
Aji buru-buru keluar dari kamar mandi setelah mendengar suara teriakan sang istri. Ia meraih botol berisi air putih yang diisi sebelum ia masuk ke kamar mandi. Perasaan tidak enak mulai menghantui pikiran Aji ketika sekali lagi ia mendengar Intan berteriak minta tolong. Aji berlari dari dapur dan seketika langkahnya terhenti di depan pintu ketika melihat kejadian yang ada di sisi gazebo.
"Ya Allah!" botol yang ada di genggaman Aji pun terlepas dari tangannya. Ia berlari untuk menolong istrinya yang sedang terancam.
"Ning! hentikan!" teriak Aji setelah sampai di belakang tubuh iparnya itu. Ia menarik tubuh Firda agar menjauh dari istrinya.
Firda terjerembab ke belakang karena Aji menariknya sangat kuat. Firda kembali berdiri dan berniat untuk menyerang Intan yang sedang bersembunyi di balik tubuh suaminya.
"Ning!! astagfirullah!" teriak Aji ketika Firda berusaha meraih rambut Intan.
Aji reflek mendorong tubuh kakak iparnya itu agar menjauh dari istrinya. Aji tidak bisa berpikir jernih saat ini karena takut terjadi sesuatu dengan istrinya. Ia mendorong Firda hingga terjerembab di atas paving karena terus-terusan menyerang istrinya.
"Bah, tolong Bah!" ujar Aji ketika melihat kedua orangtuanya keluar dari pintu samping.
Kyai Yusuf berlari untuk menghentikan menantunya itu sedangkan ummi Sarah menenangkan keempat cucunya, beliau membawa masuk anak-anak Sholeh masuk ke dalam rumah. Tak lama setelah itu Aslam pun datang setelah mendengar keributan yang ada di rumah orangtuanya, ia pun terkejut ketika melihat abahnya berusaha menarik Firda.
"Ji, bawa istrimu masuk!" perintah Aslam setelah ia berdiri di belakang tubuh Firda. Ia membantu kyai Yusuf menghalangi Firda agar tidak mengejar Intan yang sedang dipapah oleh Aji.
"Heh wanita tak tahu malu! mau kemana kau! ayo lawan aku kalau berani!" teriak Firda saat melihat Intan semakin menjauh.
"Firda!! sadar, Nak!" teriak kyai Yusuf seraya menatap wajah menantunya itu. Beliau meraih telapak tangan Firda dan mencengkram pangkal jari manisnya dengan kuat. Ini lah salah satu cara agar mengetahui seseorang benar-benar kesurupan atau hanya berpura-pura.
"aduh!" keluh Firda ketika merasakan nyeri di jari manisnya.
__ADS_1
Wajah kyai Yusuf berubah serius kala mengetahui Firda tidak kesurupan. Kejadian yang baru saja terjadi ternyata dilakukan Firda secara sadar. Kyai Yusuf memberikan isyarat agar Aslam membawa Firda duduk di gazebo.
"Panggil Mas mu kemari!" perintah kyai Yusuf seraya menatap Aslam.
"Mas dari kemarin di rumah keduanya, Bah," jawab Aslam tanpa melepas tangan Firda.
"Telfon dan suruh dia pulang sekarang juga!" suara yang biasa terdengar menenangkan itu kini terdengar menakutkan, "katakan kepada Mas mu jika abah ingin bicara penting hari ini juga!" lanjut kyai Yusuf tanpa melepaskan tatapannya dari Firda.
Tatapan mata Firda terlihat kosong, air matanya mengucur deras, entah apa yang membuat keadaannya menjadi seperti ini. Perasaan kyai Yusuf sendiri bercampur aduk tak karuan melihat kekacauan yang terjadi. Beliau benar-benar pusing melihat kedua menantunya yang tak bisa akur itu.
"Kenapa kamu bersikap seperti ini?" tanya kyai Yusuf dengan suara yang berselimut amarah.
Firda hanya diam tanpa mengalihkan pandangannya, ia bersandar di tiang gazebo masih dengan tatapan yang kosong. Aslam mengusap wajahnya kasar ketika melihat keadaan kakak iparnya. Ia mencoba menerka apa kiranya yang sedang terjadi. Tatapan matanya mulai menyapu apa yang ada di sekitar halaman luas tersebut, ia melihat CCTV yang terpasang di atas pintu dapur dan di atas pintu samping. Akhirnya, ia bisa menemukan jalan untuk mengetahui kejadian pagi ini.
"Astagfirullah!" gumam kyai Yusuf.
***
Tubuh Intan bergetar dalam dekapan Aji. Ia masih shock karena kejadian yang baru saja menimpanya. Intan tergugu dalam dekapan hangat sang suami. Ia benar-benar takut saat ini.
"Jangan menangis lagi, maaf karena aku lalai menjagamu," gumam Aji dengan suara yang lirih. Ia mengusap rambut Intan yang berantakan.
Aji tak habis pikir dengan istri kakaknya itu, bagaimana bisa istrinya yang sedang hamil tua diserang tanpa ampun. Rasanya Aji tidak bisa memaafkan perbuatan yang dilakukan Firda pagi ini apalagi jika terjadi sesuatu dengan kandungan istrinya. Aji merogoh ponsel yang ada di saku celananya, ia harus menghubungi Ninis agar bisa membantunya untuk mengembalikan psikologis sang istri.
__ADS_1
"Firda itu sudah gila, Mas!" ujar Intan di sela-sela isak tangisnya, "saya tidak melakukan apapun, Mas! tiba-tiba saja saya diserang dari belakang!" akhirnya Intan membuka suaranya.
"nanti aku akan bicara dengan mas Sholeh dan abah, kamu tidak usah takut!" Aji mencoba untuk menenangkan Intan.
Intan mengurai tubuhnya lalu ia merebahkan diri di atas ranjang, mencari tempat nyaman untuknya saat ini. Perutnya terasa tidak nyaman, mungkin karena gerakan spontan yang ia lakukan tadi.
"Mas, jangan kemana-mana ya!" pinta Intan dengan sorot mata penuh harap, "saya takut dia masuk kamar ini saat Mas di luar," keluh Intan.
"Ning Firda tidak akan mungkin masuk kesini, pasti abah akan melakukan sesuatu," ucap Aji seraya mengusap perut bawah Intan.
Suasana kamar mendadak sepi karena keduanya sibuk menyelami pikiran masing-masing. Mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi kepada Firda. Mungkin kah istri pertama Sholeh itu kesurupan atau sedang depresi karena hidupnya tak sebahagia Intan saat ini? ya, itu lah yang menjadi angan-angan Intan.
"Amit-amit jabang bayi ... semoga kamu tidak mendengar apa yang sudah terjadi, Nak! jangan sampai kamu mendengar ucapan kotor budemu tadi," batin Intan seraya mengusap perutnya beberapa kali,
π·Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka β₯οΈππ·
ββββββββββββββββ
Rekomendasi cerita keren untuk kalian nih, sambil nunggu aku update bolehh dong mampir kesini duluππ
π·π·π·π·
__ADS_1