, Gus!" Intan menghela napas panjang setelah itu, "dia sepertinya suka sama Gus," lanjut Intan dengan ekspresi wajah yang masam.
Aji mengembangkan senyumnya ketika melihat dengan jelas kecemburuan yang tersorot di mata belo itu. Aji bersorak-sorai dalam hatinya ketika mengetahui bagaimana rasanya dicintai.
"aku tidak perduli meski dia suka sama aku, kamu tidak usah memikirkan hal itu, karena hanya kamu yang ada di sini," ucap Aji seraya mengarahkan tangan Intan ke dadanya.
Intan memejamkan matanya, ia merasakan debaran yang ada di dada Aji. Intan memberanikan diri untuk menjelajah dada itu dengan jari-jarinya, "nama saya tertulis di sebelah mana, Gus?" tanya Intan dengan pandangan yang tak lepas dari Aji.
"Aku tidak perlu menulis namamu, aku hanya perlu menyebut namamu dalam doaku," ucap Aji seraya menggenggam tangan Intan.
Intan menampilkan senyum manisnya setelah mendengar jawaban singkat dari suaminya itu. Rasanya ia ingin berteriak untuk melepaskan rasa bahagia yang memenuhi hatinya. Selama ini ia tidak pernah tau bagaimana rasanya pacaran atau sekedar PDKT dengan pria lain. Baru kali ini ia mendengar kalimat romantis yang membuatnya terbang melayang. Bunga-bunga cinta semakin bermekar indah di hatinya setelah mendapat siraman kasih yang begitu deras dari Ajisaka.
"Jadi seperti rasanya di gombalin pacar—pacar halal yang di kirim Tuhan," gumam Intan dalam hatinya.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
_
__ADS_1
_
🌷🌷🌷🌷🌷