Surga Hitam

Surga Hitam
Kado dari Aji,


__ADS_3

Cinta telah memberikan warna dalam gelapnya jiwa gadis yang memiliki tato mawar di tangannya. Hati yang pernah layu karena hilang keyakinan bahwa sang pemilik hati telah pergi, kini perlahan merekah kembali. Kepingan hati yang sempat tercecer entah di mana, sekarang mulai terbentuk seperti empat tahun yang lalu.


Hari-hari yang di lalui Intan mulai berwarna, ia seakan menemukan sinar dalam lembah yang gelap. Setitik harapan kembali hadir dalam hatinya, ia telah menemukan jalan untuk kembali pulang.


Sejak bertemu Aji satu minggu yang lalu atau lebih tepatnya saat pembukaan FAST Cafe, Intan kembali merasakan kehangatan di hatinya. Senyum hangat dan perhatian Aji seakan membuatnya terbang ke nirwana. Hati yang sempat kosong kini mulai di penuhi bunga-bunga cinta dari Ajisaka.


"Tan, entar ikutan Bang Tommy dugem yuk!" ajak Kinar setelah melihat Intan baru saja menyelesaikan pekerjaan nya. Satu tulisan huruf latin terukir indah di tangan seorang pria bertubuh kekar.


Intan menegakkan tubuhnya, ia menatap Kinar sekilas sebelum membereskan alat-alat tempurnya. Ia beranjak dari sana dan berlalu ke tempat sterilisasi mesin tato, "sepertinya kali ini gue gak bisa ikut deh," ucap Intan seraya mengalihkan pandangannya ke arah Kinar.


"Tumben?" sahut Tommy yang sedang membongkar mesin tato nya yang rusak.


"Mungkin dia mau kencan sama Mas Ustadnya, Bang," seloroh Kinar seraya melirik Intan yang hanya menampilkan senyum tipis di wajahnya.


"Intan ada urusan, Bang. Lain kali aja Intan ikut," ucap Intan setelah selesai membersihan peralatannya.


Intan berjalan ke tempat Tommy berada, ia duduk di bangku panjang yang ada di balik etalase, Kinar pun ikut menghempaskan diri di sana. Gelak tawa para Tatto Artist terdengar renyah di dalam studio ketika Kinar terus menggoda Intan.


"Cie ... cie ... wajahnya merah, cie si Komodo sedang malu." Kinar berkelakar ketika melihat Intan tersipu.


"Apaan si lo!" Intan menyebikkan bibirnya dengan pandangan yang tak lepas dari Kinar.


Suasana semakin ramai tatkala Tommy ikut menggoda Intan. Malam ini Intan lah yang menjadi bahan candaan mereka karena sedang kasmaran. Raut wajah bahagia terlihat jelas dari pancaran mata bulatnya.


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...


Malam mulai merangkak naik, penunjuk waktu sudah berada di angka sebelas malam. Jalanan Ciputat mulai sepi dari deru kendaraan yang berlalu-lalang. Sebuah mobil Jeep berhenti di depan rumah yang ada di ujung gang.


"Makasih, Bang," ucap Intan setelah menutup pintu mobil yang di kendarai Tommy.


"Lu yakin gak ikut kita?" Kinar melongakkan kepalanya keluar dari jendela mobil.

__ADS_1


"Iya, next time aja lah gue ikut," ucap Intan. Hari ini studio tutup lebih awal karena Tommy ada undangan party di club temannya.


Intan berdiri di halaman kontrakan sampai mobil jeep itu menghilang dari pandangannya. Ia mengayun langkah menuju kontrakannya. Namun, langkahnya harus terhenti karena ada kotak kado berukuran besar ada di depan pintu kontrakannya.


Intan mengambil kertas kecil yang tertempel di bagian atas kotak kado itu. Senyum manis kembali merekah dari bibirnya tatkala membaca isi pesan yang tertulis di sana.


Membuka kotak ini hukumnya fardhu ain!


Meskipun tidak ada nama pengirim yang tertulis di sana, tapi Intan sudah tau siapa yang mengirim hadiah ini. Intan segera membuka pintu kontrakannya dan tak lupa membawa kotak kado itu ke dalam rumah.


Intan bergegas pergi ke kamar untuk melihat hadiah pemberian dari Aji. Perlahan, Intan membuka tutup box itu dengan hati-hati karena ia belum tau apa isi yang tersimpan di sana.


Sentuh aku dan pakailah untuk menutupi rambut indahmu.


Intan membaca tulisan yang tertempel di paper bag kecil bermotif bunga sakura, ia membuka paper bag itu dan mengeluarkan isinya. Ternyata, ada tiga kerudung berwarna hitam, merah marun dan hijau army di dalam paper bag itu.


"Jadi, Gus Aji menyuruhku memakai hijab lagi?" Intan bergumam. Ia meletakkan tiga kerudung itu dan membuka lagi paper bag berikutnya.


Intan terus mengembangkan senyumnya ketika membaca tulisan yang tertempel di bagian depan paper bag itu, lalu ia segera membuka paper bag yang kedua dengan antusias. Ada tiga tunik dengan motif dan warna yang berbeda.


"Gus ternyata tau bagaimana seleraku." Intan bermonolog sambil memandang tiga tunik yang berjajar rapi di atas ranjangnya. Intan tidak pernah menyangka jika Aji memiliki sisi romantis ketika memberikan kado untuknya.


Sebuah rasa aneh menggelitik hatinya, entah mengapa, tiba-tiba saja Intan ingin mencoba barang-barang pemberian dari Aji. Ia segera mencari celana yang cocok di padukan dengan tuniknya.


Suara ponsel yang berdering di atas meja, membuat Intan beranjak dari hadapan cermin. Ia baru saja selesai memakai kerudung berwarna hitam yang di padukan dengan tunik berwarna cream. Intan segera menggeser icon hijau setelah melihat foto sang ustad muda di layar ponselnya.


"Subhanallah ...." ucap Aji ketika Intan mengangkat panggilan videonya.


"Assalamualaikum, Gus." Intan mengucapkan salam sambil menahan senyumnya ketika melihat ekspresi wajah Aji.


"Waalaikumsalam, Ta ... eh Tan!" Aji terkesima melihat Intan yang sedang memakai kerudung pemberian darinya.

__ADS_1


"Aku tidak memaksa kamu untuk memakai hijab, aku hanya ingin memberikan itu karena kemarin kamu bilang tidak punya kerudung." Aji menjelaskan maksudnya agar Intan tidak salah paham.


"Emmh ... saya suka semua kadonya, Gus. Terima kasih," ucap Intan dengan bola mata yang bergerak ke kiri dan kanan. Ia terlalu takut untuk melihat sorot mata Aji yang terfokus kepadanya.


"Alhamdulillah kalau kamu suka." Sungguh, terlihat jelas senyum manis Aji di layar ponsel Intan.


Intan terus mengembangkan senyumnya ketika ngobrol bersama Aji. Meskipun ia sudah berubah menjadi sosok yang gelap, tapi ia tetap merasa salah tingkah jika mendapat perhatian lebih dari Aji.


Perasaan cinta semakin menggebu dalam diri Intan, membuatnya lupa bahwa dia bukan lagi Tata---si gadis putih dengan semerbak kasturi yang menyelimuti. Kini hanya ada sosok Intan dalam kegelapan dengan aroma alkohol yang mendominasi.


"Tan, boleh saya minta satu permintaan?" tanya Aji setelah ngobrol hal-hal receh dengan Intan.


"Silahkan, Gus." Intan memandang aji dari layar ponselnya dengan hidung yang kembang kempis karena menahan tawa.


"Hari jumat pakailah kado pemberian dariku, aku hanya ingin melihat Tata-ku yang dulu walau hanya sebentar saja," ucap Aji dengan wajah penuh harap. Hari Jumat Aji mengajak Intan untuk bertemu di salah satu cafe yang ada di dekat kampus, tempat Aji mengajar.


"Nanti saya pikirkan lagi, Gus." Intan mengalihkan pandangannya ke arah lain ketika Aji mengucapkan permintaannya, "Emm, maaf Gus, saya mau istirahat dulu ya, Assalamualaikum!" Tata menutup telfonnya begitu saja tanpa persetujuan dari Aji.


Intan merebahkan dirinya di atas ranjang tanpa membuka kerudungnya. Ia menatap plafon kamarnya sambil memikirkan permintaanya Aji yang sangat berat untuk dilakukannya. Helaian napas berat terdengar di dalam kamar itu karena rasa sesak yang ada di dada.


"Haruskah aku mengabulkan permintaan Gus Aji? rasanya sangat berat jika aku harus mengingat kembali sosok itu!" Intan bergumam dengan mata yang tak beralih dari langit-langit kamar.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ๐Ÿ˜โ™ฅ๏ธ


_


_.

__ADS_1


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


__ADS_2